Av Maryam (Dok. YouTube/Ave Maryam Movie)
Av Maryam (Dok. YouTube/Ave Maryam Movie)

Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam

Hiburan Film Ave Maryam
Cecylia Rura • 14 April 2019 10:00
Jakarta: Nuansa Katolik dalam film Ave Maryam adalah gebrakan baru dari Ertanto Robby Soediskam dalam sinema Indonesia. Menarik, karena cerita ini bukan mengambil tema religi melainkan membawa pesan cinta yang menjadi bahasa universal. Film Ave Maryam sebenarnya telah dipersiapkan sejak tiga tahun lalu dan lebih dulu ditayangkan dalam festival film. Film ini semula diberi judul Salt is Leaving the Sea.
 
Sebuah pertanyaan lumrah, apa yang memantik Ertanto Robby mengangkat kisah dari lingkungan umat Katolik? Lebih-lebih tentang imam dan biarawati yang berkomitmen dengan kaulnya. Sineas lulusan Institut Kesenian Jakarta tersebut tidak berbelit soal motivasinya membuat Ave Maryam. Karya ini dibagikan sebagai bentuk penghormatan terhadap para biarawati dan romo.
 
"Film ini adalah respect saya sama pastor dan biarawati yang bertahan dengan kaulnya. Dalam proses hidup pasti ada hasrat. Hasrat ini yang pingin kita angkat sebagai isu dan diterima sebagai salah satu bahwa, jangan disalahkan agamanya atau Tuhannya, tapi semua kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita bisa menjalankan sampai finish apa enggak," kata Robby saat berbincang dengan Medcom.id.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika memetakan soal latar belakang iman masing-masing tim produksi, Ertanto Robby sendiri memeluk agama Muslim, Maudy Koesnaedi sebagai pemeran Maryam juga Muslim. Chicco Jerikho memegang iman Kristen Protestan dan Olga Lydia memegang iman Katolik. Jelas Ave Maryam bukanlah film religi yang mendikte penonton tentang apa itu Katolik.
 
"Terlepas dari isu konflik yang ada, tujuan utamanya pingin 2016 film Indonesia religinya enggak itu-itu terus karena ada agama-agama lain, Indonesia beragam, niatnya dari situ," terang Robby.
 
Ave Maryam sekaligus menjadi bentuk keresahan Robby melihat sinema Indonesia yang dipayungi Bhinneka Tunggal Ika, justru terus-terusan mengangkat satu agama mayoritas. Dengan kemajemukan dalam tim, Ertanto Robby tidak pernah terbersit mempertanyakan agama tiap pemain. Sebenarnya, ini pertanyaan kecil yang seharusnya tidak terlontar di Indonesia dengan kemajemukan agama, suku, dan ras. Ini yang ingin didobrak oleh Robby.
 
"Sebagai filmmaker kita pasti punya kerisauan masing-masing. Ketika saya melihat, jujur saat 2016, kok enggak ada film religi dari agama lain di Indonesia. Saya bertanya, kalau enggak ada, terus kamu mau ada, kamu do something dong, bikin. Jangan memprotes tapi enggak melakukan apa-apa. Akhirnya bikinlah film ini. Ketika bikin, pertama naskah setelah jadi yang saya cari adalah Ical Tanjung sebagai kameramen. Terus kumpulin satu-satu, Allan Sebastian, lagi ada acara teater, kang ikutan dong, sedekah atuh kang. Dia sudah main film-film besar kan," tutur Robby menjelaskan.
 
"Tapi ketika ditanya kenapa bisa Muslim semua ini yang bikin? Proses ngumpulinnya enggak kepikiran satu-satu, ini Muslim. Enggak gitu. Lihatnya lebih ke prestasi, cocok nih bekerja sama, punya visi yang sama, pingin sinema Indonesia beragam. Pas Maudy juga begitu pas lempar trailer, orang mempertanyakan kok bisa Maudy yang main? Enggak ada pikiran atau ekspektasi ke situ," jelasnya.
 

Perjalanan spiritual Ertanto Robby dan kerja kolektif sukarela
 
Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam
 
Riset panjang dilakukan Robby selama 2016. Berbulan-bulan dia melakukan observasi tentang kesusteran di Semarang, serta meminta izin dari keuskupan untuk menggarap film Ave Maryam di biara. Syuting film ini juga mengambil latar tempat di Yogyakarta. Pada pekan terakhir November 2016, dalam waktu sembilan hari, Ave Maryam rampung dikerjakan. Robby mendapat fakta baru bahwa sebenarnya Indonesia baik-baik saja dengan keberagaman agama.
 
"Setelah bikin film ini yang saya dapatkan spiritual journey buat saya sendiri. Pertama, saya respect banget sama pastor dan biarawati. Integrasi sosial dengan mereka, berbicara dengan mereka menemui kenyamanan, kerukunan, tidak ada sifat mereka yang jahat atau apapun ke saya. Respect banget, pokoknya Indonesia Bhinneka banget. Mereka mau menerima kita dengan baik dan gembira. Masih WhatsApp terus juga saling mendukung. Mereka selalu menunjukkan hubungan mereka dengan yang lain-lain juga berbeda agama. Kita pikir perlu juga media menulis ini," kata Robby.
 
"Sebenarnya di luar sana semuanya hidup rukun. Kadang-kadang saya juga banyak media yang menjadikan ambisius dengan hal yang berantem. Di Semarang semuanya hidup rukun dan damai," ungkapnya.
 
Kerja kolektif ini pun dikerjakan secara sukarela, tidak menghitung bayaran. Sementara, jika ditelisik para pemain dan tim produksi yang terlibat adalah orang-orang profesional. Di balik layar, ada Ical Tanjung yang terlibat dalam produksi film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar. Lalu Allan Sebastian yang menjadi langganan penata artistik di sejumlah film populer. Ertanto Robby menganggap kerja kolektif sukarela ini berbekal visi yang sama untuk memberi warna baru di sinema Indonesia.
 
"Sukarela di sini adalah semuanya tidak dibayar. Bekerja terus sampai cast enggak dibayar sama sekali. Mereka bekerja dan berdedikasi kenapa? Niatnya sama. Visinya ketika mereka ngumpul semuanya sama. 2016 itu visi kita sama," jelas Robby.
 
Robby bahkan memiliki kerinduan untuk melakukan syuting kembali bersama tim produksi film Ave Maryam. Namun, dia sadar hal yang sama tidak akan terulang persis seperti yang sudah dilalui.
 
"Kalau ditanya sekarang pingin enggak syuting lagi Ave Maryam? Film ini adalah film yang selalu bikin saya kangen. Kalau saya nonton lagi, seru banget. Pingin banget syuting lagi, tapi enggak bisa kita ulang. Saya udah yakin ini udah jadi kisah, yang udah jadi. Enggak bisa disekuelin lagi juga. Kita udah harus move on ke sesuatu yang baru juga dan ini cuman jadi romantisme kita jadinya, akhirnya. Kita senang banget pernah berkumpul bersama dengan visi yang sama karena ketertarikan untuk membikin sesuatu yang mengisi sinema dengan warna aja," terang Robby.
 
Pertimbangan memilih Maudy Koesnaedi memerankan Suster Maryam
 
Maudy Koesnaedi adalah kandidat kuat yang diinginkan Ertanto Robby memerankan Maryam. Selain memiliki paras dan personaliti yang tepat, pribadi suster dalam usia 40-an tahun dan berkharisma ada pada Maudy Koesnaedi. Namun rupanya pertanyaan justru banyak yang muncul ketika Maudy Koesnaedi tampil dalam trailer perdana Ave Maryam tahun lalu.
 
"Ketika ada pertanyaan, Maudy Koesnaedi kok main jadi biarawati, sih? Dia pasti cari sensasi. Kalau dia cari sensasi pasti dia enggak dapat bayaran yang gede juga. Dia kerja sukarela. Kalau kerja sensasi pasti minta bayaran gede. Ini cuma kerja sukarela, enggak ada ekspektasi ke situ, sih. Bikin aja. Sampai rilis di bioskop juga Alhamdulillah, dipermudah. XXI sangat koperatif banget ngasih layar dan tanggal. Memang rezekinya film ini," kata Robby.
 
Apakah ada opsi lain selain Maudy Koesnaedi? Tentu Robby mengantungi nama lain. Dia menyebut Happy Salma.
 
"Sempat kepikiran tertarik bikin sama Happy Salma. Karena wajahnya Indonesia banget dan aktingnya bagus juga," kata Robby.
 

Maryam ingin melihat dunia lebih luas
Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam
 

Ada satu adegan menarik ketika Maryam membuka bingkai jendela lalu melihat biru laut dan langit. Kupu-kupu kecil masuk dan menarik perhatian Maryam. Dalam scene ini, Robby ingin menyampaikan pesan melalui mitos yang konon menjadi pertanda di masa depan. Maryam menginginkan kebebasan dan melihat dunia lebih luas.
 
"Saya senang ketika kita bikin, bikin aja biar setiap orang punya pemikiran sendiri. Saya sebagai penulis ingin menunjukkan bahwa di luar sana ada dunia yang luas. Biru, ada wujud sebagai pendamaian, laut, dan lain-lain. Kupu-kupu datang, ada tamu. Ketika adegan selanjutnya, ada Romo Yosef yang datang. Kayak gitu saya selalu dari kecil, keluarga saya suka dengan, itu namanya -gigi patah dibuang ke atas- mitos. Kalau ada kupu-kupu dalam rumah nanti akan ada tamu. Itu saya coba masukin ke dalam realitas-realitas," kata Robby.
 
"Dari situ saya jadi merasakan bahwa kita kadang-kadang sebagai filmmaker (berpikir) terlalu jauh dari keseharian kita. Makanya sekarang kita jarang banget nonton film Indonesia yang gosok gigi aja, padahal sederhana, tapi semuanya dibikin cantik terus. Maka dari itu memotret mitos sederhana dan berharap orang sadar," lanjutnya.
 

Sacred Heart: Gerbang kisah Maryam dan komitmen pada kaulnya
Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam
 
Scoring film memiliki peran penting untuk penonton terhanyut dalam cerita. Aimee Saras digandeng Robby mengisi scoring film Ave Maryam. Alunan suara jazz Aime Saras membawakan lagu Sacred Heart menyuarakan hati Maryam yang diterpa godaan untuk setia pada kaulnya, saat Romo Yosef hadir. Sacred Heart diciptakan oleh The Spouse, yang menggarap soundtrack film Pengabdi Setan.
 
Fakta menarik, lagu ini ternyata bermula dari kecintaan Ertanto Robby dengan suara penyanyi Amerika Serikat Lana Del Rey, musisi yang dikenal dengan julukan Queen of Sad. Robby terpikat dengan Lana Del Rey saat membawakan lagu Goodbye Kiss yang semula secara orisinil dipopulerkan oleh Kasabian. Goodbye Kiss terdengar lebih fun ketika dibawakan Kasabian, sementara Lana Del Rey meng-cover lagu secara akustik dan membuatnya terdengar lebih romantis.
 
"Dengar Lana Del Rey? Itu sangat persis. Film ini, itu aku dalam banget sih. Aku jadi ngerti tentang dunia. Universe, kadang-kadang sama sesuatu hal yang kita mau, kita pikirin dan terjadi. Aku dengar lagu Lana Del Rey itu dan aku suka banget. Ketika bikin soundtrack, aku minta semua orang yang terlibat dikasih kesempatan berpikir mau bikin apa. Ini filmnya, coba deh kamu bikin apa. Aku enggak mau harus seperti ini, referensinya seperti ini, enggak. Biarin berkembang dulu, terus kita diskusi, ini ada yang enggak pas. Tiba-tiba ditelepon, Rob ini sudah jadi soundtrack-nya. Pas sudah dengar, sama persis kayak Lana Del Rey," ucap Robby yang tampak bersemangat menceritakan lagu tersebut.
 
Rupanya kecintaan Robby terhadap Lana Del Rey pun diamini Aimee Saras. Mereka dipertemukan oleh semesta.
 
"Aku enggak pernah ngomong sama Aimee Saras, ternyata dia ngefans banget sama ini juga. Aku dengerin ini suka banget, tapi aku enggak bilang. Universe membawa saya kepada Aimee Saras," kata Robby.
 
"Kadang-kadang di kita tanpa bicara, possible saja segala sesuatu bisa terjadi. Saya juga bingung. Universe itu menarik, di dunia nomor satu bekerja tanpa ekspektasi, menarik. Selama dalam hidup cuma dua, berbuat baik dan jahat, udah. Setelah itu pasti universe menarik kita ke orang-orang yang tepat buat kita bekerja sama dengan siapapun," tukas Robby.
 
Tak banyak kata dalam dialog, apa yang ingin disampaikan Robby melalui Ave Maryam?
 
Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam
Keheningan akan banyak ditemukan dalam film Ave Maryam. Selain mendukung latar tempat biara yang memang tidak diperkenankan bising, banyak pesan-pesan semiotika seperti permainan warna dan gerakan-gerakan kecil dalam film. Apa yang dilakukan Suster Maryam dan Romo Yosef jelas terlarang, tetapi tidak ada satu pun adegan pemberontakan dalam film ini.
 
"Ini bukan tipikal tiba-tiba marah-marah atau bentak-bentak, memang si tokoh enggak begitu. Berusaha believable aja dengan karakter itu," terang Robby.
 
Robby ikut belajar, bagaimana tradisi umat Katolik menyelesaikan masalah tanpa mencampuri kehidupan orang lain. Padahal, peran Suster Moniq bisa saja menegur Romo Yosef dan Suster Maryam. Robby menangkap romantisme dalam tradisi ini.
 
"Kenapa enggak ada yang saling menasihati? Ini yang paling bagus di Katolik menurut aku. Ketika riset. Suster, kalau melakukan kesalahan dan suster melihat, memergoki, suster marahin atau kasih tahu? Untuk hubungan asmara dan lain-lain dia menunggu suster itu cerita karena bukan urusan dia. Dia membawa segala sesuatu yang terjadi, ada aturan sendiri di Katolik. Di kesusteran bahwa tidak boleh ikut campur urusan orang lain, tidak boleh marah-marah, iri, sirik, karena bisa dibilang dia punya kelebihan dengan bisa mengontrol emosi, memurnikan diri, tidak terlibat dengan urusan orang lain kecuali yang punya masalah bercerita, minta tolong, baru bisa dikasih pemikiran," jelasnya.
 
 
 
(ELG)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif