Jumpa pers restorasi film Kereta Api Terakhir (Foto: ist)
Jumpa pers restorasi film Kereta Api Terakhir (Foto: ist)

Sempat Sulit Dicari, Film Kereta Api Terakhir Berhasil Direstorasi

Elang Riki Yanuar • 18 Desember 2019 20:40
Jakarta: Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali melakukan restorasi film. Yang terbaru, film Kereta Api Terakhir. Pusbang Film sebelumnya sudah merestorasi tiga film yaitu, Darah dan Do'a (2013), Pagar Kawat Berduri (2017) dan Bintang Ketjil (2018).
 
Film Kereta Api Terakhir dipilih untuk direstorasi karena dianggap oleh kurator sebagai salah satu film kolosal yang epik pada masanya. Film yang tayang pada 1981 ini dulu mengisahkan tentang perjuangan revolusi tahun 1945-1947 yang diangkat dari novel karya Pandir Kelana.
 
"Film ini merupakan bagian dari salah satu sejarah perfilman Indonesia, konon pada 1981 film ini sangat epik. Kedua, masalah materi hingga akhirnya patut diselamatkan. Karena ini kepemilikan barang ini adalah milik negara ada PFN dan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api)," ujar Rizka F Akbar dari PT. Render Digital Indonesia atau pihak yang mengerjakan proses restorasi di Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Butuh waktu hingga enam bulan untuk merestorasi film yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ini. Kesulitan yang dihadapi justru ketika mencari sumber asli film yang dibintangi WD Mochtar, Deddy Sutomo, Rizawan Gayo, Pupung Harris dan Gito Rollies ini. Tim restorasi justru mendapat materi film ini dari seorang pengusaha layar tancap.
 
"Kami merasa film ini harus diselamatkan. Jadi kami harus cari materinya. Akhirnya ketemu di pengusaha layar tancap yang memang ada koleksi film-film lama. Akhirnya kami kerjasama," ucapnya.
 
Rizka mengakui, kondisi penyimpanan film Kereta Api Terakhir ketika ditemukan jauh dari ideal. Namun, dia dan tim berusaha semaksimal mungkin mengembalikan kondisi film sebaik-baiknya agar bisa ditayangkan untuk penikmat film masa kini.
 
"Waktu lihat kondisi fisiknya, kami pikir masih oke. Lalu kami masukkan mesin scanning dan membandingkan dengan tempat lain seperti di Youtube. Untungnya ada teknologi yang bisa melihat yang tidak bisa kita lihat. Jadi kami bisa menggali warna yang tidak keliatan. Intinya film-film lama itu kami bisa dikembalikan ke aslinya. Tinggal prosentasenya saja," kata Taufiq Marhaban yang menjadi tim restorasi.
 
Setelah berhasil direstorasi, film Kereta Api Terakhir bakal dipergunakan untuk keperluan belajar para mahasiswa dan komunitas film. Kepala Pusbang Film Maman Wijaya berencana mencari film-film lawas lain untuk direstorasi.
 
"Semua film yang sudah direstorasi semua digunakan oleh teman-teman di perguruan tinggi yang tentu kaitannya untuk belajar kebudayaan," kata Maman.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan