Sebelum proses produksi dimulai, seluruh konsep film telah dirancang secara detail. Wregas dan Siera juga melakukan riset mendalam mengenai berbagai pesta kerasukan yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Dari riset itu, muncul rasa penasaran dalam diri Wregas untuk merasakan pengalaman kerasukan secara langsung.
"Kami meriset berbagai macam pesta kerasukan di seluruh Indonesia. Dan pada saat itu, aku nanya ke Siera, ‘boleh gak aku ikut nyobain kerasukan?’, karena banyak penonton di situ yang tiba-tiba nonton dan udah makan sehari sebelumnya, bisa masuk,” kata Wregas.
Namun, keinginan tersebut akhirnya tidak terwujud. Siera melarangnya karena khawatir hal itu akan berdampak pada jalannya proses syuting.
“Siera bilang, ‘Gas, ntar lo kalau kecanduan, ntar di tengah syuting lo minta, gue susah mensupply lo, mensupply lo pakai pesta sambetan.’ akhirnya gak boleh,” lanjutnya.
Tantangan terbesar justru datang dari kebutuhan adegan pesta sambetan yang memerlukan jumlah figuran sangat besar. Wregas mengakui bahwa mengatur extras dalam skala ribuan bukanlah pekerjaan mudah.
“Tantangan terbesar sebenarnya ada di extras. Ini adalah extras terbanyak dari film-film yang pernah aku lakukan sebelumnya. Extrasnya mencapai 1.000 orang,” kata Wregas.
Ia menjelaskan bahwa film ini memiliki beberapa adegan pesta sambetan yang menuntut pengaturan massa secara detail. Situasi tersebut membuat proses produksi menjadi lebih kompleks karena harus membagi fokus antara pengaturan pemain tambahan dan teknis pengambilan gambar.
“Gitu, jadi pesta sambetan 1, pesta sambetan 2, pesta sambetan 3 tuh extras-extras, itu ya kayak, ‘Wah ternyata tantangan banget ya.’,” ujarnya.
Dalam proses produksi, Wregas juga sempat dihadapkan pada dilema terkait penggunaan kamera. Ia harus memilih antara jumlah figuran yang banyak dengan kamera terbatas, atau jumlah kamera lebih banyak dengan figuran yang lebih sedikit.
“Makin lama pasti tentunya ada obrolan ya, kayak ‘Gas lo pilih salah satu nih, lo mau extrasnya banyak tapi kamera lo cuma dapet satu, atau kamera lo banyak tapi extras lo cuma gue kasih 100 orang?’” kata Wregas.
Pada akhirnya, Wregas memutuskan untuk mempertahankan jumlah figuran yang besar demi menghadirkan suasana yang lebih realistis, meski harus mengurangi jumlah kamera yang digunakan.
“Dan gue mending extras gue banyak, kamera gue satu.’ Terus ya sudah kompromis satu-satu dan akhirnya nemu titik tengah,” lanjutnya.
Lewat kompromi tersebut, Wregas berhasil menemukan keseimbangan antara kebutuhan visual dan skala adegan, demi menghadirkan pengalaman yang lebih nyata dan kuat di layar.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News