Konferensi Pers Film Kampung
Konferensi Pers Film Kampung

Bene Dion Temukan Ide Cerita Film Pulang Kampung dari Ibu-Ibu HKBP

Elang Riki Yanuar • 08 Oktober 2026 11:00
Ringkasnya gini..
  • Sutradara Bene Dion Rajagukguk mengungkapkan inspirasi film Pulang Kampung lahir dari kebiasaan bernyanyi ibu-ibu HKBP saat berduka.
  • Berbeda dari film biasa, Bene sengaja memilih deretan lagu Batak populer terlebih dahulu sebelum merangkai seluruh alur cerita film.
  • Langkah unik ini diambil agar sembilan bagian bernyanyi dalam film terasa menyatu alami dengan perjalanan asmara Daniel dan Uli.
Jakarta: Daya tarik budaya Batak tak cuma terletak pada bentang alamnya, tetapi juga tradisi bermusik yang mengakar kuat di tengah masyarakatnya. Hal inilah yang menjadi pemantik utama bagi sutradara dan penulis skenario Bene Dion Rajagukguk dalam merancang film musikal Pulang Kampung.

Lewat Konferensi Pers Peluncuran Lagu Tema & Trailer yang diselenggarakan di Djakarta XXI, Jakarta Pusat, pada Rabu (7/10/2026), film garapan Imajinari yang diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika ini mengumumkan jadwal tayang resminya di bioskop pada 26 November 2026 mendatang.

Sinopsis Perjalanan Daniel Mengenal Tanah Leluhur

Pulang Kampung menyoroti lika-liku kehidupan Daniel (Axelo Nababan), seorang pemuda Jakarta yang mendadak diminta pulang ke Samosir demi memuluskan jalannya menjadi calon anggota legislatif. Di sana, ia dipandu oleh Uli (Vanessa Simorangkir), sepupunya yang pandai mencairkan suasana.

Niat awal Daniel yang sekadar menjalankan misi politik sang ayah lambat laun goyah setelah ia terpesona oleh kehangatan tradisi Batak dan mulai jatuh hati pada Uli. Deretan bintang populer seperti Judika Sihotang, Lea Simanjuntak, Rita Matu Mona, dan Paulus Simangunsong juga dipastikan hadir memperkuat jajaran pemeran film ini.
   

Proses Kreatif Pilih Lagu Dulu, Baru Bikin Skenario

Proses kreatif yang dilalui Bene Dion terbilang cukup unik dan berani untuk ukuran film layar lebar. Bene menceritakan bahwa ide ini muncul dari momen emosional yang ia amati di kehidupan sehari-hari.

"Pemicunya itu pas saya berbincang sama ibu-ibu HKBP, karena dalam keadaan sedih pun mereka tetap menyanyi. Makanya sebelum menulis skenario, saya bahkan sudah memilih lagu-lagunya duluan," ungkap Bene.

"Lagu yang dimasukkan harus yang familiar, sebab kalau bikin lagu baru penonton bakal sulit menghafal dan jadi tidak fokus ke cerita filmnya. Proses mengurutkan lagu Batak agar menyatu alami dengan alur cerita itu sangat sulit dan memakan waktu lama."

Eksplorasi Ragam Sub-Suku dan Lagu Daerah

Meski harus memilah dan menghapus beberapa lagu yang kurang sesuai dengan jalan cerita, Bene mengaku puas dengan sembilan bagian bernyanyi yang berhasil masuk ke dalam film, termasuk satu adegan medley yang memikat.

"Pilihan lagu Batak yang familiar ini sengaja kami pakai agar penonton yang hafal bisa ikut bernyanyi, atau minimal jadi referensi bahwa lagu indah ini ada," tambah Bene.

"Kami juga pelajari setiap sub-suku budayanya karena tiap wilayah punya ciri khas dan keistimewaan masing-masing, sekalian mempromosikan keindahan daerah tersebut.”

Perpaduan kehangatan budaya dan kedekatan emosional dalam lagu-lagunya menjadikan film “Pulang Kampung” sebagai karya yang tak boleh dilewatkan saat tayang serentak di bioskop nanti.
(Sumber: Instagram @pilem.pulang.kampung)






(Dinda Intan Ramadhani)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA