Dalam operasi tersebut, sebanyak 36 sandera berhasil diselamatkan oleh awak kapal perang KRI Karel Satsuitubun-356. Misi penyelamatan itu dipimpin langsung oleh Laksamana Madya TNI (Purn.) Achmad Taufiqoerrochman yang saat itu bertugas sebagai komandan operasi.
Taufiqoerrochman mengungkapkan bahwa film ini bermula dari gagasan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali. KSAL disebut ingin kisah heroik tersebut menjadi inspirasi sekaligus edukasi bagi masyarakat luas.
"Kalau cerita, jadi mungkin ini diawali dengan inisiatif Kasal untuk mengangkat kisah ini menjadi film ya. Ditugaskanlah produser dengan sutradara ke tempat saya, ke Sukabumi itu. Kemudian saya cerita, ya dari cerita melengkapi dari buku, dibuatlah skrip," kata Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman di Jakarta.
Dalam proses pengembangan cerita, penyusunan skenario melibatkan langsung pihak yang memahami detail sejarah operasi tersebut. Selain Taufiqoerrochman, Kepala Dinas Sejarah Angkatan Laut (Kadisjarahal) Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana turut membantu memastikan akurasi fakta.
Keduanya berusaha menjaga agar film ini tidak keluar dari peristiwa asli, namun tetap menarik untuk dinikmati penonton bioskop. Mereka juga menangkap pesan KSAL agar film ini bisa menjadi tontonan yang menghibur sekaligus memberi wawasan tentang tugas prajurit di laut.
"Jadi kami akan padukan bahasa operasi dengan bahasa sineas. Ketemulah itu. Makanya saya tahu persis itu yang dilaksanakan. Kemudian kami tulis, saya sendiri yang nulis itu ya, kemudian diolah oleh sutradara," jelas Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman.
Taufiqoerrochman menyadari film layar lebar membutuhkan unsur dramatik agar tidak terasa seperti dokumenter sejarah. Ia pun memberikan ruang bagi tim kreatif untuk merangkai adegan, selama inti kejadian dan garis besar operasi tetap dipertahankan.
"Kalau murni cerita saya kan dokumenter gitu, bukan lagi tontonan, nanti di museum saja gitu. Tapi karena untuk di bioskop, maka saya serahkan ke insan perfilman. Saya kan enggak tahu, tapi saya kasih garis merahnya ini," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi prajurit TNI AL saat menjalankan operasi di wilayah perairan. Menurutnya, medan laut berbeda jauh dibandingkan daratan karena tidak memiliki batas wilayah yang terlihat jelas.
"Laut itu agak unik gitu ya. Kalau di darat ada batas wilayah, makanya demarkasi kan, ada mark gitu, ada tugu, ada dan sebagainya. Kalau di laut ada enggak tuh? Maka adalah delimitasi. Jadi pembatasan di sini, di sini koordinat sekian gitu kan," paparnya. Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman.
The Hostage's Hero sendiri mengusung genre drama aksi militer dan mengambil latar situasi mencekam di atas kapal MT Pematang yang dikuasai perompak bersenjata. Cerita film menyoroti bagaimana strategi penyelamatan dirancang dalam kondisi genting dan penuh risiko.
Film ini menampilkan sosok Letkol Taufiq yang digambarkan sebagai perwira cerdas dan berani dalam memimpin timnya. Dengan taruhannya nyawa 36 sandera, misi penyelamatan tersebut harus dilakukan cepat sebelum situasi berubah lebih buruk.
Film ini dibintangi Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Asri Welas, Bang Tigor, Aditya Herpavi, Chocky Sitohang, Ritassya Wellgreat, dan Brata Santoso. The Hostage's Hero dijadwalkan tayang di bioskop mulai 2 April 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News