Ilustrasi (Foto: Via docbyte.com)
Ilustrasi (Foto: Via docbyte.com)

Buruknya Pengarsipan Kita dan Dampaknya pada Dunia Film

Hiburan montase film
Dhaifurrakhman Abas • 23 September 2019 14:42
TIGA puluh empat tahun lalu, Christine Hakim mendapat tanggungjawab besar. Sutradara Eros Djarot memintanya membantu memerankan sosok pahlawan Cut Nyak Dien dalam film berjudul Tjoet Nja' Dhien (1985).
 
Mendapat tawaran itu, Christine senang bukan kepalang. Sebab hal ini menjadi salah satu jalan untuk mengangkat martabat perempuan lewat layar lebar. Apalagi Cut Nyak Dien dikenal sebagai sosok perempuan yang pantang berkompromi dengan penjajahan.
 
"Pikir saya, ini akan memberi warna bagi perfilman Indonesia. Ditambah lagi, memerankan Cut Nyak Dien menjadi titik balik dan menapak tilas kembali para leluhur yang memperjuangkan bangsa," ujarnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun di satu sisi, Christine juga merasa terbebani karena tidak menemukan referensi sosok Cut Nyak Dien. Arsip dan pencatatan sejarah yang kurang membuatnya kesulitan mendalami peran sebagai sosok pahlawan asal Aceh itu.
 
"Sayangnya, penulisan sejarah dan arsip tentang almarhum (Cut Nyak Dien) sangat terbatas sekali," kata Christine, dalam Pemutaran Film & Diskusi Tokoh SK Trimurti & Laksamana Malahayati, di Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019.
 
Di tengah kegalauan itu, Eros Djarot datang membawa harapan. Christine diberi setumpuk buku yang mengulas tentang sosok Cut Nyak Dien. Namun, baru saja membuka lembaran pertama, Christine kembali menggerutu. Buku-buku yang diberikan rupanya kebanyakan berbahasa Belanda.
 

Buruknya Pengarsipan Kita dan Dampaknya pada Dunia Film
 
"Saya hanya diberikan setumpuk buku yang sebagian besarnya berbahasa Belanda. Rasanya saya ingin bakar buku itu, lalu airnya saya minum biar besoknya bisa berbahasa Belanda," kelakar Christine.
 
Kurangnya pencatatan sejarah, membuatnya mesti putar otak mencari tahu sendiri sosok panutannya itu. Dia sempatkan bertemu dengan para sejarawan dan akademisi untuk berdiskusi mengenai karakter Cut Nyak Dien. Namun hal itu tak banyak membantu.
 
"Saya juga sudah sampai mencari tahu dari seorang professor dari Universitas Gajah Mada," ujarnya.
 

Di Luar Nalar
 
Keresahan hati Christine membuatnya kawan-kawannya memberikan masukan. Seorang kawan bahkan ada yang menawarkannya segera beranjak ke makam Cut Nyak Dien di Sumedang.
 
"Katanya ziarah buat minta restu," ujar Christine seraya tertawa.
 
Christine menolak mentah-mentah saran dari kawannya itu. Ketimbang memilih jalan pintas dan di luar nalar, Christine mengaku lebih memilih pendekatan diri dengan Tuhan.
 
"Itu memacu saya meminta dipandu dan dituntun oleh tuhan. Karena hanya tuhan yang paling tahu siapa itu Cut Nyak Dien," beber dia.
 
Singkat cerita, produksi film Tjoet Nja’ Dhien yang diroduksi tiga tahun itu kelar. Film itu mulai diproduksi tahun 1985 dan dirilis tiga tahun kemudian. Film garapan Eros Djarot ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia 1988.
 
Tjoet Nja’ Dhien juga menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes. Lebih lanjut, aktris senior tersebut mengaku tidak ada ritual khusus untuk mendalami sosok pahlawan asal Aceh itu. Christine menjawab rahasia suksesnya memerankan tokoh Cut Nyak Dien.
 
"Tidak ada satupun yang bisa mempertanggungjawabkan siapa itu Cut Nyak Dien karena referensinya yang sedikit. Lantas, saya memiliki kebebasan mengintepetrasi bagaimana memerankan tokoh perempuan itu," tandas dia.
 

Arsip Kita Buruk
 
Tak hanya Christime Hakim, kondisi arsip minim juga dialami sutradara Ani Ema Susanti. Kondisi itu bikin dirinya kewalahan ketika hendak membuat film dokumenter tentang perjuangan hidup Surastri Karma Trimurti (SK Trimurti).
 
"Film tersebut diproduksi tahun 2015. Saat itu saya baru lulus kuliah film tahun 2014," kata Ani Ema dalam Pemutaran Film & Diskusi Tokoh SK Trimurti & Laksamana Malahayati, di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019.
 
Ani menuturkan, awalnya dia ingin pembuatan film tersebut menampilkan bagaimana sosok SK Trimurti mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Apalagi SK Trimurti melawan penjajahan lewat kancah politik.
 
Pejuang perempuan kelahiran Boyolali ini aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1930. Dia juga merupakan seorang advokat terkenal terkait hak-hak pekerja.
 
Setelah era kemerdekaan, Trimurti diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Dia pula yang mendirikan organisasi perempuan Indonesia Gerwis pada 1950, yang berganti nama menjadi Gerwani.
 
Namun dalam pembuatan film ini, Ani mengaku hanya sedikit menemukan referensi mengenai sosok SK Trimurti. Profil sosok itu sangat sedikit tercatat di dalam buku, arsip dan catatan sejarah nasional.
 
"Saya kesulitan mencari sejarawan yang fokus meneliti SK Trimurti. Selama empat bulan saya riset literasi, hampir tidak ada" ujarnya.
 
Ani juga mencoba mencari profil SK Trimurti ke perpustakaan nasional dan juga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sayangnya, hanya sedikit referensi yang bisa didapatkan dari tempat itu.
 
"Di ANRI dapat suara asli SK Trimurti. Bayar administrasi dan dapatkan Copyannya. Lalu saya ke warung arsip untuk dapatkan arsip dan majalah tulisannya ibu SK Trimurti. Majalah Pikiran Rakyat, dan lainnya dari warung Arsip di Yogyakarta," sambung dia.
 
Mirisnya, arsip mengenai tokoh pejuang Indonesia itu justru ditemukan di Belanda. Saat itu, kata dia, arsip tersebut dari temannya.
 
"Setelah kita harus mencari-cari, untungnya ada teman dari Belanda yang memberikan video yang saya inginkan," tandasnya.
 

Pentingnya Arsip
 
Isu minim arsip di Indonesia tampaknya diakui oleh pihak Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Beberapa kali ANRI dalam rapatnya selalu menekankan kebutuhan pemenuhan arsip.
 
Misalnya dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Redtop Hotel 2017. Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur, menyampaikan bahwa profesi arsiparis memiliki peran yang sangat vital di negeri ini. Namun petsn tersebut sering dianggap enteng.
 
“Banyak yang anggap enteng arsiparis, padahal ini adalah pekerjaan vital. Terbukti banyak daerah yang capaiannya gagal karena datanya tidak menunjang,” jelas Asman.
 
Hal itu juga diakui Kepala ANRI Mustari Irawan. Dia bilang kondisi kearsipan di Indonesia sangat kauh dari kata baik.
 
”Kondisi kearsipan pada lembaga negara, pemerintah daerah dan perguruan tinggi negeri sangat memprihatinkan, sehingga perlu di dorong untuk pemenuhan kebutuhan Arsiparis secara nasional”, ujarnya.
 
Dia bilang, kondisi ini juga terjadi karena kurangnya profesi arsiparis di Indonesia. Tahum 2017 lalu, katanya, kebutuhan Arsiparis secara nasional berdasarkan penghitungan formasi Arsiparis adalah sebanyak 142.760 orang. Sementara jumlah yang ada sekarang baru ada sebanyak 3.252 orang.
 
“Untuk itu, dibutuhkan komitmen pada setiap lembaga negara, pemerintahan daerah, dan perguruan tinggi negeri dalam penataan organisasi dan tata laksana. Sejatinya, setiap arsip yang tercipta dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi harus dikelola oleh Arsiparis”, tutup Mustari.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif