Ence Bagus (Foto: Medcom/Purba)
Ence Bagus (Foto: Medcom/Purba)

Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia

Hiburan sineas kita Ence Bagus
Purba Wirastama • 20 Februari 2019 08:00
Peran besarnya di layar sinema mungkin bisa dihitung jari. Namun selama 11 tahun terakhir sejak 2008, kendati porsinya hampir tidak selalu banyak, Ence Bagus sudah bermain dalam sedikitnya 47 film cerita panjang.
 
Itu belum termasuk film-film sebelum 2008 dan sejumlah film terbaru rilisan 2019. Lalu ada juga dua film omnibus rilisan 2008, yaitu Jakarta Maghrib dan Belkibolang. Film segmen Full Moon di Belkibolang adalah film terakhir Ence bersama mendiang istrinya, Fitri Fajar Asih, yang meninggal pada 5 Januari 2012.
 
Tahun dengan "filmnya Ence" terbanyak adalah 2018 dengan total 11 judul film. Hingga akhir Februari 2019, dia sudah bermain dalam empat judul film. Menurut Ence, banyak pekerjaan di film datang karena dia gemar "meminta" jika ada peluang di depan mata. Pernah juga dia sekadar mampir ke lokasi syuting, lalu mendapatkan peran sebagai figuran. Sebagian besar film Anggy Umbara melibatkan Ence sebagai aktor pendukung.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Boleh kita bilang, Ence Bagus adalah aktor pendukung terbanyak dekade ini. Beragam jenis peran sudah dimainkan. Mulai dari penjual mie ayam keliling, polisi, satpam, sopir, wartawan, pembantu rumah tangga, petugas KPK, hingga badut dalam Guru Ngaji yang mengantar Ence menjadi nomine aktor pendukung terbaik Piala Citra.
 
Menurut Ence, kebanyakan perannya di film memang menjadi tokoh subyek "penderita" atau ditertawakan. Sosoknya pun lekat dengan film-film komedi, kendati awalnya dia bukan komedian.
 
"Saya dikenal lewat acara tv komedi, Extravaganza. Jadi orang pikir saya komedian," kata Ence kepada saya pada suatu sore di depan Gedung Teater Luwes di kampus almamater Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
 
Malam sebelumnya, dia baru saja menyutradarai pentas teater hitam putih perdana, yang konon belum pernah dia temui di Indonesia, di gedung itu. Rencananya, Ence melanjutkan konsep teater ini sebagai pertunjukan rutin. Seluruh tata rias, dekorasi, dan lampu dibuat dalam warna hitam putih.
 
Sore itu, Ence bercerita banyak hal, terutama tentang perjalanan kariernya sebagai aktor film layar lebar yang kerap memainkan tokoh pendukung atau sekadar figuran.
 
Ence masuk D3 IKJ pada 1998 dan lulus sembilan tahun berikutnya. Dia cuti selama empat tahun pada 2001-2005, tetapi lebih kerap tinggal di kampus. Pada masa inilah, dia mendapatkan peran sebagai figuran dalam dua film panjang pertama, yaitu Brownis garapan Hanung Bramantyo dan Banyu Biru garapan Teddy Soeriaatmadja. Sebelumnya pun, dia sudah menjadi figuran dalam sinetron dan iklan televisi.
 
Maskot adalah film panjang pertama Ence yang "perannya lumayan". Kala itu, dia mendapat bayaran Rp15 juta. Setelah bisa masuk kuliah lagi dengan syarat "pemutihan", Ence menyelesaikan tugas belajar dan ikut ujian pada Maret 2007 bersama mendiang dosen Didi Petet.
 
Berselang dua bulan setelah ujian, dia mendapat tawaran audisi program televisi Extravaganza. Tim program televisi tahu Ence lewat iklan sebuah merek rokok versi nasi padang. Dia masuk belakangan bersama Edric Tjandra, Ananda Omesh, dan Ruth "TJ" Permatasari, setelah acara ini sudah berjalan tiga tahun.
 
"Dulu saya ada di acara komedi yang ratingnya bagus, ditonton masyarakat kota, dan tayang primetime jam 7 malam. Itu juga membantu popularitas, tidak bisa dipungkiri," kata Ence.
 
Berulang kali, Ence menyebutkan Extravaganza sebagai titik tolaknya masuk ke industri hiburan film dan televisi. Semula, dia mendalami akting teater. Namun perlahan dirasakan, pendapatan finansial dari kegiatan teater tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya di Jakarta. Tawaran audisi tv akhirnya diambil dan kemampuan akting dikembangkan untuk medium layar.
 
"Sembilan tahun saya kesusahan, ditambah lagi, saya harus realistis," ujar Ence.
 
Berikut penggalan wawancara saya dengan Kang Ence selama hampir dua jam. Jadwal Ence sedang cukup padat, tetapi beruntung ada waktu kosong sore itu. Dia kaget ketika saya menyebutkan bahwa film panjangnya sudah mencapai 50 judul lebih.
 

Bagaimana Ence Bagus bisa seproduktif itu dalam bermain film?
 
Pertama, karena saya rajin "minta-minta" ya. Saya suka akting. Tantangan dan kesenangan saya adalah menghidupi setiap karakter yang saya mainkan. Karena cinta buta itu, saya enggak pernah mau melihat porsi karakter. Ketika ada sutradara percaya saya memainkan karakter itu, berarti saya dianggap mampu dan bisa. Saya sampai punya pikiran, bahwa setiap karakter akan memilih aktornya untuk memainkan – dengan cara apapun. Ada beberapa peran yang kisahnya menarik, seharusnya bukan saya, tetapi karena suatu hal, akhirnya saya.
 

Seperti apa contohnya?
 
Beberapa waktu lalu, saya main sebuah film – film anak-anak, belum keluar. Awalnya saya bahkan enggak main di film itu. Lalu saya ketemu sutradara, dia bilang baru ingat ada saya dan menyesalkan kenapa bukan saya saja yang bermain.
 
Sebulan kemudian dia telepon, tanya jadwal kosong, menawarkan film yang kemarin diceritakan. "Bukannya sudah dikunci?" "Iya, tetapi pemainnya ditangkap gara-gara narkoba." Enggak terduga. Ya, bukannya bersyukur di atas penderitaan orang ya.
 
Kedua, Nagabonar Reborn. Syutingnya diundur, saya enggak bisa karena saya harus punya film lain di Jogja. Sepekan sebelum mereka jalan, mereka sempat cari pengganti saya.
 
(Ternyata proyek film di Jogja diundur. Lalu Ence mengabari Gading Marten, aktor Nagabonar Reborn, yang kemudian mengusahakan Ence bergabung kembali ke proyek, kendati sudah ada pemain lain. Akhir cerita, Ence diajak kembali.)
 
Saya jadi Bujang di Nagabonar Reborn. Kalau di film Nagabonar, Bujang itu pengawal pribadi si Nagabonar. Ya berarti (tokoh ini) milih saya kan. Syuting Nagabonar Reborn sudah selesai kemarin di Sukabumi dan Medan.
 
(Ence juga menceritakan tiga pekan tersibuknya ketika harus syuting film Guru Ngaji dan syuting serial televisi Kesempurnaan Cinta. Dia mengajukan izin untuk syuting di dua kota sekaligus dan ternyata diperbolehkan. Selama itu, Ence rutin terbang Jogja-Jakarta demi dua proyek syuting berbeda.)
 
Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia

Ence Bagus dalam Yowis Ben (Starvision Plus)
 

Dengan jadwal produksi mepet, apakah kebanyakan peran Ence tidak butuh persiapan dan produksi lama karena porsi peran tidak banyak?
 
Beberapa film punya porsi tidak banyak. Mungkin ada juga kepercayaan dari sutradara sejak awal, bahwa Ence bisa mengerjakan ini dua hari saja. Saya sih maunya sejak awal, kalau bisa ya ikut karena idealnya seperti itu. Bahkan ada yang (mendadak meminta datang ke lokasi), Fajar Nugros sering begitu.
 
Sampai sana, saya tanya, mau jadi apa? Jadi begini. Ya sudah. Mungkin itu karena dulu di Extravaganza, saya dilatih untuk bermain cepat. Bayangkan, dalam satu malam itu saya harus bermain lima karakter. Saya keluar masuk beberapa karakter, meskipun enggak mendalam banget dan sekadarnya karena komedi.
 
Namun proses keluar masuk selama 2,5 tahun, menjajal berbagai macam karakter, ternyata itu melatih diri saya untuk terbiasa (berganti karakter) sepersekian detik, minimal dari pendekatan tingkah laku luarnya. Jadi, ada banyak memori karakter dan memori tubuh dalam diri saya – mungkin ya. Ini kita sedang sama-sama ngalor ngidul. Saya juga enggak tahu ini benar atau enggak soalnya saya jarang mengkaji diri saya sendiri kalau enggak diajak ngobrol.
 
(Soal film saya banyak) salah satunya mungkin karena menyanggupi, tentu saja berdasarkan (pertimbangan). Kalau kira-kira enggak terkejar, saya juga enggak maksa. Buat saya, akting itu enggak perlu ribet. Akting adalah ketika saya bisa menempatkan pikiran dan perasaan saya ke pikiran dan perasaan karakter.
 
Oke, sekarang jadi apa? Preman. Dia ngapain? Tujuannya apa? Saya tanya dulu. Dalam teater, saya pernah menganalisa karakter sampai enam bulan untuk ujian. Jadi saya terlatih untuk menganalisa setiap karakter. Saya tahu kuncinya untuk menganalisa karakter seperti apa. Ada beberapa template pertanyaan saya untuk masuk ke dalam karakter itu.
 
Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia
Ence Bagus (kanan) dalam Suzzanna Bernapas dalam Kubur (Soraya Intercine Films)
 

Apakah tawaran aktingnya lebih banyak ketimbang ini? Apakah banyak yang ditolak?
 
Kalau enggak bentrok, saya enggak pernah nolak. Saya senang akting. Passion. Bahkan saya senang ketika orang tidak melihat saya, lalu terkejut saya main di situ, tetapi dia menikmati karakter saya. Maka banyak yang bilang, orang kenal saya tapi enggak kenal nama saya. Saya jauh lebih senang.
 
Bahkan ada beberapa orang memanggil saya Parmin atau Jangrik Boss. Buat saya, itu hal menyenangkan dan pencapaian karena berarti, karakter saya hidup. Saya dibayar untuk memainkan karakter ini. Kalau karakter itu diingat, berarti pekerjaan saya berhasil.
 

Apa pernah ada komentar, Ence lagi Ence lagi?
 
Enggak ada. Porsi saya juga enggak banyak-banyak. Kalau mencolek dalam pujian, ya ada tetapi kalau untuk yang sifatnya negatif, Alhamdulilah belum pernah ada. Jangan lah.
 

Apa Ence pernah menjadi pemeran utama?
 
Saya enggak tahu pemeran utamanya saya atau Pandji, judul filmnya Make Money. Filmnya sih enggak laku, yang bikin Sean Monteiro. Pemain utama antara saya dan Pandji, tetapi alur ceritanya seimbang.
 

Selain lusinan film, sudah berapa banyak FTV yang dimainkan Ence?
 
Mungkin kalau FTV ada 20-an judul karena saya selektif. Saya lebih suka FTV Sinema Wajah dari Pak Deddy Mizwar karena cerita masih nyambung, akting saya juga enggak ditutupi background music. Saya paling enggak suka kalau saya sedang akting dan dialog, di belakang saya ada (suara lagu vokal).
 

Seolah-olah filmnya tidak percaya dengan akting aktor, ya?
Betul.
 

Peran terbanyak adalah tokoh seperti tukang kebun, sopir, satpam, atau asisten. Kalaupun bos, sifatnya lebih komikal. Kira-kira kenapa bisa seperti ini?
 
Kalau ada istilah, proses tidak mengkhianati hasil, mungkin buat saya, muka tidak akan mengkhianati rezeki, ha-ha bercanda. Alasan pertama sudah pasti fisik. Alasan kedua, saya sempat berpikir, di Indonesia, stigma kuat banget. Kalau sudah jadi pemain komedi, ya sudah.
 
Enggak bisa dipungkiri, dalam dunia industri, saya dikenal lewat acara komedi Extravaganza. Jadi orang berpikir saya komedian, pasti hanya bisa komedi. Mungkin juga orang berpikir, dia lakunya di komedi karena dia ditonton orang di acara komedi. Begitu terus. Namanya industri, yang dicari dagangannya, enggak peduli saya bisa apa, perlunya saya di situ. Pada akhirnya, saya mengikuti saja, meskipun ada keresahan itu dalam diri saya.
 
Lalu mungkin, begitu stand up comedy muncul, (saya bergabung) soalnya saya orang yang mudah ingin tahu. Buat saya kesenian adalah proses pemenuhan kapasitas dan potensi diri. Setelah stand up ramai sebulan dan ada open mic, saya kontak Ernest, yang tahu saya pemain Extravaganza. Saya sempat ikut membesarkan komunitas ini pada saat awal. Alhamdulilah, dari situ, kita enggak bisa pungkiri perkembangan stand up comedy juga mewarnai film Indonesia. Nah saya kecipratan.
 
Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia
Ence Bagus dalam Dilan 1991 (max pictures)
 

Ence termasuk sedikit dari pemain Extravaganza yang aktif juga di stand up comedy.
 
Extravaganza itu sengaja dibentuk bukan dari komedian. Ronal, Tike, dan Sogi penyiar, Tora dan Indra aktor, Mieke model. Enggak ada komedian, yang lucu itu naskahnya, tetapi dimainkan aktor. Maka begitu kelar, Ronal memilih siaran lagi dan menjadi presenter karena memang kapasitas dan bidangnya di sana.
 

Peran di film mana yang paling serius dan pendalaman tinggi?
 
Tanah Surga... Katanya (2012), saya enggak main komedi, saya main drama. Lalu film Blusukan Jakarta (2016), saya main drama.
 
Lalu Guru Ngaji (2018), saya juga main drama. Mungkin itu pertimbangan yang membuat saya dinilai layak menjadi nomine (Piala Citra) karena saya bermain drama. Hidup karakternya itu tragic comedy. Dia menderita, tetapi kita tertawa melihat penderitaan dia. Orang yang polos dan jujur, tetapi dia menang. Dia menjadi badut yang dirundung teman-teman, tetapi berhasil meraih perhatian wanita karena kepolosan.
 

Apa tantangan menjadi pemeran pendukung? Bukan utama, tetapi punya peran signifikan.
 
Sebenarnya saya enggak pernah punya beban itu. Buat saya, akting itu sederhana: menghidupi karakter saya, menempatkan pikiran dan perasaaan di sana. Tantangannya adalah meredam diri saya untuk tidak punya keinginan melebihi pemeran utama. Misalnya, ego saya merasa punya ilmu akting dari sekolah, lalu bertemu teman dengan latar belakangnya bukan akting, tetapi hanya model yang menjadi pemeran utama. Nah, tantangan saya adalah meredam diri saya untuk tidak superior atau jumawa.
 

Apakah ada peran yang terlalu kuat, sehingga Kang Ence terjebak di situ?
 
Pernah. Mungkin di film Guru Ngaji, ada pengaruh temporer yang lumayan (besar). Saya sempat jadi orang yang minderan (karena tokoh) Parmin takut melihat perempuan.
 
Oh, yang paling menarik itu proses film Surat Cinta Untuk Kartini (2016) bersama Chicco (Jerikho) dan Rania (Putri Sari). Saya menjadi sahabat Chicco, seorang seorang pemahat. Untuk mendalami karakter itu, saya pergi ke Jepara seminggu untuk observasi sebelum syuting di Jogja. Saya belajar memahat kayu, lalu akhirnya bisa. Asyiknya lagi, saat sedang (persiapan) syuting, ada anak Institut Seni yang mendampingi saya.
 
Waktu itu, pelatih akting juga membuat kami tinggal dalam satu rumah. Saya dan Chicco tidur satu rumah buat persahabatan kami. Lalu ceritanya, saya kan punya istri, saya dan pemeran istri saya itu dekatnya sampai hanya tidur dan mandi saja yang enggak bareng. Sisanya, kami melakukan itu bareng-bareng. Saya antar belanja ke pasar, masak bareng, selama empat sampai lima hari sambil reading. Nah, itu kebawa sampai film selesai.
 
Saya jadi sering mahat, sampai punya karya pahat. Lalu saya dan pemeran istri di film itu, sampai sekarang kalau ketemu dia, panggilnya istriku atau suamiku, meskipun enggak kesampaian buat saya ya, ha-ha. Namun sempat saya dekat, dia saja yang enggak mau. Saya yang kangen masa-masa itu. Ya dunia imajiner jauh lebih indah ketimbang realita, ha-ha.
 
Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia
Ence Bagus dalam Guru Ngaji (chanex ridhall)
 

Apakah ada proyek film yang memberi dampak besar soal pandangan hidup, karier, kemampuan akting, atau hal lain buat Ence?
 
Kalau aspek popularitas, mungkin setelah (Warkop DKI Reborn) Jangkrik Boss, saya menjadi jauh lebih dikenal karena enam juta penonton dan tokohnya ikonik. Saya dinilai berhasil mengembalikan ingatan orang dengan "jangkrik"-nya itu.
 
Soal keaktoran, capaian kepuasan berproses, ada di film Guru Ngaji karena saya dinilai pantas menjadi nomine. Mungkin karena saya merasa di film-film lain saya dituntut untuk lucu pada bagian tertentu, sementara di Guru Ngaji, saya enggak mau sama sekali untuk melucu.
 
Kita juga harus lihat genre. Karena Jangkrik Boss film komedi, gue enggak mungkin enggak dituntut menjadi lucu. Untuk Guru Ngaji, saya merasa saya main "efektif" saja, tidak punya beban untuk melucu. Efektif itu mengikuti jalur hidup dan nasib tokoh ini, enggak ada pretensi apa-apa atau ketakutan untuk tidak lucu.
 
Dari situ, saya lebih meyakinkan diri saya lagi bahwa, untuk beberapa hal, akting bisa seperti ini dan untuk beberapa hal lain mungkin menuntut saya komikal. Jadi, saya lebih selektif sekarang. Bahkan mungkin saya sekarang bisa menilai gaya dan pola para sutradara – Anggy, Hanung, Rako, Kinoy, Deddy Setiadi, Edwin.
 
Soal Guru Ngaji, buat saya, skenario awalnya itu menarik. Guru Ngaji itu antara skenario awal dengan film sedikit berbeda karena kompromi editing dan lain sebagainya. Padahal sebetulnya, naskah itu menjadi salah satu alasan saya mau ikut proyek itu. Ceritanya menarik soal pluralisme dan sebagainya.
 
Lewat Tanah Surga... Katanya, saya lebih tahu tentang Indonesia – arti sebuah kecintaan terhadap Tanah Air, terhadap bapak, pragmatisme dalam hidup. Saya jadi orang perbatasan yang merantau ke Malaysia. Saya tidak syuting di perbatasan, tetapi film ini sangat membuka wawasan saya, bahwa pada zaman itu, ketimpangan perbatasan itu jauh banget.
 
Makanya begitu saya tahu, entah benar atau tidak, bahwa (Presiden) Jokowi tahun ini bilang perbatasan begini, saya merasa ada keterikatan emosional. Saya senang karena dulu ketika riset dan observasi ke sana, saya merasakan ketimpangan itu: listrik yang harus digilir, menara sinyal telepon jauh. Kami pernah mau menelpon harus jalan sejauh 2 km ke sebuah bukit.
 

Seperti apa seni akting bagi Ence?
 
Main-main saja. Akting itu menempatkan pikiran dan perasaan saya kepada pikiran dan perasaan karakter. Ya itu teorinya. Namun buat saya, proses keaktoran itu adalah proses pemenuhan kapasitas dan potensi diri sampai mati. Kapasitas itu adalah seluruh pengalaman hidup dan kemampuan kita sejak kecil. Potensi adalah yang bisa kita maksimalkan untuk sebuah hal.
 
Ketika saya bertemu karakter baru, saya harus pelajari siapa dia dan latar belakangnya. Saya jadi tahu hal baru, ketemu orang dan produksi baru, punya kesimpulan baru. Semakin saya sering, semakin banyak karakter yang saya mainkan, semakin banyak karakter yang saya riset. Buat menghidupi karakter, yang diperlukan adalah pikiran dan perasaan. Setiap pengalaman akan jadi modal berharga buat seorang aktor.
 
Saya masih ingat ketika almarhumah istri saya meninggal, Mas Didi Petet pernah bilang ke saya, "Sebagai aktor, kamu lengkap. Kalau ada satu situasi yang sama dimainkan oleh kita berdua, dan situasinya adalah istri yang meninggal, mungkin kamu jauh lebih mengerti bagaimana ketimbang saya karena saya belum pernah merasakan apa yang kamu rasakan."
 
Saya ikut berduka, tetapi saya ambil poinnya itu. Bahwa pengalaman hidup, itulah modal aktor. Enak atau enggak enaknya jadi aktor, setiap hal, sepedih apapun, aktor harus punya kesadaran untuk menyimpannya dalam bagasi memori.
 

Bagi Ence, Didi Petet adalah sosok guru ya?
 
Sangat. Saya beruntung ujian akhir saya di IKJ dibimbing oleh almarhum Didi Petet dan itu adalah bimbingan ujian terakhir di IKJ seumur hidupnya. Pada saat proses bimbingan ujian itu, proses transfer pengetahuan terjadi. Dia cuma bilang begini, "Akting itu bukan dipikirkan, tetapi dilakukan, jangan kebanyakan mikir, lakukan." Sesederhana itu.
 
Langkah Sinema Ence Bagus, Aktor Pendukung Terlaris Indonesia
Ence Bagus dan Fuad Idris dalam Tanah Surga... Katanya (Demi Gisela Citra Sinema)
 
Berapa kisaran bayaran untuk aktor pendukung, mulai dari pemula hingga senior?
 
Saya pernah dibayar Rp500 ribu waktu Banyu Biru. Pernah Rp3 juta, pernah 5 juta, tetapi sekarang rata-rata untuk satu hari syuting, ya Rp5 juta. Kalau Rp5 juta ke bawah, saya minta tunai.
 

Berapa honor terbesar Ence untuk jadi aktor apapun, termasuk yang bukan pendukung?
 
Kalau nanya honor terbesar yang saya terima, itu Rp80 juta untuk satu judul film. Untuk harian, saya pernah dibayar Rp10 juta, itupun film luar negeri. Kalau lokal, paling berani kasih saya tujuh ribu (Rp7 juta). Saya juga enggak ribet karena saya senang. Banyak yang bilang, "Lu main film melulu tetapi enggak kaya." Gue bilang, gue main film bukan cari kaya, gue senang akting.
 

Ence aktif di televisi, film, dan teater. Bagaimana Ence menempatkan tiga dunia berbeda ini dalam karier? Apakah ada yang sekadar untuk materi dan ada yang untuk idealisme?
 
Itu benar banget. Buat saya, yang penting saya dikasih ruang untuk main-main dan belajar biar enggak stres dan cepat tua. Ruang ekspresi, apapun medianya, tetapi punya keunggulan tersendiri.
 
Saya oportunis kalau dalam hal seni ini – apa yang menarik di sini ya saya lakukan. Misalnya, film buat saya adalah media menarik untuk kemampuan akting, tetapi dengan proses ideal dan persiapan lebih matang.
 
Nah untuk televisi, sama-sama bermain dan dibayar, tetapi itu lebih ke keuangan dan popularitas. Setiap tahun, saya selalu bermain serial televisi. tetapi duitnya gede karena dikalikan (...). Saya pernah mengalami setahun striping 500 episode, dari lebaran sampai lebaran. Saya merasakan, punya duit tetapi enggak punya waktu.
 
Kalau teater, itu hal ideal banget buat saya. Duitnya memang enggak ada, malah nombok, tetapi ada kepuasan batin yang enggak ternilai harganya. Itu yang mungkin bikin saya enggak kaya. Saya merasa kepuasan hidup itu enggak harus dari materi.
 
Saya melihat kepuasan dan tepuk tangan para penonton dari atas panggung setelah curtain call, itu jauh lebih berharga ketimbang honor yang diberikan satu film. Buat saya, itu jujur, energi yang tidak saya dapatkan di film dan televisi karena beda medianya. Saya bahagia bisa membahagiakan orang lain.
 

 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi