Kemiripan Film 'Ouija' dan 'Jelangkung'

Triyanisya • 29 Oktober 2014 16:37
medcom.id, Jakarta: Prestasi film "Ouija" menduduki puncak tangga box office terbilang gemilang. Film garapan sutradara Stiles White yang hanya bermodalkan USD5 juta (Rp60,4 miliar) itu mampu meraup USD20 juta (Rp241,9 miliar) pada pekan pertama penayangan.
 
Film horor yang bercerita tentang ouija, papan pemanggil arwah, ini sekilas mengingatkan dengan kesuksesan film lokal "Jelangkung" yang dirilis pertengahan Desember 2001.
 
Film "Jelangkung" berbiaya produksi Rp400 juta dengan biaya total Rp1 miliar. Film garapan sutradara Rizal Mantovani dan Jose Poernomo ini tercatat telah ditonton 1,3 juta penonton di layar bioskop, dengan total penonton mencapai 5,7 juta orang.

Pendapatan yang mereka raih mencapai sekitar Rp5 miliar rupiah. Hingga 2008, "Jelangkung" memimpin sebagai film dengan penonton terbanyak di seluruh Indonesia hingga akhirnya dikalahkan "Laskar Pelangi" pada 2008.
 
Baik "Ouija" maupun "Jelangkung" (secara internasional dikenal dengan judul "The Uninvited") sama-sama menceritakan permainan memanggil arwah yang dilakukan sekelompok remaja untuk menjawab sebuah teka-teki tentang kematian.
 
Bedanya, ouija menggunakan papan yang terdapat huruf abjad mulai dari A sampai Z, dan nomor 0 sampai 9, juga kata "yes", "no", "home", dan "good bye." Pemain juga harus menyiapkan koin atau uang logam yang bisa dijadikan sebagai petunjuk.
 
Sedangkan, permainan jelangkung mengharuskan pemain menyiapkan gayung yang terbuat dari batok kelapa, diberi pakaian dan juga ranting atau batang kayu yang diikatkan alat tulis seperti kapur atau pulpen di ujungnya. Kedua permainan ini tidak boleh dimainkan sendirian, harus bersama-sama, tapi juga tidak boleh terlalu ramai. Saat memainkannya harus berada di tempat remang.
 
Kemiripan Film Ouija dan Jelangkung
 
Kesuksesan komersial film "Jelangkung" dianggap telah menghidupkan perfilman horor di Indonesia, terutama karena saat dirilis, film dengan tagline "Datang tak dijemput, pulang tak diantar" ini tidak lagi bertumpu pada klise wajah seram hantu pada umumnya. Namun, lebih pada unsur ketegangan melalui gerak kamera, efek spesial, dan lokasi yang asing.
 
Film ini juga dikenal telah mengusung ide baru dalam film Indonesia karena mengolah musik pop dan kehidupan remaja modern dalam alur ceritanya. Melalui film ini juga muncul legenda-legenda urban dari daerah Jakarta, seperti hantu rumah kentang dan suster ngesot.
 
Melihat antusiasme penikmat film horor, "Jelangkung" dilanjutkan dua sekuel. "Tusuk Jelangkung," diproduksi pada 2003 dan disutradarai Dimas Djayadiningrat, serta "Jelangkung 3" dirilis pada 2007 dan disutradarai Angga Dwimas Sasongko. Meski juga laris, dua film tersebut tetap tidak mampu menandingi kepopuleran film pertama.
 
Sementara, film "Ouija" bercerita tentang seorang gadis bernama Debbie (Shelley Hennig) yang berperilaku aneh selama beberapa minggu sejak ia bermain ouija seorang diri.  Tak lama, Debbie mati mendadak. Kematian Debbie diduga akibat ia melanggar peraturan utama ouija, yaitu tidak boleh bermain sendirian. Kematian Debbie tentu mengundang kesedihan mendalam bagi sahabatnya, Laine (Olivia Cooke) dan kekasihnya, Pete (Douglas Smith). Keduanya kemudian mengajak ketiga teman yang lain untuk mencari tahu tentang kematian Debbie melalui papan ouija. Kelima remaja itu berada dalam masalah besar, lebih dari yang pernah mereka bayangkan.
 
Sebenarnya, pada 2007 sudah ada film berjudul "Ouija" yang diproduksi di Filipina dan disutradarai Topel Lee. Namun, gaung film itu tidak terdengar di tingkat internasional. Film tersebut dibintangi Jolina Magdangal, Iza Calzado, Rhian Ramos, and Judy Ann Santos. Mereka dihantui arwah yang secara tidak sengaja terjebak setelah mereka bermain papan ouija.
 
"Ouija" dan "Jelangkung" jelas hanya film horor yang mungkin saja dibuat berdasarkan kisah nyata. Tapi tetap saja film ini hanyalah sebuah karya sinematografi yang sengaja diproduksi untuk menghibur penonton.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)




TERKAIT

BERITA LAINNYA