Mengangkat Kembali Film Anak-Anak

Purba Wirastama 13 Maret 2018 21:11 WIB
montase film
Mengangkat Kembali Film Anak-Anak
Maisha Kanna, M Adhiyat, Lil'li Latisha, dan Fadlan Rizal (miles films)
Jakarta: Petualangan Sherina – satu-satunya film Sherina Munaf yang telah dirilis – hampir selalu muncul dalam obrolan mengenai sinema anak-anak Indonesia. Apalagi jika topiknya adalah keluhan soal jumlah film anak-anak yang sangat sedikit.

Film panjang pertama Miles Films ini layak disebut sebagai legenda. Selain termasuk generasi film pionir pasca-reformasi, film musikal ini juga bisa dibilang menjadi salah satu pendongkrak tren bagi proyek film berikutnya. Kita mengenal misalnya Joshua Oh Joshua (2001) dan Petualangan 100 Jam (2004) yang dibintangi Joshua Suherman.

Dua dekade berselang, produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza hendak mengulang semangat itu lewat proyek film Kulari ke Pantai. Tujuannya serupa, yaitu menciptakan tontonan film bioskop bagi anak-anak yang tentu sudah berganti generasi. Jika akhirnya nanti disambut baik oleh penonton, film ini diharapkan dapat ikut mendorong pertumbuhan film anak-anak di Indonesia yang kerap dikeluhkan.


Miles memang punya catatan menarik soal pembentuk tren genre. Mereka punya Ada Apa dengan Cinta? (2002) dan sekuelnya (2016), serta Laskar Pelangi (2008). Ketiga film sukses secara komersial dan ikut mendorong produser lain membuat film dengan genre serupa.

"Teman-teman pembuat film lain, yang menurut saya juga punya anak-anak seumuran kedua pemain kami, nanti juga bisa terpanggil untuk mencipta film untuk anak-anak. Dulu kita punya Nia Zulkarnaen yang sangat konsisten membuat film anak-anak. Kami sangat terharu menjadi pemicu lagi," kata Mira dalam sesi diskusi terbatas di Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.




Jumlah minim ini barangkali yang membuat film-film seperti Petualangan Sherina, Joshua Oh Joshua, atau Untuk Rena (2005), Laskar Pelangi (2008), dan Garuda di Dadaku (2009) menjadi mudah diingat. Meskipun film anak sempat menjadi tren, umurnya tak panjang.

Dalam lima tahun terakhir saja, film anak-anak tak sampai 15 judul dari total 500-an film produksi. Itu pun tidak semua didukung dengan dana promosi besar. Lalu selama 10 tahun terakhir, hanya satu film anak-anak yang menduduki peringkat 10 terlaris.

Beberapa film terakhir antara lain Naura & Genk Juara (2017), Jembatan Pensil (2017), Surau & Silek (2017), Iqro: Petualangan Meraih Bintang (2017), Ayu Anak Titipan Surga (2017), Aku Ingin Ibu Pulang (2016), Para Pemburu Gajah (2014), Leher Angsa (2013), serta Princess, Bajak Laut & Alien (2014).

Film Naura dan Genk Juara (Foto: KG Studio)

Generasi Baru dalam Kulari ke Pantai

Kulari ke Pantai berkisah tentang Sam dan Happy, dua sepupu perempuan seusia SD yang berlibur dari Jakarta menuju Banyuwangi lewat perjalanan darat bersama Uci, ibu dari Sam. Uci diperankan Marsha Timothy, yang berpasangan dengan Ibnu Jamil sebagai pemeran ayah.

Sam dan Happy diperankan dua aktor baru, Maisha Kanna dan Lil'li Latisha. Meski ini film layar lebar pertama mereka, Maisha dan Lil telah lebih dulu terjun ke dunia akting lewat pertunjukan teater Musikal Petualangan Sherina garapan Jakarta Move In pada 2017.

Mira dan Riri menemukan Maisha dan Lil lewat proyek musikal tersebut. Mereka memang ikut terlibat sebagai pembimbing pertunjukan dan bertemu dengan lebih dari 50 pemain anak-anak dari Jakarta. Tidak ingin melewatkan talenta baru, mereka mengajak sejumlah anak untuk bergabung ke Kulari ke Pantai. Bagi Mira, proyek film ini menjadi seperti salah satu jawaban atas dua persoalan sekaligus.

"Selain ada krisis film anak-anak, kita juga punya krisis sumber daya kreatif di Indonesia. Film semakin marak, semakin banyak yang mau bikin investasi, semakin banyak yang mau bikin film, tetapi pemain tidak banyak. Pemain mulai berebut, kru mulai berebut," ujar Mira.

Menurutnya, ini memang salah satu masalah klasik perfilman Indonesia. Salah satunya penyebabnya adalah institusi pendidikan kreatif yang kurang bertumbuh. Dengan membuka pintu bagi pemain baru, mereka ingin berkontribusi bagi penambahan aktor-aktor generasi baru.

"Ketika membuat film anak, paling tidak aktor cilik itu muncul dan mereka kelak kami harapkan bisa terus (menjadi aktor), seperti halnya Sherina, Derby Romero. Seperti halnya anak-anak yang ikut kami di Musikal Laskar Pelangi (2010-2011) – Iqbaal (Ramadhan), Bastian Steel, Kiki, dan Aldy – itu terus bermain film. Kami harapkan anak-anak di sini juga bisa terus," tutur Mira.

"Lima tahun ke depan saja, kalau sekarang usia (pemain) 10, sudah jadi 15 dan sudah masuk pasar. Itu enggak kerasa. Buat kami saja, melihat Iqbaal sekarang kaget sekali. Dulu segini, tiba-tiba sekarang sudah kuliah. Mengedip mata, sudah (bertambah usia). Suatu hari nanti dia akan menjadi bintang dewasa," lanjutnya.

Tak hanya Maisha dan Lil, pemain anak-anak yang terlibat antara lain Fadlan Rizal dan M Adhiyat. Fadlan adalah pemain Musikal Petualangan Sherina, sedangkan Adhiyat, kita mengenalnya lewat film horor Pengabdi Setan (2017). Fadlan berperan sebagai Wahyu, anak pemilik rumah homestay. Adhiyat berperan sebagai Dion, adik dari Happy.

Namun karena "siapa aktornya" adalah salah satu faktor penunjang popularitas film, anak-anak ini ditemani oleh para aktor senior yang lebih dulu populer. Selain Marsha dan Ibnu, susunan pemain Kulari ke Pantai didukung oleh Lukman Sardi, Karina Suwandi, dan Mo Sidik. Lalu juga ada figur populer seperti Edward Suhadi, Dodit Mulyanyo, Ligwina Hananto, Praz Teguh, Yudha Khan, serta Dani (@suku_dani).


Poster Kulari ke Pantai (miles films)

Sejumlah komika terlibat untuk mendukung kemasan kisah ini sebagai film drama komedi. Selain itu, kata Mira, komika juga menjadi salah satu pendongkrak aspek komersial film.

"Di antara kehebohan film Indonesia, film anak mungkin tidak terlalu dilirik untuk diinformasikan lebih lanjut. Tentu kami harus membuat beberapa usaha supaya pesan ini sampai (...). Memberitahu filmnya seperti apa, jenis filmnya, ceritanya, dan tentu saja siapa saja yang akan main di film ini," ucapnya.

"Ada beberapa komika yang kami ajak. Itu sudah menjadi penanda bahwa film ini akan menyenangkan," imbuh Mira.

Kulari ke Pantai bukan satu-satunya proyek yang membawa pemain anak-anak baru ke dunia perfilman. Keluarga Cemara, proyek film adaptasi yang sedang dikerjakan Visinema Pictures, juga membawa para pemain yang terhitung baru seperti Widuri Putri Sasono (putri Dwi Sasono), Adhisty Zara JKT48, Kafin Sulthan (Musikal Laskar Pelangi), serta Josia dari sebuah kelompok teater kecil.

"Sangat menyenangkan ketika kami kerja sama dengan talenta baru yang tersembunyi," kata produser Keluarga Cemara, Anggia Kharisma kepada Medcom.id pada awal 2018 saat film telah mulai syuting.

Lalu ada Petualangan Menangkap Petir yang juga sedang dalam pengerjaan oleh Fourcolours Films. Pemain anak yang terlibat antara lain Zara Leola (putri Enda "Ungu"), Jidate Ahmad (vlogger), serta Danang Parikesit. Ada pula aktor anak yang telah bermain film sebelumnya, seperti Bima Azriel dan Fatih Unru.


Kru dan pemain film Keluarga Cemara (visinema)

Tren Butuh Contoh

Tak banyak produser yang berani membuat film anak-anak meskipun gairah investasi produksi film meningkat dalam dua tahun terakhir. Penyebabnya mungkin beragam. Salah satu yang diungkap Mira adalah ketakutan bahwa proyek film akan merugi.

"Kebanyakan produser biasanya melihat apa yang sedang tren dan laku. Untuk memulai sesuatu yang baru memang butuh keberanian karena (produksi film) memang butuh biaya besar. Kemungkinan balik modal di film, kita enggak pernah tahu," ungkap Mira.

"Misal dulu Petualangan Sherina meledak, tiba-tiba banyak yang bikin film anak-anak. Namun begitu gagal, gagal, gagal, mereka pasti akan ke tempat lain. Begitu film AADC meledak, semua akan bikin film remaja, remaja, remaja. Sekarang saya yakin, ketika Dilan 1990 meledak, akan muncul film remaja, remaja, remaja. Jadi memang harus ada contoh," lanjutnya.

Menurut Mira, film anak-anak pionir harus berhasil supaya tren genre anak atau keluarga meningkat. Tingkat keberanian para produser film harus didorong oleh kesuksesan film lain.

"Saya tidak menyalahkan yang tidak berani karena memang biaya bikin film itu enggak murah. Kalau enggak balik modal, ya berat. Butuh keberanian," ucapnya.


Kru dan pemain Kulari ke Pantai (miles films)

Mira merasa beruntung ada sejumlah investor yang mau menjadi rekan produksi untuk film ini. Ada perusahaan makelar transportasi Go-Jek yang kini melirik investasi film. Ada Ideosource, venture capital yang didirikan Andi Boediman dan Edward Chamdani. Ideosource juga menjadi rekan produksi untuk Keluarga Cemara. Lalu ada BASE, rumah produksi baru dari Shanty Harmayn.

"(Mereka) beberapa rekan yang merasa ini waktunya membuat sesuatu yang benar-benar untuk anak-anak," ujar Mira.

Kulari ke Pantai telah memulai tahap syuting sebulan mereka pada akhir pekan lalu. Film ini ditargetkan untuk dirilis tahun ini. Dengan Kulari ke Pantai, ditambah Petualangan Menangkap Petir dan Keluarga Cemara yang juga hendak dirilis tahun ini, boleh kita tersenyum gembira melihat atmosfer baru film anak-anak Indonesia pada 2018.

 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id