Film yang dibintangi oleh Christine Hakim itu juga sudah dikonversi ke format digital, sehingga memiliki kualitas gambar yang jauh lebih bagus dibanding versi analog. Proses restorasi film ini dilakukan di Belanda.
Kehadiran kembali Tjut Nja' Dhien dinilai oleh sutradara sekaligus penulis skenario film ini, Eros Djarot, sebagai upaya yang baik untuk memperkenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda.
"Kenapa film ini penting bagi generasi milenial? Agar generasi milenial memahami sejarah. Agar tahu siapa kita. Dengan mengenal sejarah kita sendiri, selain akan membuat tahu siapa kita. Generasi milenial sekaligus dapat menjelaskan kepada dunia, siapa kita sebenarnya," kata Erros Djarot, dalam keterangan pers.
Penayangan kembali film Indonesia klasik yang telah direstorasi menurut Christine Hakim adalah solusi di tengah minimnya suplai film nasional akibat banyak produksi film terhenti di tengah pandemi covid-19.
"Semacam simbiose multialistis atau saling menguntungkan antara produser dan pengusaha bioskop,” ujar Christine.
Film Tjoet Nja' Dhien membawa Eros meraih Sutradara dan Penulis Skenario terbaik dalam FFI 1988. Film ini juga menjadi film Indonesia pertama yang masuk ke dalam Cannes Film Festival. Pada program La Semaine de la Critique, pada tahun 1989, untuk kategori film panjang.
Film ini akan diputar di lima bioskop, yaitu Pondok Indah Mall 1 (PIM 1), Plaza Senayan (PS), Trans Studio Mall Cibubur, (TSM Cibubur), Blok M Square, dan Bekasi. Jika antusias penonton tinggi, besar kemungkinan akan ditayangkan di daerah-daerah lain.
"Karena bukan tidak mungkin, jika sambutan penonton bagus, film ini akan diputar di sejumlah kota lainnya seperti Surabaya, Semarang, Medan, Makassar dan beberapa kota lainnya, " imbuh Christine Hakim.
Film Tjut Nja' Dhien merupakan film "besar" pada masanya. Film ini sempat menang besar dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) dengan menyabet 8 Piala Citra sekaligus, yaitu dalam kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Eros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik ( Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News