Upi sebagai sutradara Sri Asih (Foto Cecylia Rura)
Upi sebagai sutradara Sri Asih (Foto Cecylia Rura)

Perempuan Penerjang Maskulinitas Perfilman Indonesia

Hiburan montase film
Cecylia Rura • 26 Oktober 2019 08:08
Jakarta: Bukan pekerjaan teratur sebagaimana jam kerja eight to four atau nine to five, industri film adalah lapak pelaku seni bersinergi dengan kreativitas dan bisnis tanpa batas waktu. Perempuan kini sebagai pekerja film tak lagi melulu berurusan dengan bedak, riasan, wardrobe, dan naskah. Kini mereka ikut mengemban tugas memutar logika di balik layar.
 
Sebelum menjadi lapak menggembirakan seperti sekarang, industri film mengalami mati-suri di negara sendiri. Tepatnya pada era 90-an, dapat dikatakan film Kuldesak (1998) produksi Miles Films dengan empat sineas yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan T. Achnas menghidupkan kembali nyawa film Indonesia di tengah layar bioskop yang didominasi judul film asing.
 
Aktor perempuan senior, langganan peraih Piala Citra, Christine Hakim menjadi saksi bagaimana peran perempuan kini kian berkembang dari masa ke masa. Selain saat itu perempuan kerap sebagai pemanis visual cerita, belum ada keberanian untuk menjajaki profesi maskulin di belakang layar. Nilai-nilai patriarki masih sangat dominan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dulu waktu ibu mulai awal tahun 70-an terasa sekali memang dominasi film Indonesia dari sudut pandang laki-laki dan juga di samping itu, apakah itu dari segi konten filmnya. Tapi dalam segi industri itu sendiri belum ada yang punya keberanian sebagai editor, DOP (director of photography), tapi lebih kepada sebagaimana perempuan berhubungan dengan kecantikan," tutur Christine Hakim di kantor Media Group dalam rangka promosi film belum lama ini.
 
Christine sepakat, Kuldesak selain sebagai pemantik kesegaran film Indonesia di negeri sendiri, ikut menjadi gong kemunculan nama-nama perempuan sebagai bos produksi film. Miles Films melakukan itu melalui Mira Lesmana, Nan T. Achnas, dan Shanty Harmayn. Film Pasir Berbisik (2001) menjadi tongkat estafet euforia film Indonesia dari sutradara Nan T. Achnas, menggandeng pemain Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo. Menyusul film anak Petualangan Sherina (2000) dan kisah cina remaja Ada Apa Dengan Cinta (2002).
 
"Seperti Pasir Berbisik, sutradara dan produser perempuan. Kontennya juga sudut pandang sangat perempuan sekali. Kita bersyukur berlangsung sampai sekarang," ucap Christine.
 
Perempuan Penerjang Maskulinitas Perfilman Indonesia
Sutradara film Kuldesak 2 (Foto Miles Films)
 
Objektifikasi perempuan ini juga merambah pada konten tertentu, seperti film komedi dan horor. Dalam genre komedi, misalnya Warkop DKI setiap episode cerita tak luput menampakkan nilai seksisme dan kemolekan perempuan. Mereka pun dikenang sebagai para perempuan Warkop DKI seperti Eva Arnaz, Elvy Sukaesih, Meriam Bellina, Ira Wibowo, Camelia Malik, Lydia Kandao, Diah Permatasari, dan Minati Atmanegara.
 
"Awalnya perempuan lebih dieksploitasi. Kita bisa lihat film-film komedi yang menggunakan perempuan-perempuan seksi, dengan hot pants (celana pendek) dan skirt (rok). Perempuan hanya sebagai objek, bukan subjek. Jadi, (sekarang) ada pergeseran itu ke arah lebih positif," kata Christine.
 
Sutradara Riri Riza, ditemui Medcom.id di Jakarta Pusat, mengamini perkataan Christine Hakim atas lahirnya produser perempuan pada momen kebangkitan film Indonesia. Keterlibatan perempuan di dapur produksi tak membuat alur cerita film menjadi stagnan. Muncul keberagaman dan perluasan sudut pandang. Tugas produser sudah pasti berkutat dengan masalah pemodalan dan kriteria cerita.
 
"Posisi produser perempuan itu menggembirakan sekali karena dia menjadi strategis. Melihat film tidak hanya dalam konteks cerita, dalam konteks istilahnya kualitas teknis, tapi melihatnya dari angle lebih luas. Itu tidak disadari tapi mulai terjadi. Mulai dari protagonis perempuan makin banyak di dalam film dan melahirkan generasi film yang punya kepekaan yang lebih baik terhadap kesetaraan itu," tutur Riri.
 
Butuh sutradara perempuan maskulin
 
Mengangkat perkembangan nama-nama perempuan di dapur produksi tak melulu mengunggulkan mereka dengan sudut pandang feminisme. Untuk saat ini, sudah banyak yang menyuarakan itu sebut saja Mouly Surya yang tampak jelas dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) lalu kini muncul nama Meira Anastasia dengan film Imperfect (2019) yang diangkat dari buku garapannya.
 
Produser film dari Fourcolours, Yogyakarta, Ifa Isfansyah menilai perlu ada keseimbangan antara sutradara perempuan dan laki-laki dengan sudut pandang perempuan, serta sutradara perempuan dan laki-laki dengan sudut pandang pria. Ifa bahkan menilai, bukan persoalan gender, kini sudah banyak sutradara laki-laki yang membuat cerita dari sudut pandang perempuan.
 
"Banyak sekali bahkan pembuat-pembuat film laki-laki yang sebetulnya perspektifnya sangat perempuan, karakter yang dia sampaikan. Justru sekarang yang sebenarnya saya akui kurang sesuatu yang (...), feel (terasa), karena kebanyakan pembuat film laki-laki itu perspektifnya cerita atau menyuarakan suara perempuan, karakternya. Kita kenal film-film seperti Siti (2014), memang perempuan," kata Ifa Isfansyah ditemui Medcom.id di Jakarta Pusat.
 
"Tapi, harus ada perempuan yang cara bertuturnya sangat laki-laki. Kalau kita lihat misalnya pembuat film di Indonesia seperti Upi, itu kan perempuan tapi bagaimana perspektif dia dan karakter filmnya laki-laki," tegas Ifa Isfansyah.
 
Satu dari sekian nama, Upi memang kerap melahirkan karya-karya dari sudut pandang pria. Upi menyutradarai beberapa film di antaranya 30 Hari Mencari Cinta (2004), Realita Cinta dan Rock N' Roll (2006), Radit dan Jani (2008), Serigala Terakhir (2009), My Stupid Boss (2016), dan menulis untuk film Pertaruhan (2017) dan Laundry Show (2019).
 
Upi nantinya juga menyutradarai film Sri Asih, adisatria perempuan dari zaman patriot dalam Jagat Sinema Bumilangit. Upi dipilih oleh Joko Anwar karena dinilai mampu menyampikan pesan patriotisme.
 
"Kita membutuhkan satu cerita yang autentik. Seberapa autentiknya laki-laki bisa bikin film tentang perempuan yang seharusnya bisa juga. Tapi kalau ada seorang perempuan yang memang jago bikinnya, kenapa enggak perempuan aja?" terang Joko Anwar tentang alasannya memilih Upi sebagai sutradara film Sri Asih.
 
Selain Upi, sutradara Kamila Andini juga sepakat dengan sang suami, dibutuhkan sineas perempuan dengan sudut pandang maskulin. Dia menyadari hal itu. "Tugas saya dan beberapa filmmaker perempuan untuk menyeimbangkan perspektif yang mungkin selama ini lebih banyak laki-laki," kata Dini.
 
Fluktuasi musiman kru film perempuan
 
Peran perempuan di balik layar tak hanya bangku produser, sutradara, dan penulis. Mereka kini bisa memegang peran DOP, camera man, penata lampu, dan sebagainya. Sayangnya, untuk peran-peran ini dinilai masih musiman untuk bisa konsisten. Kamila Andini, sutradara film Sekala Niskala menilai kru film perempuan jumlahnya musiman. Hal ini dikarenakan ruang kerja dan waktu yang tak terbatas.
 
Di samping itu, status perempuan lajang dan menikah rupanya juga berpengaruh. Transisi perubahan itu dirasakan Kamila Andini sebelum dan setelah menikah. Meski tak merasakan adanya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki di dapur produksi film, Dini justru seperti terantuk batu saat menjalani profesi sutradara sebagai seorang ibu rumah tangga.
 
"Begitu sudah menikah, punya anak, kemudian memang ada pilihan-pilihan. Kita selalu harus dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan saya juga bisa mengerti bagaimana banyak perempuan juga memilih untuk tidak berada lagi di industri ini," kata Kamila di Jakarta Pusat.
 
"Konsistensi angka perempuan di industri jadi naik-turun. Bisa jadi muda-mudanya banyak, tapi begitu udah certain moment enggak ada lagi karena ini industri yang sangat tidak mudah dan menurut saya sangat maskulin," jelas putri dari sineas Garin Nugroho itu.
 
Pengalaman Dini terjadi pada 2016 saat melakukan syuting film. Dengan jam kerja dan tempat yang berpindah-pindah, Dini sambil membawa anak kecil berusaha menunjukkan perannya sebagai ibu tak lepas meski tengah menjalani profesi sutradara. Dini mengampanyekan ini dengan sebutan motherhood filmmaking dalam setiap ruang diskusi terbuka termasuk dalam sebuah festival film.
 
"Saya harus terus sering ngomong tentang motherhood filmmaking. It's okay ke tempat syuting bagaimana dealing dengan problem dan lain-lain sehingga sekarang sudah banyak filmmaker, pemain, yang bisa membawa anaknya, melakukan tugasnya sebagai ibu ke lokasi syuting karena itu actually possible," cerita Dini.
 
Masih ada inferioritas terhadap perempuan di industri film
 
Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan tak hanya persoalan seksual. Penekanan yang tak terlihat seperti memaksakan kehendak kepala proyek terhadap aktor-aktor perempuan, juga bisa terjadi sebaliknya. Contoh kasus yang baru dialami oleh Asmara Abigail saat terlibat proyek film bukan horor. Dia merasa tersiksa saat harus bekerja tanpa adanya komunikasi dua arah dengan sang sutradara.
 
"Aku pernah mengalami, merasa sutradara dan lawan mainnya sangat seksis dari perkataan dan perilaku. Cuma maksudnya cara mereka berdiskusi enggak mau langsung. Dan buat aku memang benar-benar saat produksi sangat tersiksa, stres," kata Asmara Abigail saat berkunjung ke kantor Media Group untuk promosi film.
 
Asmara merasa tidak diberi pintu masuk untuk memberi sumbangsih tentang peran yang dimainkan. Termasuk ketika menentukan cara berpakaian dan berpenampilan. Secara mental, baginya ini sangat tidak sehat.
 
"Benar-benar merasa beban batin. Cuma memang akhirnya bisa diselesaikan dan pelajaran buat aku di kemudian hari untuk hati-hati banget karena kesehatan jiwa kita saat produksi juga sangat penting," kata Asmara.
 
Perempuan Penerjang Maskulinitas Perfilman Indonesia
Asmara Abigail (Foto: Medcom/Cecylia)
 
September lalu, inferioritas ini juga terjadi pada penulis naskah film adaptasi Crazy Rich Asians, Adele Lim. Dia memutuskan mundur dari proyek sekuel setelah mengetahui honor yang diterima jauh lebih sedikit dari rekan penulis pria, Peter Chiarelli. Jon M. Chu, sutradara film Crazy Rich Asians mendukung keputusan rekannya mundur karena dianggap bertindak benar. Meski begitu, dia tetap membuka pintu jika Adele Lim bersedia kembali terlibat proyek.
 
Bentuk tekanan lain terhadap perempuan tak lain soal standarisasi cantik di depan kamera. Saat ini pakem cantik dengan kulit putih bersih, berambut panjang, dan hidung mancung masih mendominasi terutama untuk kepentingan komersial. Menurut Dini, filmmaker harus mampu menangkal pilihan tersebut dengan look yang berbeda.
 
"Kita bisa lihat sekarang yang Bang Joko Anwar lakukan, Bu Nia (Nia Dinata) lakukan. Banyak filmmaker memperlihatkan keberagaman kecantikan itu. Ketika saya di industri itu, saya bisa tahu memang sangat amat sulit untuk mem-push itu karena segmen mindset kebanyakan di situ," kata Dini.
 
"Karena kita juga tidak terbiasa dikasih atau disuruh bercemin. Kita biasa dikasih mimpi, bukan dikasih cermin," tegas Dini.
 
Shanty Harmayn: This is our stand!
 
Shanty Harmayn termasuk dalam rombongan produser perempuan yang hadir sejalan dengan perkembangan industri film Indonesia di Tanah Air. Shanty memaparkan jarang sekali dia mendapat perlakuan tak mengenakkan sebagai perempuan. Menurutnya, kondisi itu selaras dengan prinsip dia untuk tegas atas setiap keputusan.
 
"Saya pikir kita sebagai perempuan harus, like you know this is our stand, this is our position. Kalau kita punya visi yang clear, sebagai pelaku industri film bahwa perempuan have a strong say, strong vision, menurutku kita enggak diapa-apain," kata Shanty Harmayn di Jakarta Selatan ditemui Medcom.id.
 
Prinsip kuat seorang dicontohkan juga dari figur Christine Hakim yang tetap eksis dan memertahankan kualitasnya sebagai aktor di industri film. Untuk kali pertama, Christine Hakim di usia 40 tahunan menerima proyek film horor.
 
"Itu kan keputusan yang amat sangat besar but Mbak Christine sebagai perempuan profesional dalam industri ini, she is a clear vision. Christine Hakim adalah aktor yang berkualitas, dia akan memberikan, 'this is my best'!" kata Shanty.
 
Perempuan Penerjang Maskulinitas Perfilman Indonesia
Christine Hakim (Foto: Medcom/Raka)
 
Lantas, bagaimana jika terjadi kekerasan di lingkungan kerja industri perfilman? Pada barisan produser kini cukup banyak didominasi perempuan sebut saja Sheila Timothy (Lifelike Pictures), Gina S. Noer (Wahana Kreator), Mira Lesmana (Miles Films), Anggia Kharisma (Visinema Pictures), Shanty Harmayn dan Dian Sastrowardoyo (Base Entertainment). Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dapat menjadi payung pengaduan jika terjadi kekerasan tersebut.
 
"Untungnya juga seperti APROFI kebanyakan perempuan di dalam. Jadi kita bisa bersikap dengan cepat. Kalau ada perempuan-perempuan yang tidak diperlakukan dengan baik, kita bisa cepat bicara dan cepat mengeluarkan suara," kata Mira Lesmana.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif