Sultan Agung Film Biopik, tetapi Bukan Sejarah Faktual
Cuplikan trailer film Sultan Agung: Tahta, Cinta, Perjuangan (Foto: YouTube Film Sultan Agung)
Jakarta: Sutradara Hanung Bramantyo dan produser BRA Mooryati Soedibyo membuat film biopik terbaru berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Kendati naskahnya ditulis berdasarkan catatan sejarah mengenai Sultan Agung atau Sultan ketiga Mataram di Jawa abad ke-17, Hanung menyebut bahwa alur cerita film merupakan interpretasi dia bersama para produser dan penulis naskah.

"Sebenarnya saya enggak tahu aslinya seperti apa karena kita tidak tahu – karena yang tertulis di Babad Tanah Jawi dan Babad Sultan Agung itu isinya sangat normatif. Sultan Agung adalah putranya ini, diangkat, kebijakannya ini," tutur Hanung saat ditemui usai press screening Sultan Agung di XXI Epicentrum Jakarta, Minggu malam, 12 Agustus 2018.

"Kalau kami memfilmkan itu, akan lempeng sekali, sementara film butuh konflik. Nah alasan kenapa ini, kenapa itu, kami bikin. (Misalnya), kenapa Sultan Agung memerintah penyerbuan ke Batavia tetapi dia enggak ikut," lanjut Hanung, sebelum menerangkan situasi yang terjadi dalam film. 

Film ini juga mengikuti lusinan tokoh di sekitar Sultan atau RM Rangsang (Marthino Lio & Ario Bayu) sejak masih berguru di padepokan hingga diangkat menjadi Sultan ketiga Mataram. Menurut Hanung, beberapa nama tokoh dibuat fiksi, seperti Lembayung (Putri Marino & Adinia Wirasti), Kelana (Teuku Rifnu Wikana), dan Notoprojo (Lukman Sardi). 

"Sebetulnya itu tokoh asli, tetapi namanya kami samarkan karena mereka pengkhianat. Kita tidak pernah tahu apa alasan mereka berkhianat. Kita juga tidak boleh menampilkan hitam putih di dalam film. Kalau di Babad, jelas disebutkan nama-namanya ini. Bahkan di Makam Imogiri, itu ada kuburannya di tangga, disebutkan orangnya siapa, tetapi kami tidak mau menggunakan itu karena ya etika kami saja," ungkap Hanung. 

Hanung juga menyebutkan sejumlah contoh adegan lain yang tak bisa dipastikan benar secara faktual, tetapi mereka masukkan karena "setidaknya ada yang menulis tentang itu". 

"Kita tidak sedang membuat tesis sejarah. Kita sedang membuat film sejarah," ujarnya. 

Sultan Agung disutradarai Hanung dan Wijanarko alias X-Jo dengan naskah tulisan BRA Mooryati Soedibyo, Ifan Ismail, dan Bagas Pudjilaksono. Mooryati juga menjadi produser bersama RA Putri Kuswisnuwardhani dan Haryo Tedjo Baskoro dalam bendera Mooryati Soedibyo Cinema. 

Syuting dilakukan selama 40 hari dan melibatkan sekitar 500 ekstras di Studio Alam Gamplong, Sleman. Proses riset efektif berjalan selama tiga sampai empat bulan dengan lima buku referensi. Tim juga melibatkan sejumlah sejarawan dari Yogyakarta dan Solo. Beberapa buku antara lain Puncak Kekuasaan Mataram karya HJ de Graaf, Babad Sultan Agung, serta Babad Tanah Jawi. 

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta akan dirilis di bioskop pada 23 Agustus 2018.
 

(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id