Bagi Bucek, proyek ini bukan sekadar film horor biasa. Ia memerankan karakter Joe, seorang sutradara yang membawa timnya melakukan syuting ke sebuah pulau terpencil. Namun kesalahan koordinat membuat mereka justru tiba di lokasi misterius yang dihuni makhluk tak kasatmata.
Alih alih menyadari kejanggalan yang terjadi, karakter Joe dan kru film justru menganggap para penghuni pulau tersebut sebagai figuran. Situasi salah kaprah inilah yang menjadi sumber utama konflik sekaligus komedi dalam film Beneran Horor.
Bucek mengaku suasana syuting memberi kesan mendalam baginya. Lokasi pengambilan gambar yang berada di kawasan Ujunggenteng, Sukabumi Selatan, dikenal memiliki nuansa mistis yang kuat. Hal itu justru membuat pengalaman bermainnya semakin berkesan.
"Film ini buat saya seperti '22 hari bersama Nyi Roro Kidul'. Lokasinya di Ujung Genteng yang terkenal angker. Kadang syuting sampai jam tiga atau lima pagi, tapi suasananya tetap seru. Justru momen capek itu jadi kenangan," ujar Bucek.
Menurut Bucek, proses syuting film ini terasa lebih cair karena memberi ruang besar untuk improvisasi. Dialog tidak dibuat kaku sehingga para pemain bisa bereaksi lebih natural terhadap situasi yang dibangun di lokasi syuting.
Ia menilai pendekatan tersebut membuat unsur komedi terasa dekat dengan keseharian penonton. Bucek berharap film ini bisa menjangkau penonton yang biasanya menghindari film horor karena takut dengan adegan menegangkan.
“Saya rasa penonton yang tidak terlalu suka horor tetap bisa menikmati film ini, karena komedinya kuat dan tidak memaksa,” ungkapnya.
Film Beneran Horor disutradarai oleh Anto Tanjung dan diproduseri Bob Seven. Proyek ini mempertemukan Bucek dengan aktor lintas generasi seperti Opie Kumis, Joe P Project, hingga maestro pantomim Septian Dwi Cahyo.
Selain itu, film ini juga diramaikan oleh deretan komedian dan kreator digital seperti Maell Lee, Jenda, Mamang Osa, Mamang Osa, Davi Sumbing, Anyun Cadel, Riyuka Bunga, Faizal Agung, Berliana Novell, dan Rian Nekuk yang memperkuat sisi komedi kekinian.
"Kami tidak mengandalkan komedi yang dibuat-buat. Yang kami bangun adalah situasi. Dari situ komedinya muncul secara natural, meski latarnya horor. Komedi dan horor punya basis penonton berbeda, dan kami ingin merangkul keduanya,” kata Anto Tanjung selaku sutradara.
Sementara itu, produser Bob Seven menjelaskan bahwa proses produksi berlangsung selama 20 hari di beberapa titik Sukabumi Selatan. Pemilihan Ujunggenteng didasari keindahan alam serta karakter lokasinya yang kuat untuk kebutuhan cerita.
“Kami memilih lokasi di wilayah Ujunggenteng karena keindahan dan keunikannya sangat spesifik. Namun kalau bicara wisata, memang masih perlu perhatian dalam hal infrastruktur dan penataan kawasan agar bisa mendukung kegiatan wisata ataupun perfilman ke depan,” ujar Bob Seven.
Saat ini Beneran Horor telah memasuki tahap pascaproduksi dan dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News