Pertunjukan Sinopsis TIM 2019+ yang dipentaskan Lab Teater Ciputat. Foto-foto: Medcom.id/Wandi Yusuf
Pertunjukan Sinopsis TIM 2019+ yang dipentaskan Lab Teater Ciputat. Foto-foto: Medcom.id/Wandi Yusuf

Menonton Milenial di Panggung Teater

Hiburan teater
Wandi Yusuf • 10 Juli 2019 15:14
Bau tai kucing bercampur parfum tercium di tengah antrean menuju pertunjukan teater bertajuk Sinopsis TIM 2019+. Malam tadi, 9 Juli 2019, gedung Graha Bakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki (TIM) begitu dipadati penonton yang ingin menyaksikan karya dari Lab Teater Ciputat itu. Bukannya langsung dipersilakan masuk, calon penonton malah diminta mengantre berdasarkan domisili.
 
Sialnya, di tengah antrean, ada penonton yang tak sengaja menginjak tai kucing dan baunya menguar ke mana-mana. Ini memang bukan bagian dari pertunjukan. Di akhir tulisan akan dijelaskan mengapa justru bau tai kucing yang menjadi pembuka artikel ini.
 
Pertunjukan Sinopsis TIM 2019+ sejatinya ingin memotret gedung GBB TIM sebagai lokus pertunjukan yang sudah mulai usang. Ribuan pementasan sudah digelar di sana. Namun, lama-kelamaan ditinggalkan penonton. Alhasil, gedung ini menjelma museum. Sejumlah aktor yang sudah bolak-balik mentasdi panggung ini kemudian hendak pergi menggunakan mesin waktu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sayang, di tengah jalan mereka justru disergap belasan pemuda yang mengaku kaum milenial. Mereka justru menganggap para aktor itu sebagai idola. Dialog antara aktor lawas dan milenial ini kemudian yang membangun cerita hingga akhir.

Memanjakan penonton

Sebelum memasuki gedung, penonton diingatkan untuk bebas melakukan apa pun. "Kami perkenankan untuk mendokumentasikan benda-benda apa pun yang ada di museum. Bahkan, kami persilakan Anda untuk live melalui sosial media," demikian pengumuman dari panitia pertunjukan.
Menonton Milenial di Panggung Teater
Penonton bergiliran memasuki gedung GBB TIM
 
Dari pengumuman ini saja gelagat aneh sudah tercium. Di banyak pertunjukan teater, menyalakan blitz untuk menangkap adegan dilarang keras. Alasannya, khawatir konsentrasi aktor terganggu. Nah, ini malah didorong-dorong untuk dijadikan status bahkan dipersilakan siaran langsung di media sosial.
 
Belum sempat menginjak ke kursi penonton, di depan pintu gedung GBB sudah berdiri aktor ber-cosplay karakter di gim Mobile Legend dan Player Unknown's Battlegrounds (PUBG). Disembur penerangan temaram biru, penonton diarahkan ke belakang panggung. Menuju kamar rias.
 
Di sepanjang lorong tampak terpajang poster-poster pertunjukan teater dari masa ke masa. Artikel koran lawas yang mengulas nomor pertunjukan juga dihadirkan. Tak terkecuali topeng dan boneka bayi. Mirip dekorasi museum. Tak heran sejak awal panitia sudah menamai gedung GBB ini layaknya museum.
 
Penonton terus digiring hingga akhirnya berada di atas panggung. Beberapa orang nampak berswafoto. Segelintir penonton yang awalnya agak kikuk untuk mengambil gambar, langsung mengeluarkan ponsel dan sesuka hati memotret sekeliling. Dan benar belaka, beberapa orang memang menyempatkan diri melakukan live streaming di Instagram Stories.
 
Di ujung 'museum', barulah penonton dipersilakan duduk di kursi utama: di muka panggung. Itu pun agak dibikin ribet karena musti duduk sesuai profesi.
 
"Mas, profesinya apa?" kata perempuan berpakaian necis.
 
"Wiraswasta," kata seorang penonton menjawab sekenanya.
 
"Oh, silakan duduk di sana," perempuan itu menunjukkan kursi di sebelah kanan panggung.
Menonton Milenial di Panggung Teater
Sejumlah properti diletakkan rapi di ruang tata rias gedung GBB TIM

Menjaga unsur keaktoran

Adegan selanjutnya terfokus di area panggung. Sejumlah panitia dan aktor berkostum ala karakter gim, yang tadi menggiring penonton, sibuk dengan ponselnya masing-masing. Posisi mereka menyebar di atas, pinggir, tubir, hingga belakang panggung. Mereka sibuk membuka aplikasi media sosial, berswafoto, dan ngomong sendiri di depan ponsel layaknya youtuber. Musik berdentum serasa berada di pub.
 
Sekonyong-konyong masuk sekumpulan aktor berpakaian serbahitam lusuh. Beberapa menenteng dan memanggul koper. Bukannya takut, aktor-aktor necis yang sebelumnya asyik dengan gadget itu malah mengerubungi mereka. Menyalakan lampu ponsel dan mengabadikan momen kedatangan para aktor lusuh.
 
"Ini siapa?" kata Arjuna, salah satu aktor berpakaian lusuh.
 
"Milenial," sambut sekumpulan anak-anak muda yang berkerumun layaknya mendapati aktris idola mereka.
 
"Ini tahun berapa?" lanjut Arjuna.
 
"2019," dijawab lugas.
 
"Bukannya 1908?" timpal Arjuna.
 
Dialog antara milenial dan generasi 'Boedi Oetomo'—digambarkan dengan tonggak sejarah pada 1908—menjadi menarik dan lucu. Karakter Arjuna juga kental menampilkan cuplikan-cuplikan dialog gaya orator yang kerap ditampilkan aktor-aktor tahun 80 hingga 90-an. Zaman ketika Arifin C Noer, Willibrordus Surendra (WS) Rendra, Putu Wijaya, hingga Zaenal Abidin Domba menjadi idola. Saat itu, keaktoran masih menjadi unsur utama pertunjukan teater. Tampil tanpa cela yang ditunjang gestur dan suara lantang adalah syarat utama seorang aktor andal.
 
Seiring perkembangan zaman, terutama saat telepon pintar mulai bak cendawan, panggung teater semakin dingin. Orang yang menggeluti bidang keaktoran semakin minim karena prosesnya yang 'berdarah-darah'. Terparah, panggung-panggung teater kerap kosong ditinggalkan penonton. Kecuali mungkin grup Teater Koma yang masih memiliki basis penonton. Itu pun belakangan pertunjukannya agak membosankan karena kerap mengulang formula yang sama.
 
Lab Teater Ciputat agaknya mampu menangkap kegelisahan itu. Pertunjukan Sinopsis TIM 2019+ ini seakan-akan sebagai jembatan antara unsur teater masa lalu—yang ditandai dengan dialog gaya orator oleh tokoh Arjuna—dengan keriuhan anak-anak muda yang menjadi penanda milenial.
 
Dari pertunjukan ini, Bambang Prihadi sebagai sutradara, mampu menghadirkan jurang-jurang zaman tadi. Pertunjukan ini juga seperti memberi kesan bahwa teater di atas panggung semakin membosankan. Sudah saatnya ada disrupsi di dunia teater agar tetap mendapat ceruk penonton.
Menonton Milenial di Panggung Teater
Suasana di panggung setelah penonton memenuhi kursi

Prosenium serupa kuburan

Ditemui usai pertunjukan, Bambang tak menampik akan kegelisahan dari semakin ditinggalkannya panggung teater. Dia bercerita beberapa kali tertidur saat tengah menonton teater saking membosankannya sebuah pertunjukan. "Menghadapi prosenium (bingkai panggung) itu sudah seperti kuburan bagi saya," kata Bambang.
 
Sejak awal, sebut Beng, panggilan Bambang, pertunjukan Sinopsis TIM 2019+ memang diniatkan untuk menerobos sekat-sekat yang membosankan itu. Ia ingin mengembalikan marwah teater yang dekat dengan masyarakat tanpa menafikan capaian-capaian yang telah dibuat pegiat terdahulu.
 
Panggung prosenium lantas ia ubah menjadi museum sebagai representasi dari segala sesuatu yang sudah usang. Ia masukkan sejumlah properti berupa poster-poster pertunjukan yang pernah digelar di gedung GBB. Ditampilkan pula sejumlah mesin tik tua. Anasir-anasir itu ia kontraskan dengan penjaga museum yang justru tampil chic. Muda. Segar.
 
"Kita menginterpretasi prosenium sebagai museum bukan karena tak menghargai, tapi justru untuk merayakan," kata dia.
 
Terobosan ini juga mau tak mau merevolusi cara Beng dalam melatih para aktornya, terutama 60 aktor yang tergolong milenial. Ia tinggalkan formula lama dalam latihan konvensional, seperti datang tepat waktu hingga latihan harus serius tanpa bersenda gurau. "Latihan dibuat santai, segar, walaupun kadang menyakitkan, tapi fun. Saya juga lebih banyak berdiskusi dan bercanda bersama para pemain muda."
 
Pendekatan konvensional tetap ia terapkan pada 12 pemain yang memerankan tokoh berpakaian hitam lusuh. Tokoh-tokoh itu mewakili generasi lama yang memperlihatkan puncak-puncak pencapaian keaktoran. "Jadi, kita pisahkan latihannya," ujar dia.
 
Agar menyatu, di beberapa momen Beng menggabungkan latihan. Penggabungan latihan ini pun lebih banyak lewat diskusi. Hasilnya, gerr!
 
Beng tak menyangka sambutan penonton yang begitu antusias. Padahal, ia dan timnya tak begitu ngotot untuk urusan publikasi. Pertunjukan ini juga hanya diniatkan untuk memenuhi undangan dari panitia Djakarta Teater Platform. Acara yang digagas Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini mengundang sejumlah grup teater untuk mendiskusikan format seperti apa yang tepat agar teater tetap bisa mengikuti zaman. Undangan ke penonton pun lebih banyak lewat gawai.
 
“Mungkin karena diviralkan oleh anak-anak ini (aktor mudanya) di medsos,” kata Beng.

Menonton penonton

Anggota Komite Teater DKJ Afrizal Malna mengapresiasi capaian yang dilakukan Lab Teater Ciputat atas pertunjukan Sinopsis TIM 2019+. Ia takjub saat Beng menafsir gedung GBB sebagai museum. Dan lagi, sebagian besar penonton yang datang adalah milenial.
Menonton Milenial di Panggung Teater
Afrizal Malna tengah memperhatikan poster pertunjukan hasil produksinya
 
Afrizal juga terkesima dengan cara Beng menutup pertunjukan ini. Cuplikan video dari para penonton yang tengah antre memasuki 'museum' secara instan ditayangkan di akhir pertunjukan. Artinya, para penonton menonton mereka sendiri.
 
"Tiba-tiba dia (Lab Teater Ciputat) memperlihatkan satu fenomena yang membawa penonton adalah tontonan yang tak terduga," kata Afrizal.
 
Afrizal juga melihat kentalnya unsur ruang dan absurditas dari pertunjukan ini. Saat dua unsur itu bergabung, hasilnya di luar dugaan. "Jadi, ini seperti ada pertemuan-pertemuan baru antara arsip sebagai tubuh yang usang (properti); sebagai memori; dengan tubuh baru anak-anak sekarang (aktor dan penonton) serta struktur gedung pertunjukan itu sendiri (gedung GBB) yang sifatnya permanen."
 
Ia optimistis teater akan terus bertumbuh dengan karya-karya seperti yang ditawarkan Lab Teater Ciputat ini. "Dia (Sinopsis TIM 2019+) menjadi jejak awal untuk kita menuju ke (arah penciptaan) yang lain. (Pertunjukan ini) juga (menjadi) jejak awal untuk membaca ulang arsip-arsip lama kita," katanya.
 
Sejatinya, sejak awal penonton memang sudah dipersiapkan menjadi aktor utama pertunjukan ini. Kamera, secara tak sadar, menyorot mereka. Dan di akhir pertunjukan penonton menonton dirinya sendiri. Tontonan ini bahkan mungkin dimulai sejak adegan anak kecil tak sengaja menginjak tai kucing saat mengantre masuk gedung pertunjukan.
 

(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif