Proyek Regenerasi Keluarga Cemara
Kru dan pemain film Keluarga Cemara (visinema)
Jakarta: Bagi produser Anggia Kharisma serta Ginatri S Noer, penulis skenario yang kini juga produser lewat film Keluarga Cemara, perkembangan industri tak dapat lepas dari regenerasi pelakunya. Atas salah satu pertimbangan ini, mereka mengerjakan proyek daur ulang Keluarga Cemara bersama sejumlah kru dan aktor yang terhitung segar.

"Generasi ini harus dibikin lintas generasi, enggak bisa terus-terusan bertahan dengan sebelumnya," kata Anggia kepada Medcom.id saat ditemui di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, belum lama ini.

"Dengan kami buka kesempatan itu, industri akan berkembang dan enggak stagnan. Selalu ada warna baru, cara pikir baru, cara mereka melihat film. Banyak banget film baru," imbuhnya.


Menurut Gina, keragaman ini juga bisa ikut mendorong pertumbuhan penonton film domestik di bioskop, yang telah meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Untuk 2017, total jumlah penonton film-film domestik adalah sebesar 41 juta orang.

"Akumulasi 41 juta itu cuma (film-film) dari orang-orang (sineas dan aktor) yang itu-itu saja, dan ini terasa banget ketika kami mau bikin film. (Kami) sudah punya rencana panjang, pas ditanya talent-nya siapa? Hmm itu-itu lagi dan kalau syuting rebutan," tutur Gina dalam kesempatan sama.

Dia mencontohkan salah satu proyek film baru-baru ini yang hendak mencari aktor usia 30-an. Pencarian ini menjadi sangat sulit karena para aktor dengan kriteria yang dimaksud terlibat dalam satu proyek film besar.

"Lalu kebayang, ini orang ratusan juta jiwa dan banyak banget bakat terpendam. Misal lihat film Turah, itu pemain daerah dan aktingnya bagus banget. Cuma enggak pernah benar-benar terkoneksi," tutur Gina.

Keluarga Cemara Rasa Baru

Generasi yang hidup dengan media massa era 1990-an sudah cukup familiar dengan Keluarga Cemara. Serial televisi ini berkisah tentang Abah dan Emak dengan tiga anak perempuan yang menjalani hidup sangat sederhana di kota kecil.

Serial tersebut dibuat oleh Arswendo Atmowiloto, jurnalis dan penulis senior yang juga mengerjakan skenario adaptasi Pacar Ketinggalan Kereta bersama sutradara Teguh Karya.

Hampir dua dekade berselang, Visinema Pictures hendak membarui kisah keluarga Abah dan Emak dalam kemasan film terbaru. Proyek diawali dari diskusi Anggia dan Angga Dwimas Sasongko, suami-istri yang menjalankan Visinema, serta Gina pada 2016.


Anggia Kharisma dan Ginatri S Noer (dok pribadi)

"2018, kami harus bikin film keluarga yang relevan dengan jaman sekarang. Salah satu yang terpilih adalah Keluarga Cemara (...), dan Mas Wendo baik sekali memberikan kebebasan dan ruang ekspresi," ujar Anggia dalam jumpa pers di Jakarta, beberapa hari sebelum kami bertemu.

Keluarga Cemara Segera Mulai Syuting

Gina, selain menulis naskah, dipercaya untuk menjadi produser. Ini kali pertama dia memimpin produksi film panjang setelah menekuni dunia produksi film satu dekade lebih. Kursi sutradara diberikan ke Yandy Laurens, lulusan Institut Kesenian Jakarta yang baru pertama mengarahkan film cerita panjang.

"Saya dan Gina, ketika ide film ini terbersit, dengan bangga bilang dari awal bahwa kita harus kasih kesempatan buat the young guns. Salah satunya Yandy," ujar Anggia di Tangerang Selatan. Waktu itu proses syuting sedang memasuki hari kedua.

Dua kru lain yang terhitung 'baru' adalah editor dan pengarah musik, yaitu Hendra dan Ifa Fachir. Ifa, yang pernah bergabung ke grup Maliq & D ’Essentials sebagai pianis, telah terlibat dalam sejumlah proyek musik. Ini kali pertama dia mengerjakan musik untuk film.

Menurut Anggia, kolaborasi dengan orang baru tak hanya terjadi di Keluarga Cemara. Sejak awal, Visinema memang ingin bekerja sama dengan orang baru yang dinilai punya talenta tersembunyi.

"Kalau kami enggak buka talenta mereka ke publik, enggak akan ada yang tahu. Sayang buat kami, dan apa yang terjadi selalu seperti itu. Contohnya editor yang pernah kerja sama (Teguh 'Tejo' Raharjo), film pertama Bukaan 8, tapi sekarang dia jadi editor film Wiro Sableng," tuturnya.

Selain menyambung lintasan estafet perfilman, kolaborasi debutan juga mampu membawa perspektif baru yang tak jarang bermanfaat bagi proses kreatif.

"Kami selalu suka cara mereka berpikir, kami selalu dapat perspektif baru. Itu yang akhirnya (jadi refleksi), generasi ini harus dibikin lintas generasi, enggak bisa terus-terusan bertahan dengan sebelumnya," ungkap Anggia.

Tahun ini, setidaknya ada empat proyek film panjang dari sutradara debutan. Selain Yandy, ada Sidi Saleh, Yusuf Radjamuda, dan Pandji Pragiwaksono. Anggia menyebut ini momen tepat untuk membuka pintu bagi orang-orang baru.

"Apalagi Keluarga Cemara, aku dan Gina sepakat, ini IP (intelectual property) yang paling tua, yang paling ingin kami jaga. Gimana cara menurunkan ke millenials, ya kami kemas lagi dengan cita rasa jaman sekarang," ungkapnya.

Tak hanya kru, aktor baru juta dilibatkan, terutama anak dan remaja. Setelah memilih Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir untuk peran Abah dan Emak, tim Anggia dan Gina mencari para pemeran anak-anak yang juga tak mudah karena berbagai hal, termasuk minimnya casting director yang benar-benar militan mencari bakat baru.

Akhirnya dipilih sejumlah nama seperti Adhisty Zara JKT48, Widuri Putri Sasono (anak Dwi Sasono), Yasamin Jasem (Kesempurnaan Cinta), dan Kafin Sulthan (Musikal Laskar Pelangi). Lalu ada Josia, aktor anak yang disebut Anggia berasal dari kelompok teater kecil. Tentu ada banyak pertimbangan, termasuk dari aspek komersial dan kualitas.

Zara JKT48 dan Widuri Putri Sasono Bergabung dengan Keluarga Cemara

"Kami terbuka karena kami tahu semangat mereka, yang juga mesti kami dorong, dan kami tahu gimana cara membentuk mereka menjadi seperti nafas dari naskah Keluarga Cemara. Kami mau ambil resiko dengan yang baru tanpa melupakan nafas utamanya, di sini ada Emak dan Abah," tutur Anggia.

"Sangat menyenangkan ketika kami kerja sama dengan talenta baru yang tersembunyi. Enggak nyangka juga kan di film Pengabdi Setan, anak kecil itu, Adhiyat, jadi keren banget," imbuhnya.

Gina bercerita bahwa dirinya termasuk generasi yang terjun ke film lewat pintu-pintu kenekatan magang saat perfilman mulai tumbuh lagi pasca-reformasi. Dia dan Angga adalah peserta workshop film Ada Apa dengan Cinta? produksi Miles Films. Anggia pun awalnya dokter gigi, tetapi pernah punya riwayat produksi film saat SMA.

Menurut Gina, pelaku perfilman terkini tidak sekadar berasal dari latar belakang sekolah film, tetapi lewat pintu yang dibukakan oleh sosok seperti Garin Nugroho, kemudian Hanung Bramantyo, Mira Lesmana, atau Riri Riza. Bahkan salah satu produser eksekutif Keluarga Cemara pernah bekerja sebagai resepsionis kantor Miles.

Film Keluarga Cemara akan Jelaskan Awal Mula Keluarga Euis Versi Sinetron

Hal ini pula yang jadi pertimbangan Gina dan Anggia untuk membuka pintu lebar serupa bagi talenta baru, tetapi tetap dengan keberanian dan kepercayaan yang terukur.


Ginatri S Noer (dok pribadi)

"Kami pakai talenta baru karena kami sudah melihat dan mencoba. Misal Yandy (direkrut menjadi sutradara), enggak asal kepercayaan buta (...). Justru ketika kita ingin makin berkembang, kita harus punya keberanian," ucap Gina.


Kolaborasi Demi Industri Sehat

Anggia percaya setiap produser dan pelaku perfilman memiliki cara masing-masing dalam menghidupkan industri. Namun dia juga tetap berusaha membangun iklim kolaborasi supaya satu sama lain saling menjaga industri ini.

"Seperti kami bersahabat banget dengan Edi (Muhammad Zaidi) dari Palari. Kami saling menjaga ini. Gina dan aku juga menjaga, enggak diem-dieman saja," ujarnya.

"Kami selalu coba dapat masukan. Gina selalu ngobrol dengan Mbak Mira. Kami juga ngobrol dengan teman-teman produser lain. Kami terbuka terhadap diskusi, bahkan lintas bidang juga, enggak melulu film," lanjut Anggia.


Anggia Kharisma (dok pribadi)

Menurut Gina, pernah ada era perfilman yang berisi persaingan tidak sehat antar pelaku. Iklim kerja sama antar bidang dan kalangan dinilai bisa membangun gelombang baru yang bersaing lebih sehat.

"Mungkin dulu kita pernah punya generasi industri yang punya tokoh masing-masing, terus ada yang ketika mulai stabil, bersaing secara tidak sehat. Mudah-mudahan ini akan jadi generasi yang bersaing tapi mendahulukan kerja sama, membangun industri besarnya," ucap Gina.

"Setiap dari kita pasti punya visi sendiri dan akan punya tempat sama, seperti film yang selalu menemukan penontonnya," sambung Anggia.

Mereka berharap kerja sama semacam itu mampu menghasilkan film box office yang lebih beragam dan tak hanya didominasi satu aliran saja. Misalnya, drama religi. Dominasi ini menutup pintu yang mungkin akan dimasuki kalangan penonton lain.

Sebagai produser baru pun, Gina optimis bisa memberi warna baru. Baginya, keragaman dalam industri film Indonesia bisa diawali dengan penambahan jumlah produser.

"Setiap orang punya pemikiran beda. Seperti gue sebagai produser baru dan penulis skenario, gue bersyukur Visinema punya visi untuk memberi kesempatan kepada yang baru. Alhamdulillah, menurut gue makin banyak rumah produksi yang berani," ungkap Gina.

"Gue percaya banget ini akan jadi gelombang baru buat industri kita," tukasnya.

 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id