Usmar Ismail (Foto: Ist)
Usmar Ismail (Foto: Ist)

Mengenal Usmar Ismail, Sumber Inspirasi Hari Film Nasional

Hiburan sineas kita
Purba Wirastama • 30 Maret 2019 07:00
Hari Film Nasional, yang secara resmi diperingati setiap 30 Maret, ditetapkan pertama kali pada 1962 oleh Dewan Film Nasional. Nilai historisnya berakar dari momentum 12 tahun sebelumnya, ketika proyek film panjang Darah dan Doa garapan Usmar Ismail memulai syuting hari pertama pada 30 Maret 1950.
 
Kenapa Darah dan Doa? Siapa Usmar Ismail?
 
Darah dan Doa (The Long March) bukan film cerita pertama yang dibuat di Indonesia, digarap orang Indonesia, atau mengambil cerita Indonesia. Ini juga bukan film pertama garapan Usmar, sineas Bukittinggi yang dihormati sebagai "bapak perfilman Indonesia". Bahkan bukan termasuk film karya Usmar yang cukup bagus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Film cerita pertama di Indonesia adalah Loetoeng Kasarung, yang diadaptasi dari dongeng rakyat Lutung Kasarung dari Jawa Barat. Menurut catatan Katalog Film Indonesia, film ini tergolong laris pada masanya dan ditayangkan selama sepekan di Bandung pada 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1926.
 
Namun karena digarap orang Belanda, yaitu produser-sutradara L Hueveldorp dan penata kamera G Kruger dalam naungan Java Film Company, film tersebut tidak memenuhi kriteria "film Indonesia" menurut Dewan Film Nasional (DFN).
 
Setelah Loetoeng Kasarung, masih pada era pra-kemerdekaan, ada sejumlah film lain yang dibuat di Indonesia oleh peranakan Tionghoa. Bahkan dialog memakai bahasa Melayu lokal, cikal bakal bahasa Indonesia. Namun film-film tersebut juga dianggap belum cukup "nasional".
 
Dalam konferensi organisasi pada 11 Oktober 1962, DFN mengajukan satu film domestik yang layak dirayakan: Darah dan Doa.
 
Alasannya, film tentang tentara dan Revolusi itu dianggap mewakili semangat kemandirian "pribumi", bebas dari muatan politis atau propaganda, serta menyampingkan perhitungan komersial dan semata-mata idealisme. Film ini diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), perusahaan film milik Usmar.
 
Modal awal film ini berasal dari pesangon Usmar setelah dia keluar dari kesatuan tentara. Jurnal Footage, merangkum hasil sebuah diskusi di Jakarta pada 2011, menuliskan bahwa Darah dan Doa turut disokong oleh Divisi Siliwangi (sekarang Komando Daerah Militer III/Siliwangi). Hari pertama syuting film ini berlangsung di Purwakarta pada 30 Maret 1950.
 
Dalam konferensi 1962 itu, DFN menetapkan bahwa hari pertama syuting film tersebut adalah tonggak momentum Hari Film Nasional.
 
Setahun kemudian, dalam tulisannya di majalah Intisari episode perdana, Usmar bercerita tentang lika-liku di balik layar pembuatan Darah dan Doa. Dia menyebut film ini sebagai "film saya pertama, yang seratus persen saya kerjakan dengan tanggung jawab sendiri". Pada hari pertama produksi, Usmar berusia 29 tahun. Hari itu juga, dia secara resmi mendirikan Perfini.
 

Bapak Perfilman Indonesia
 
Usmar lahir di Bukittingi pada 20 Maret 1921. Ayahnya, yang bergelar Datuk, adalah guru sekolah kedokteran. Dia menempuh pendidikan di sekolah Belanda HIS di Batusangkat, MULO di Padang Panjang, lalu Algemene Middlebare Schoo; di Yogyakarta.
 
Sebelum terjun ke perfilman, Usmar pernah menjadi pemain drama radio, bekerja di Pusat Kebudayaan Jepang bersama Armijn Pane pada era koloni Jepang, menulis naskah teater, menulis lirik lagu, menjadi tentara hingga berpangkat Mayor, serta menjadi wartawan dan mendirikan beberapa surat kabar.
 
Pada 1943, dia mendirikan grup teater Maya bersama Abu Hanifah alias El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, dan HB Jassin. Grup ini memainkan naskah sastra drama dengan teknik teater barat, yang konon menjadi cikal bakal teater modern. Naskah teater tulisan Usmar antara lain Mutiara dari Nusa Laut dan Mekar Melati.
 
Pada 1948, Usmar menjadi wartawan politik untuk Kantor Berita Antara Jakarta. Tahun itu pula, dia dituduh melakukan subversi dan ditahan oleh Belanda selama setahun.
 
Setelah bebas, Usmar diajak oleh Andjar Asmara untuk membantu mengerjakan film Gadis Desa (1949). Anjar adalah wartawan serta sutradara teater dan film kelahiran 1902. Film debutnya adalah Kartinah (1940) yang dibintangi oleh Ratna Asmara istrinya. Kelak, Ratna menjadi sutradara perempuan pertama lewat film Sedap Malam (1950) produksi Perseroan Artis Indonesia (Persari).
 
South Pacific Film, perusahaan pembuat film Gadis Desa, lantas memercayakan proyek film kepada Usmar. Dia menulis dan menyutradarai Harta Karun (1949), yang diadaptasi dari L'Avare karya sastrawan Prancis Moliere. Pada tahun yang sama, dia juga menulis dan menyutradarai Tjitra (1949) berdasarkan naskah teater tulisannya tahun 1943.
 
Namun kedua film itu, kata Umar, "bukan film saya karena pada waktu penulisan dan pembuatannya, saya banyak sekali harus menerima petunjuk-petunjuk yang selalu saya setujui dari pihak produser." Tjitra mendapat sambutan baik dari pers, tetapi Usmar menyebut daya kreasinya dikekang ketika membuat film tersebut.
 
Ketidakpuasan itu membuat Usmar punya visi membuat perusahaan film sendiri supaya leluasa menuangkan gagasan dan idealisme. Lahirlah Perfini dengan produksi pertama mereka, Darah dan Doa.
 
Naskahnya berasal dari cerita karya Sitor Situmorang, tentang perjalanan panjang (long march) prajurit militer dari Yogyakarta kembali ke Jawa Barat. Sepanjang jalan, rombongan pimpinan Kapten Sudarto itu menghadapi ketegangan.
 
Proses produksi film itu "berdarah-darah" karena minim biaya, kru dan pemain terbatas, serta penuh eksperimen trial and error karena sebagian besar kru tak berpengalaman. Beberapa merangkap jabatan, misalnya Usmar yang menjadi produser, sutradara, penulis skenario, serta kadang sopir, kuli angkut, penata rias, serta pencatat adegan.
 
Mereka rombongan menuju tempat syuting di Purwakarta dengan opelet tua. Syuting memakai kamera Akeley berusia puluhan tahun. Setiap malam, Usmar mengetik naskah berdasarkan cerita Sitor untuk syuting keesokan harinya. Bahkan setelah film masuk pasca-produksi, mereka harus merombak naskah dan syuting ulang karena banyak adegan yang tidak bisa dipakai dalam cerita.
 
"Di atas panggung, sudah pengalaman saya mengendalikan pemain-pemain amatir, tetapi belum pernah saya menjumpai kesukaran yang lebih besar seperti pada film saya yang pertama itu," tulis Usmar.
 
Usmar sendiri menyebut filmnya ambisius atau banyak maunya, serta berusaha merangkul berbagai kejadian seotentik mungkin. Namun hasilnya secara teknis lebih buruk ketimbang Harta Karun dan Tjitra. Dia mengakui salah perhitungan karena semangatnya yang terlalu meluap-luap. Namun di sisi lain, dia bersyukur Perfini bisa lahir karena semangat itu.
 
Dari pengalaman itu pula, Usmar perlahan belajar bahwa seni membuat film adalah untuk membuat orang percaya bahwa sesuatu nyata. Sebelumnya, dia percaya bahwa film harus otentik seperti aslinya dan di tempat aslinya.
 
"Film itu adalah betul-betul seni 'make believe', membuat orang percaya tentang sesuatu, membuat kenyataan baru dari yang ada. Banyak sekali yang dibuat di tempat lain atau studio misalnya, lebih meyakinkan daripada jika dibuat di tempat asalnya," ungkapnya.
 
Setahun berdiri, Perfini membuat film cerita kedua dan ketiga dengan Usmar sebagai produser, sutradara, dan salah satu penulis naskah. Kedua film itu adalah Dosa Tak Berampun (1951), drama keluarga tentang ayah yang pergi lalu kembali, dan Enam Djam di Jogja (1951), drama perang berdasarkan peristiwa Serangan Umum Satu Maret.
 
Setelah Terimalah Laguku (1952), Usmar menempuh studi sinematografi di Universitas California lewat beasiswa Rockefeller pada 1952. Dia lulus dengan gelar Bachelor of Arts. Film pertama setelah lulus sekolah adalah Kafedo (1953), yang rusak di bagian sulih suara dan tidak laku di bioskop.
 
Pada 1953, Usmar juga membuat Krisis (1953) yang lebih kental unsur hiburan agar bioskop mau memutarkan. Kala itu, film domestik mendapat tekanan berat karena persaingan dengan film impor. Krisis sempat ditayangkan di Metropole dan menarik penonton hingga lima pekan.
 
Larisnya Krisis membuat Usmar punya modal untuk mengerjakan Lewat Djam Malam (1954), film berlatar pasca-revolusi yang kemudian dikenal luas sebagai salah satu karya sinema klasik Indonesia dan karya terbaik Usmar. Film ini mendapat lima kemenangan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1955, yang mana adalah FFI perdana.
 
Selain membuat film, Usmar juga punya kontribusi dalam bidang organisasi dan pendidikan. Dia mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta pada 1955, mendorong pembentukan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), memimpin Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN), memimpin Lembaga Seniman Muslimin Indonesia (Lesbumi) pada 1962-1969, serta menjadi pengurus Nahdlatul Ulama dan anggota DPRGR/MPRS pada era 1960-an.
 
Usmar sempat berhenti dari perfilman dan fokus kepada bisnis. Dia mendirikan klab malam Miraca Sky di Sarinah Jakarta pada akhir 1960-an. Konon, dia adalah orang Indonesia pertama yang mendirikan bisnis klab malam. Tak sampai satu dekade, klab ini tutup karena bangkrut.
 
Hingga sebelum meninggal pada 2 Januari 1971, Usmar telah menyutradarai 28 film cerita panjang. Itu termasuk musikal Tiga Dara (1956), Pedjuang (1960) yang mengantarkan Bambang Hermanto menang aktor terbaik di festival film Moskow, adaptasi novel Anak Perawan di Sarang Penjamun (1962), serta film terakhirnya Ananda (1970) yang membuat Lenny Marlina populer.
 

Beberapa Usulan Tanggal Lain
 
Penetapan Hari Film Nasional (HFN) oleh DFN berdasarkan film Darah dan Doa tidak berangkat dari usulan tunggal. Menurut peneliti film Totot Indrarto, dalam tulisannya tahun 2017, tanggal yang pernah diusulkan antara lain 19 September dan 6 Oktober.
 
Usulan alternatif ini mengemuka pada era 1980-an, ketika kondisi politik negara dan perfilman telah stabil.
 
19 September 1945 adalah tanggal peliputan film berita atas rapat umum yang diadakan Presiden Soekarno di Lapangan Ikeda. Peristiwa ini dianggap terkait revolusi dan punya nilai kepahlawanan dan . Usulan ini gugur karena menurut hasil diskusi 1990, momen 19 September adalah peristiwa jurnalistik.
 
Perusahaan Film Negara (PFN) mengusulkan tanggal 6 Oktober. Ini merupakan tanggal ketika Nippon Eiga Sha diserahkan oleh kepada Indonesia. Perusahaan film ini lantas berkembang menjadi Berita Film Indonesia (BFI) dan PFN. Usulan ini juga gugur karena momennya tidak punya idealisme atau nilai perjuangan.
 
Kembali ke era 1960-an. Setelah HFN ditetapkan oleh DFN, tidak serta merta momen ini diterima oleh seluruh kalangan perfilman.
 
Salah satu penolakan datang dari sineas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang kerap dilekatkan sebagai "kelompok kiri". Menurut peneliti film Adrian Jonathan Pasaribu dalam tulisannya pada 2017, kelompok ini menilai karya Usmar kontra-revolusioner dan tidak nasionalis.
 
Dua tahun setelah HFN ditetapkan, tepatnya April 1964, sineas Lekra mendapat kesempatan untuk menyuarakan momentum HFN versi mereka lewat Festival Film Asia Afrika (FFAA) III. Festival berlangsung di Jakarta pada 19-30 April 1964.
 
Pada hari terakhir festival, menurut Adrian, Lekra menegaskan niat mereka bagi perfilman Indonesia dengan membuat gerakan Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis AS (PAPFIAS). Secara terbuka, mereka melawan dominasi film AS yang diimpor lewat America Movie Picture Association of Indonesia (AMPAI).
 
Deklarasi itu dihadiri pula oleh Presiden Soekarno. Di sana, mereka menetapkan HFN untuk diperingati pada 30 April.
 
Namun tahun berikutnya, perdebatan soal momentum HFN langsung meredup setelah peristiwa yang kini dikenal dengan nama Gerakan 30 September. DFN baru membahasnya lagi pada 1980-an.
 
Setahun setelah reformasi, Presiden Habibie meneken Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional. Isinya adalah ketetapan bahwa 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional.
 
Dasar pertimbangannya sama dengan apa yang diyakini DFN, yaitu bahwa "30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah bagi perfilman Indonesia karena pada tanggal tersebut, pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia".
 


 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif