Ilustrasi. (Foto: tudecides.com.mx)
Ilustrasi. (Foto: tudecides.com.mx)

Rayuan Manis Layanan Streaming di Indonesia

Hiburan netflix hooq montase film streaming film
Cecylia Rura • 19 Januari 2020 09:00
Opsi menyaksikan film kini tak lagi sebatas di bioskop atau populer dengan istilah big screen. Efisiensi waktu menonton terbantukan dengan adanya layanan streaming video on demand (svod) di smartphone dan tablet (small screen).
 
Lantas, bagaimana popularitas small screen di Indonesia saat ini? Sebagai sampel saya menggunakan empat svod populer bagi pengguna smartphone di Indonesia yakni Netflix, HOOQ, Iflix, Viu, dan satu karya anak bangsa yaitu Genflix.
 
Berdasarkan data yang dihimpun melalui Similar Web, Senin, 13 Januari 2020, dalam periode Oktober 2019 hingga Desember 2019, Iflix paling banyak diunduh melalui Play Store di android sebanyak rata-rata 4,4 juta akun. Namun untuk pengguna aktif harian (unique daily active users), Viu lebih unggul dengan rata-rata 406.434 dari 2,8 juta akun yang telah mengunduh Viu. Keunggulan Viu juga tampak dari banyaknya pengguna aktif Viu membuka aplikasi dan menghabiskan waktu rata-rata 1 jam 12 menit per hari.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rayuan Manis Layanan Streaming di Indonesia
 
Viu dengan tagline Korean Dramas, Variety Shows, dan Originals sejak awal sudah mengukuhkan diri sebagai penyedia koleksi drama Korea dan konten Asia. Meski belum ada angka pasti berapa banyak orang Indonesia yang hanyut dalam fenomena hallyu, fanatisme terhadap kultur Korea tampak melalui animo mereka saat menyambut idola datang ke Tanah Air. Layanan yang berangkat dari Hong Kong sejak 2015 ini juga menampilkan original series dari Indonesia seperti Switch (2017), The Publicist (2017), dan Sunshine (2018).
 
Iflix yang bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia menjadi over the top (OTT) platform populer kedua di Indonesia melalui paparan angka di atas. Sejumlah film Indonesia pun kini dapat disaksikan melalui Iflix setelah turun layar di bioskop. Persebaran Iflix masih di 13 negara wilayah Asia yakni Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Sri Lanka, Pakistan, Myanmar, Vietnam, Maldives, Kamboja, Nepal, dan Bangladesh.
 
Meski dalam paparan data angka Netflix belum unggul di Indonesia, konten berskala internasional di 190 lebih negara itu menggiurkan para sineas untuk memasarkan produknya. Dari Indonesia baru ada The Night Comes for Us (2018) sebagai serial original pertama di Asia yang tayang di Netflix. Headquarter utama Netflix yang berbasis di California tentu menarik perhatian dengan anggapan mencakup penonton di luar wilayah Asia. Dengan kata lain, Netflix menjadi alternatif menuju go international bagi sineas selain mengikuti festival.
 
“Netflix adalah salah satu tulang punggung yang terjadi pada saya. Merambah ke film yang diakuisisi Netflix. Netflix sebuah jembatan talenta kita menuju ke dunia luar,” kata Timo Tjahjanto, sutradara The Night Comes for Us di Jakarta Pusat.
 
HOOQ juga termasuk satu di antara sekian player OTT di Indonesia. Aliansi dari SingTel, Sony, dan Warner Bros ini telah memiliki serial original di Indonesia yakni Cek Toko Sebelah The Series serta Brata Season 1 dan 2. Pada Oktober 2019, mereka mengumumkan 19 konten original baru di Asia sebagai upaya merilis 100 HOOQ originals yang ditargetkan rampung pada kuartal kedua 2020. HOOQ yang berbasis di Singapura memiliki persebaran konten di Singapura, Indonesia, India, Thailand, dan Filipina.
 
Dalam barisan OTT, ada Genflix karya anak bangsa. Layanan OTT ini sangat amat kurang populer untuk bersaing. Popularitas mereka justru merosot jauh secara angka jika dibandingkan di atas. Kendati demikian, portal karya anak bangsa ini menawarkan judul-judul film lokal dengan metode pembayaran mudah. Genflix meraih rekor MURI pada 2014.
 
Big Screen vs. Small Screen
 
Kehadiran alternatif menonton melalui smartphone memberikan kelonggaran waktu dan opsi baru bagi sejumlah penikmat film. Mereka bisa mengalokasikan dana transportasi menuju bioskop ke pulsa paket internet. Efisiensi ini meningkatkan kompetisi antara layar bioskop dan video on demand. Meski video on demand mempermudah penikmat film, bioskop masih menjadi tolak ukur kesuksesan melalui perolehan angka penonton.
 
“Sampai saat ini pengembalian modal terbesar masih dari bioskop. Bisa dikatakan mungkin 60-70 persen masih bergantung dari pengembalian modal bioskop,” kata Sheila Timothy, anggota Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI).
 
Dengan asumsi harga tiket Rp35 ribu per lembar, film dengan perolehan 1 juta penonton sudah mengumpulkan pendapatan kotor Rp35 miliar. Itu belum angka final karena ada perhitungan biaya balik modal dan ada jalinan kerjasama dengan sejumlah investor. Tahun 2019 menjadi momen emas perfilman Indonesia dengan 15 judul film yang meraih angka 1 juta penonton.
 
Gairah ini mengikuti keputusan pemerintah yang mengeluarkan film dari Daftar Negatif Investasi (DNI) melalui Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 saat Triawan Munaf menjabat sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Regulasi ini pun membuka kesempatan bagi para investor dari luar negeri untuk mendukung perfilman Indonesia.
 
Meski pendapatan dari penayangan film di bioskop masih diandalkan, ada untungnya ketika produksi film bekerja sama dengan platform OTT. Produser Ifa Isfansyah menuturkan, kerjasama dengan pihak OTT mampu membantu pemodalan awal produksi film.
 
Rayuan Manis Layanan Streaming di Indonesia
Produser Fourcolours Films Ifa Isfansyah. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
 
“OTT akan sangat bagus kalau pada saat script sudah deal, sama HOOQ misalnya, karena itu semacam pre sale. Dia membeli sebelum filmnya jadi dan itu sangat membantu kami sekali sebagai biaya produksi,” kata Ifa Isfansyah, produser dari Fourcolours Films.
 
Ifa membenarkan, sebagian modal produksi film Abracadabra misalnya, terbantukan dari kerjasama dengan berbagai investor yakni Aurora Media, HOOQ, dan Ideosource. Kerjasama ini pun mematangkan konsep film yang diproduksi.
 
“Iya, sebagian (modal produksi). Karena kalau kayak begitu sebagian ada di awal yang bisa kita buat syuting itu kayak termin saja. Tapi sebenarnya kita jadi sudah mengerti proyeksinya,” kata Ifa.
 
Head of Marketing HOOQ, Hera Laxmi Devi memaparkan bentuk kerjasama untuk produksi konten beragam bentuknya. Untuk penayangan film Indonesia di HOOQ dimulai 120 hari sejak film turun dari layar bioskop. Untuk film Hollywood 90 hari setelah turun dari bioskop.
 
“Bergantung bagaimana perjanjian di awal bisa jadi bentuk kerjasamanya co-production, sharing biaya produksi berupa beli putus, kontennya sudah jadi baru kita beli. Bisa juga revenue sharing dari iklan. Jadi, kita bagi hasil dari pemasangan iklan. Kita sepakati di awal seperti apa kerjasama yang akan dijalani,” ungkapnya.
 
Sebelum bersaing dengan bioskop, lingkaran pemain OTT di Indonesia bersaing ketat soal harga paket. Sempat menjadi perbincangan panjang ketika Netflix dan Telkom belum menemukan titik temu agar penggemar Netflix di Indonesia bisa mengakses konten Netflix menggunakan provider raksasa di Tanah Air itu.
 
Untuk saat ini, Netflix hanya bisa diakses menggunakan metode pembayaran via kartu kredit, paket streaming XL, Tri, dan Bolt. Pada Desember 2019, Netflix menghadirkan metode pembayaran baru melalui paket ponsel seharga Rp49 ribu per bulan. Paket ini menambah opsi sebelumnya yakni Paket Dasar (Rp109 ribu), Standar (Rp139 ribu), dan Premium (Rp169 ribu).
 
Sementara itu, HOOQ tampak memberi banyak opsi memudahkan metode pembayaran yakni melalui kartu kredit, debit, voucher elektronik, dan potong pulsa.
 
“Kita bisa klaim kita punya metode pembayaran yang paling lengkap. Jadi langganan HOOQ gampang bisa bayar pakai Gopay bayarnya atau pakai potong pulsa. OVO itu alat pembayaran yang semua orang pakai. Bisa pakai kartu kredit, debit. Jadi, banyak sekali pilihannya, tarif juga pilihannya banyak. Harian cuma Rp3.500,- . Bisa mingguan Rp24 ribu, bisa bulanan Rp 69 ribu. Ada yang tahunan, banyak sekali pilihannya,” papar Hera Laxmi.
 
Jika dibandingkan dengan harga biaya 1 tiket bioskop untuk menyaksikan 1 judul film, tentu lebih murah menyaksikan film melalui OTT yang menawarkan harga sedikit mahal dalam sekali bayar untuk menikmati beberapa judul film.
 
Rayuan Manis Layanan Streaming di Indonesia
 
Aplikasi OTT memiliki peringkat popularitas berbeda di App Store untuk ponsel iPhone dan Play Store untuk ponsel Android. Dilansir kembali dari Similar Web dengan data terbaru pada 11 Januari 2020, dalam daftar 100 Top Apps di App Store, Netflix menempati peringkat ke-2, Iflix di peringkat ke-3, Viu di peringkat ke-5, dan HOOQ di peringkat ke-7. Genflix tidak masuk dalam daftar 100 Top Apps. Dalam daftar 100 Top Apps di Play Store, Viu berada di peringkat ke-3, Iflix di peringkat ke-6, Netflix di peringkat ke-15, HOOQ di peringkat ke-25. Genflix tidak masuk dalam daftar 100 Top Apps.
 
Goplay menjadi pemain baru di lingkaran OTT yang cukup patut diantisipasi. Pada September 2019, Goplay memperkenalkan diri disertai serial original karya sineas Indonesia. Ada Saiyo Sakato karya Gina S. Noer dan Salman Aristo, Gossip Girl Indonesia dari Nia Dinata, serta Tunnel dari Shanty Harmayn dan Ifa Isfansyah.
 
OTT Merayu
 
Menyoal konten, HOOQ Indonesia dan Iflix bisa diandalkan untuk mencari konten lokal. Ada beberapa judul film di Iflix yang bisa disaksikan secara gratis. Namun amunisi baru tampaknya juga disiapkan oleh platform OTT lain untuk merayu Indonesia.
 
Netflix misalnya, merilis The Night Comes for Us karya Timo Tjahjanto sebagai original series pertama dari Indonesia dan pertama di Asia. Film ini menghidupkan kembali gairah genre aksi di Indonesia melalui silat untuk dikenal oleh dunia. Distribusi Netflix yang luas ikut memperkenalkan silat di kancah internasional sebagai identitas Indonesia.
 
Produser Life Like Pictures Sheila Timothy mengatakan, OTT kini perlahan menyesap calon penontonnya dengan menghadirkan konten lokal dalam bentuk serial original. Cara ini digunakan untuk meningkatkan engagement dengan negara yang menjadi target market OTT. Sebagai sineas Indonesia, Sheila menangkap ekosistem ini sebagai hal baik juga untuk memperkuat identitas Indonesia melalui film.
 
“Yang penting ditekankan di sini adalah kita sebagai bangsa jangan juga jadi inferior complex, takut dijajah sama asing. Karena OTT punya personality yang unik. OTT mencari film yang lokal karena dia grab audience lokal. Dia bisa pakai film asing, tapi untuk grab audience lokal tetap film-film lokal dibutuhkan. Makanya dia bikin original Netflix. Per negara ada yang di India, dan sebagainya,” paparnya.
 
“Identitas baik dari The Night Comes for Us, Wiro Sableng, kita menggunakan silat misalnya, budaya kita. Karena kalau kita pakai kung fu atau lainnya kita enggak punya daya saing dengan negara lain. Justru kehadiran OTT seperti ini memungkinkan kita untuk mengembangkan kultur kita, cara berututur kita,” jelasnya.
 
Potret hidup Mbah Satinem, penjual lopis dan cenil mendunia setelah ditayangkan dalam serial dokumenter Street Food episode Yogyakarta, Indonesia di Netflix. Mbah Satinem makin populer dan banjir pelanggan berkat Netflix. Tak jarang, pengunjung ikut berswafoto dengannya.
 
Amunisi Netflix mencuri perhatian penonton Indonesia tak sampai di situ. Di balik polemiknya dengan Telkom yang belum menemukan kesepakatan, Netflix bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) menggelar sejumlah program untuk menemukan sineas potensial.
 
Program Script to Screen bertema Pancasila nantinya membawa 15 penulis Indonesia terpilih ke Netflix Headquarter di California, Amerika Serikat pada Maret 2020. Program ini serangkai dengan workshop bersama 100 penulis, online safety training program, dan Agile Governance Workshops bersama World Economic Forum. Netflix berkomitmen dengan investasi dana sebesar USD1 juta atau sekitar Rp14 miliar.
 
Rayuan Manis Layanan Streaming di Indonesia
Menteri Nadiem Makarim dan Managing Director Netflix Asia Pacific Kuek Yu-Chuang di Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
 
“Kerjasama ini akan fokus pada pelatihan pengembangan kapasitas kreatif, menghubungkan insan perfilman dengan ahli di internasional. Undangan kompetisi dalam membuat konten, lokakarya, tata kelola, keamanan online. Senang rasanya Indonesia akan menjadi tuan rumah World Economic Forum tahun ini,” kata Kuek Yu-Chuang, Managing Director Netflix Asia Pacific.
 
Sebelum Netflix. HOOQ lebih dulu menggelar pelatihan terhadap sineas melalui HOOQ Filmmakers Guild yang melibatkan juri dari Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, dan India. Pada 2019, HOOQ Filmmakers Guild Musim Ketiga digelar bersama Mouly Surya dan Adinia Wirasti sebagai dua juri terpilih dari Indonesia.
 
Layanan OTT memang menggiurkan bagi seluruh pihak saat ini baik kreator, pebisnis, maupun konsumen. Dapat dikatakan, OTT menjadi jalur pintas bagi sineas Indonesia untuk menembus pasar internasional, tergantung kesepakatan bersama rekanan bisnis OTT yang diajak bekerja sama. Hal ini juga berlaku menyoal balik modal.
 
Kendati OTT menggiurkan, layar bioskop yang kini juga memiliki banyak opsi jaringan selain XXI seperti Cinepolis dan CGV. Masing-masing jaringan bioskop memberikan kenyamanan dan pengalaman menonton sehingga menjadi alasan pennikmat film untuk tetap menonton di layar lebar.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif