Serial animasi Klaus. (Foto: netflix)
Serial animasi Klaus. (Foto: netflix)

Di Balik Ambisi Netflix Menjadi Pusat Hiburan Anak dan Keluarga

Hiburan netflix montase film
Purba Wirastama • 09 Mei 2019 08:00
Netflix adalah kisah sukses dalam era revolusi digital. Bermula dari jasa rental film DVD dan Blu-ray lewat situs web, berlanjut ke inovasi layanan streaming dengan perluasan pasar ke lebih dari 190 negara, hingga transformasi yang terakhir: produksi dan distribusi konten tayangan eksklusif dalam label Netflix Originals.
 
Selama tujuh tahun terakhir sejak 2013, Netflix mungkin sudah punya lebih dari 1.000 judul film, serial, serta jenis tayangan lain yang dirilis dalam label Originals. Belum ada data angka pasti berapa jumlahnya. Namun rasanya, menonton seluruh tayangan baru di Netflix bisa menjadi satu "pekerjaan" khusus karena saking banyaknya. Lagipula, tidak setiap judul dirilis di semua teritori.
 
Belakangan, seiring kenaikan jumlah konten orisinal dan pelanggan di seluruh dunia, Netflix juga menggenjot lebih kencang pengembangan layanan dan konten khusus untuk anak-anak (usia 12 tahun ke bawah) dan keluarga. Salah satu pertimbangan, jumlah penonton segmen ini ternyata besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari total 149 juta pelanggan (per April 2019) di seluruh dunia, lebih dari separuhnya menonton konten anak-anak dan keluarga.
 
"Sekarang, sekitar 60% penonton melihat konten anak dan keluarga setiap bulan," kata Melissa Cobb, Vice President di Netflix untuk konten Kids & Family, kepada reporter Medcom.id di Jimbaran, belum lama ini.
 
"Aku pikir, semakin kami matang di pasar, semakin banyak keluarga yang menjadi pelanggan. Ketika kami masih baru, kadang pelanggannya adalah pengguna awal (first adopter) teknologi atau usia 20-an tahun awal. Ketika kami mendapat semakin banyak pelanggan, semakin banyak yang berasal dari kalangan keluarga," imbuhnya.
 
Bisa dibayangkan, menghadapi puluhan juta pelanggan dari puluhan negara dengan beragam budaya, yang siap menantikan hiburan lewat tayangan baru, apa yang akan dilakukan penyedia tayangan? Tentu saja, membuat tayangan lebih banyak dan lebih beragam untuk menyenangkan berbagai jenis selera.
 
Di Balik Ambisi Netflix Menjadi Pusat Hiburan Anak dan Keluarga
Melissa Cobb (Netflix)
 
Hal itu dibenarkan Cobb. Netflix memang ingin memiliki "tayangan favorit bagi setiap anggota kelaurga di setiap negara di dunia". Karena itu pula, mustahil bagi mereka untuk punya gaya atau tema spesifik seperti yang dilakukan Walt Disney atau Pixar.
 
Ketika bergabung ke Netflix, Cobb sempat berpikir apakah Netflix seharusnya punya merek yang kuat, misalnya untuk gaya animasi tertentu. Namun akhirnya, mereka tetap tidak membatasi diri kepada tema, nuansa, atau gaya spesifik.
 
"Betapa beragam penonton kami. Ada banyak, banyak, banyak sekali jenis penonton untuk film-film keluarga di seluruh dunia. Setiap keluarga juga sedikit berbeda. Satu keluarga mungkin ingin melihat komedi dan lain ingin melihat dokumenter," tuturnya.
 
"Setiap keluarga punya pola menonton berbeda sehingga yang kami coba lakukan, tentu saja ini menantang, adalah memiliki pertunjukan favorit untuk setiap orang di keluarga. Jadi, ada tayangan favorit untuk usia dua tahun, untuk 15 tahun, atau untuk orangtua yang menonton bersama anak usia 10 tahun," lanjut Cobb.
 
Lantas, bagaimana mereka melakukannya?
 
Kebebasan Kreatif Bagi Kreator
 
Cobb bercerita bahwa pihaknya mencari kolaborasi dengan berbagai jenis pembuat film di seluruh dunia, khususnya yang punya minat besar untuk bercerita kepada khalayak anak-anak dan keluarga. Mereka memberi kebebasan kreatif besar, tetapi kreator juga harus punya visi dan gagasan cerita kuat.
 
"Kami berawal dari membuat program konten untuk penonton dewasa di Netflix. Mereka mengajak para kreator dan memberi mereka kebebasan kreatif. (Untuk konten keluarga), kami mengikuti pola kerja serupa dalam wajah anak-anak," tutur Cobb.
 
Karena tidak ada batas tema atau gaya, prinsip utama kurasi adalah kualitas produksi, kekayaan cerita, serta seberapa besar potensi dampak positifnya bagi anak-anak. Setidaknya, penuturan film atau serial harus menghibur, sangat lucu, dan edukatif. Unsur edukatif misalnya, memakai helm saat membonceng kendaraan roda dua atau mencuci tangan sebelum makan.
 
Mereka juga memilih kreator yang mereka tahu punya kepedulian besar menjaga sejumlah ukuran kualitas tersebut.
 
"Kami ingin membeli sesuatu dari ide besar dan membantu mereka mencapai versi terbaik atas gagasan itu," ujar Cobb.
 
Ketiadaan tema dan gaya membuat film atau serial sangat bervariasi. Misalnya You vs Wild, serial petualangan interaktif bersama serupa Blues Clues tetapi dengan footage alam liar hutan dan sungai sungguhan, serial animasi Mighty Little Bheem dari India dengan gaya animasi seperti Little Krishna, serial kartun sederhana seperti Cupcake & Dino, atau film animasi 2D yang lebih kompleks dan bernilai produksi besar seperti Klaus.
 
Di Balik Ambisi Netflix Menjadi Pusat Hiburan Anak dan Keluarga
Mighty Little Bheem
 
Guillermo Del Toro adalah salah satu sineas yang punya kerja sama sejumlah proyek dengan Netflix. Setelah trilogi serial animasi Trollhunters, 3Below, serta Wizards, sutradara asal Meksiko ini mengerjakan proyek film animasi stop-motion idamannya tentang Pinokio.
 
"Aku rasa, dia punya kepekaan seperti anak-anak, meskipun kadang film-filmnya menakutkan dan kelam," kata Cobb.
 
Konten animasi menjadi fokus utama Netflix untuk tayangan anak-anak dan keluarga. Menurut Cobb, yang sudah berpengalaman belasan tahun di Dreamworks Animation, film atau serial animasi cenderung "berkelana lebih jauh di dunia".
 
"Karena begitu kami sulih suaranya dalam bahasa berbeda, penonton tidak benar-benar tahu di mana animasi dibuat. Mereka hanya berpikir apakah itu lucu, apakah itu menyenangkan, atau apakah mereka suka," tutur Cobb.
 
"Banyak tayangan animasi yang penuturannya lebih banyak ke visual sehingga bisa diterima dengan sangat baik secara global," imbuhnya.
 
Mighty Little Bheem adalah salah satu serial yang tidak mereka sangka, responsnya bagus secara global. Serial buatan Green Gold Animation berkisah tentang Chhota Bheem, balita polos dengan kekuatan super yang berkelana di sebuah kota kecil di India. Selain populer di India karena materi lokalnya kuat, serial ini juga populer antara lain di AS, Amerika Selatan, Australia, Inggris, dan Kanada.
 
"Kami terkejut betapa besar karakternya nyambung dengan penonton di seluruh dunia. Kami tidak menduganya sehingga kami terkejut," ungkap Cobb.
 
Selain animasi, Netflix juga akan menambah serial interaksi seperti You vs Wild. Kini mereka sudah punya sejumlah proyek baru yang sedang dikerjakan. Menurut Cobb, sejumlah tayangan interaktif mereka ditonton ulang berkali-kali oleh anak-anak.
 
"Kami bekerja dengan kreator berbeda untuk mengembangkan banyak variasi dari pengalaman itu. Kami tetap mencari tahu apa yang penonton suka," tuturnya.
 
Keamanan Tayangan dan Kenyamanan Pengguna
 
Karena target utama penonton adalah anak-anak, konten tentu harus "aman" untuk usia di bawah 12 tahun. Mereka punya tim eksekutif yang bekerja dekat dengan para kreator untuk memastikan bahwa seluruh kontennya tepat sasaran.
 
"Kami memastikan bahwa kontennya tepat untuk kelompok usia masing-masing," kata Cobb.
 
Setelah tayangan jadi, mereka juga punya semacam tim sensor. Setiap episode baru ditonton dan diklasifikasikan ke kategori usia berbeda. Menurut Cobb, klasifikasi usia tidak selalu sama di setiap negara.
 
"Setiap budaya dan negara punya sistem klasifikasi usia berbeda. Penting bahwa kami harus memahami setiap konten yang kami taruh di layanan streaming. Apa yang tepat untuk anak-anak di AS mungkin tidak cocok dengan anak-anak di negara lain. Jadi, itu dikerjakan dengan sangat hati-hati," tuturnya.
 
Di Balik Ambisi Netflix Menjadi Pusat Hiburan Anak dan Keluarga
Serial You vs Wild (foto: netflix)
 

Bagaimana meyakinkan orangtua?
 
Upaya ini ditempuh salah satunya lewat pendekatan teknis. Dalam platform di seluruh perangkat, mereka menyediakan pilihan pengaturan profil khusus anak-anak usia 12 tahun ke bawah (Kid) atau anak-anak yang lebih kecil lagi.
 
Jika diaktifkan, seluruh tayangan yang muncul adalah film atau serial yang sudah lolos klasifikasi usia terkait. Halaman antarmuka pengguna juga dirancang lebih sederhana demi memudahkan anak-anak memilih konten yang mereka suka. Nyaris tidak ada teks deskripsi selain judul dan nomor episode.
 
Fitur utama profil Kid, seperti halnya sejumlah layanan berbasis internet lain, adalah "Parental controls". Jika orangtua masih belum yakin bahwa kurasi untuk Kids sudah aman, mereka bisa memasukkan judul tertentu ke daftar konten yang tidak akan bisa diakses oleh profil Kid.
 
"Karena orangtua adalah pihak yang paling tahu level perkembangan anak-anak mereka," ujar Cobb.
 
Cobb juga menyebut bahwa karakteristik Netflix sebagai sebuah platform streaming on-demand berlangganan, sebetulnya membawa keuntungan lain bagi khalayak penonton. Tidak ada iklan, tidak ada paksaan menonton tayangan tertentu atau sesuai jadwal penyedia layanan.
 
Menurut Cobb, hal-hal semacam ini mendapat apresiasi tinggi dari orangtua. "Mereka bisa melihat satu episode dan mengulangnya lagi. Tidak ada iklan sehingga orangtua tidak perlu khawatir anaknya akan menonton sesuatu dan ingin membeli."
 
Seiring pertumbuhan jumlah produksi film dan serial asli, Netflix juga menjalin kerja sama dengan kreator di negara lain dan memperkuat investasi "konten lokal". Selain Mighty Little Bheem dari India misalnya, mereka punya sejumlah proyek asli Inggris untuk kisah-kisah Roald Dahl dan proyek serial animasi Mama K's Team 4 dari Afrika Selatan.
 
Untuk Asia Tenggara, khususnya Indonesia, belum ada proyek film atau serial asli untuk anak-anak. Pasar pelanggan Netflix di Indonesia memang belum cukup besar. Tantangan ekspansinya antara lain adalah soal sistem pembayaran langganan serta akses data internet.
 
Namun jika jumlah pelanggannya sudah cukup signifikan, tentu bakal ada alasan kuat untuk mereka mengerjakan proyek cerita lokal Indonesia. Apalagi, menurut Cobb, keluarga di Indonesia punya budaya berkumpul yang tinggi untuk menonton bersama.
 
"Kami belum punya produksi (Indonesia) untuk sekarang, tetapi kami selalu pergi ke berbagai festival dan mencari kreator konten dari setiap negara teritori," ujar Cobb.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif