Sjumandjaja, Bidan Kelahiran Si Doel di Layar Lebar
Syumanjaya (via Perpusnas RI)
Film Si Doel The Movie yang baru saja dirilis di bioskop merupakan satu buah dari perjalanan panjang kisah Doel, anak Betawi kampung yang mencecap dunia modern lewat sekolah. Adalah mendiang Sjumandjaja, pria kelahiran 5 Agustus 1933 yang besar di Batavia dan melewati masa revolusi, sineas yang turut "membidani" kelahiran kisahnya di layar putih 45 tahun silam lewat film Si Doel Anak Betawi

Sebelum film tersebut dirilis pada 1973, Aman Datoek Madjoindo yang lebih dulu menceritakan kisahnya lewat novel terbitan Balai Pustaka 1932. Menurut Klarijn Loven dalam buku Watching Si Doel (2008), Aman adalah sastrawan asal Padang bekerja di Balai Pustaka dan tinggal bersama komunitas Betawi di Meester (Jatinegara) sejak 1920.

Aman tertarik dengan seorang anak tetangga yang paling beda dengan anak-anak lain tetapi sekaligus menunjukkan kultur Betawi "paling murni". Namanya Doel (Abdoellah) dengan pembawaan energik, religius, dan sangat patuh pada orang tua. Setelah riset tiga tahun, Aman menuliskan naskah cerita Doel dengan dialek Betawi yang kemudian terbit sebagai buku anak-anak


Kisahnya berpusat pada Doel, anak kampung Betawi di pusat kota yang ingin menjadi jagoan dengan berkelahi, ingin bersekolah, serta diarahkan untuk rajin mengaji. Sehari-hari, ibunya di rumah dan ayahnya menjadi sopir. Suatu ketika, ayah meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Doel berusaha tegar dan membantu ibunya dengan berjualan kue keliling kampung.

Sjuman termasuk yang membaca dan terpukau kisah Doel ketika novelnya diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka pasca-kemerdekaan. Dari situ, dia menulis naskah filmnya untuk kemudian diproduksi dan disutradarai sendiri di bawah atap Matari Film. Pada akhir cerita versi film, nasib Doel dan ibunya terangkat karena bantuan pamannya.

Menurut data Sinematek, film adaptasi ini menjadi film ketiga Sjuman sebagai sutradara sekaligus film perdana bagi Matari, perusahaan produksi yang didirikan Sjuman setelah menjabat Direktur Film di Departemen Penerangan (1966-1968) serta Ketua Akademi Sinematografi LPKJ dan anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1973). 

Lewat film inilah, persona Rano Karno sebagai Doel ikut lahir. Saat itu usianya 12 tahun dan telah bermain dalam film Malin Kundang dan Lingkaran Setan. Dia sudah membaca novelnya dan mengidolakan Doel. Ayahnya, Sukarno M Noor, adalah aktor film sejak 1953. Sukarno dan Syuman saling mengenal lewat beberapa proyek film, termasuk debut Sjuman sebagai sutradara Lewat Tengah Malam (1971).

Menurut Klarijn, awalnya Sjuman ingin Tino Karno, kakak Rano, yang memerankan Doel. Namun akhirnya Rano yang dipilih dalam audisi. Tino tetap ikut dan memerankan Sapi'i, bocah musuh bebuyutan Doel. Sukarno, ayah mereka berdua, memerankan kakek Doel. Lewat proyek film ini pula, Rano mulai belajar memahami frame dan angle kamera dalam produksi film.

"Saya anak yang paling nakal untuk melihat angle (...). Dari kecil saya sudah ingin tahu size itu seperti apa. Tapi yang namanya cameramen, enggak bisa sembarangan orang mengintip viewfinder, bisa ditampar kalau enggak izin," kenang Rano saat dihubungi Medcom.id, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Benyamin Suaeb, aktor baru yang melejit lewat film Intan Berduri (1972), memerankan Asman ayah Doel. Tutie Kirana, wanita kedua yang dinikahi Sjuman, memerankan ibu Doel. Sjuman juga ikut bermain dan memerankan Asmad, paman Doel yang muncul sebagai penyelamat keluarga lewat tradisi "turun ranjang". 

Tiga tahun kemudian, setelah menulis dan menyutradarai Si Mamad, Atheis, serta Laila Majenun peraih Piala Citra, Sjuman membuat kelanjutan kisah Doel dalam film Si Doel Anak Modern. Rano tidak terlibat dan tokoh Doel, yang sudah dewasa dan memburu kerja di Jakarta setelah menjual tanah warisan, diperankan oleh Benyamin. 


Poster Atheis (via jurnal footage)

Doel dalam film kedua adalah pemuda kampung yang ingin masuk kelas modern kota, tetapi menjadi korban mental karena naif dan polos. Salah satu motif Doel adalah untuk memperistri Nonon alias Kristin (Christine Hakim), teman masa kecil yang telah menjadi peragawati dalam gaya hidup modern kota. Ini adalah film terakhir tentang Doel sebelum serial produksi Karnos Film dibuat untuk televisi era 1990-an. 

Sjumandjaja adalah Doel

Sjuman, yang akrab disapa Manjoy, dekat dengan kisah Doel karena memang besar dalam lingkungan Betawi, kendati ayahnya berasal dari Jawa Tengah. Idris Sardi, seperti ditulis SM Ardan (1985), menyebut Sjuman sebagai "Betawi tulen". Idris adalah penata musik yang ikut mengerjakan film-film Syuman seperti Si Mamad dan Budak Nafsu.


Sjumandjaja, duduk paling kanan (foto via jurnalfootage)

"Ia humoris Betawi tulen. Humornya khas dengan makian Betawi karena ia memang anak Betawi. Setelah ia kembali dari Moskow dengan gelar sarjananya, sifatnya tak berubah. Ia tetap saya kenal seperti Sjumandjaja dahulu," kata Idris. 

Setidaknya dalam dua artikel orbituari lain, Sjuman dikenang sebagai "Si Doel". Selain karena dia membuat dua film Si Doel yang cukup populer, Sjuman adalah orang Betawi berpendidikan. Dia mendapat beasiswa film di Institut Sinematografi Moskow dan lulus dengan predikat Cum Laude pada 1964. Konon, dia orang ketujuh yang mendapat nilai setinggi itu di sana.

"Karena besar di Jakarta, tidak heran bila Sjuman akrab dengan budaya Betawi, sehingga tidak sedikit filmnya yang sangat bercorak Betawi seperti Si Doel Anak Betawi, Si Doel Anak Modern, dan Pinangan," tulis JB Kristanto dan Bre Redana di Harian Kompas 20 Juli 1985.

"Bahwa Si Doel Anak Betawi, berdasar cerita anak-anak Betawi tak lain adalah potret diri Sjuman (...). Sjuman yang dibesarkan di lingkungan Betawi itu sebenarnya cukup berbudaya. Ia adalah orang Indonesia pertama yang menjadi sarjana sinematografi," tulis Marselli, pemimpin redaksi Sinema Indonesia dalam edisi Juli 1986.

Sjuman bersekolah di Taman Madya (setara SMA) di Taman Siswa Jakarta dan aktif dalam kegiatan sandiwara bersama Misbach Yusra Biran, SM Ardan, dan Savitri putri penyair Sanusi Pane. Bersama Misbach dan Ardan, Syuman juga aktif menulis puisi dan cerpen. Saban hari, mereka kongko di Senen bersama para seniman lintas cabang. 

Sjuman anak kelima dari delapan bersaudara. Ayahnya meninggal pada 1943, saat usia Sjuman belum genap 10 tahun dan penguasa Jepang menjalankan kerja rodi. Sejak itu, ibunya membesarkan anak-anak seorang diri. Masa lalu ini, menurut Ardan, membuat Sjuman menjadi orang yang romantis dan "keras di luar, lembut di dalam". 

Dalam Si Doel Anak Betawi, Sjuman menemukan kepahitan dan perjuangan yang sama, yaitu kisah kematian sang ayah. Kisah ini dia masukkan sebagai elemen cerita utama untuk film adaptasinya yang berlatar 1940 pra-kemerdekaan. 

Cerita tentang kematian ayah juga tampak kentara dalam film Si Mamad (1973), yang diadaptasi dari cerpen Rusia berjudul Matinya Seorang Pegawai Negeri karya Anton Checkov. Ingatan tentang darah dan kematian para pejuang kemerdekaan tertuang dalam film adaptasi Atheis (1974) dan Laila Majenun (1975). Ingatan soal revolusi, seperti ditulis JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia, juga tertuang dalam Lewat Tengah Malam (1971) dan Flamboyant (1972).

"Kesadaran saya ingin melupakan semua masa lalu yang pahit ini, tetapi tanpa saya sadari hal-hal itu ada yang keluar dalam film-film saya," ungkap Sjuman dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki pada awal Agustus 1977, seperti dikutip Suara Karya. 

Lagu tema Si Doel yang populer hingga sekarang, liriknya ditulis Sjuman dan musiknya digarap Syumantiasa. Rano kecil dan kawan-kawannya menyanyikan. Lewat lirik jenaka yang berpusat pada tokoh Doel dan Sapi'i, lagu asli ini dengan tegas memuat stereotip orang Betawi yang ketinggalan zaman.

Siape bilang anak Betawi pade betingke
Siape bilang anak Betawi pade buaye
Anak Betawi ketinggalan jaman, katenye
Anak Betawi nggak berbudaye, katenye
Aduh sialan, nih si Doel anak Betawi asli
Kerjaannye sembayang mengaji
Tapi jangan bikin die sakit ati
Ini beri sekali, orang bisa mati


Kesenjangan Sosial

Lewat film Si Doel Anak Betawi, Sjuman juga memotret modernitas yang mendatangi komunitas Betawi dalam wujud sekolah bernama Taman Siswa. Dalam satu adegan, setelah Doel dikerubuti oleh geng Sapi'i dan ditolong Paman Asmad, paman membuang tampah berisi kue jualan Doel ke sungai, sebagai isyarat bahwa dia akan menanggung biaya sekolah Doel. 

"Sekarang itu sudah tidak perlu lagi," kata Asmad, yang diperankan oleh Sjuman. 

JB Kristanto menyebut film ini menyorot pentingnya pendidikan demi memutus lingkaran jelek kehidupan anak Betawi. Salim Said menyebut film ini memuat "harapan anak-anak Betawi terhadap suatu hidup wajar di tengah kota, yang terus membesar tetapi cuma dinikmati oleh pendatang". 

Benturan antara Betawi dan modernitas ditonjolkan lebih lanjut oleh Sjuman lewat Si Doel Anak Modern (di awal film, judul ini diganti menjadi Si Doel Sok Modern). Di sini, modern muncul sebagai gaya hidup yang mementingkan uang dan penuh kepalsuan. Doel mencoba masuk dunia itu, tetapi hanya menjadi bahan tertawaan dan menyesal.

Humor tentang kepalsuan ini tampak dalam salah satu dialog ketika Sapi'i dan Sinyo hendak mencari Doel di rumah Kristin. Mereka disambut ibu Kristin lewat pengeras suara di seluruh ruangan. Saat menunggu, mereka menjumpai anggur dan bunga plastik di ruang tamu.

Sapi'i: Sayang ya, rumah sebagus ini, isinya palsu.
Sinyo: Ssst!
Ibu Kristin: Selamat pagi.
Sapi'i & Sinyo: Selamat pagi.
Ibu Kristin: Silakan duduk di rumah palsu.
Sapi'i: Maaf Zus, bukan begitu maksud saya.
Ibu Kristin: Tidak apa-apa, saya suka dengan kesan Anda. Artinya, rumah ini betul-betul modern.

Semasa hidup, Sjuman menyutradarai 16 film cerita yang semua naskahnya dia tulis sendiri. Kebanyakan naskah adaptasi novel atau cerpen. Sebelum meninggal karena serangan jantung pada 19 Juli 1985, film terakhir Opera Jakarta hampir selesai syuting. Film itu, yang diadaptasi dari novel karya Arswendo Atmowiloto, akhirnya diselesaikan atas arahan penata kamera Sutomo Gandasubrata.

Film-film Sjuman selalu memotret permasalahan sosial dan moral, seperti korupsi dan efek buruk pembangunan, kendati mungkin tema kisahnya percintaan. Judul-judul lain di antaranya Yang Muda Yang Bercinta, Kabut Sutra Ungu, dan Kerikil-kerikil Tajam.

Media massa, kritikus film, dan rekan sineas juga mengingat Sjuman sebagai pembuat film yang punya perhatian khusus terhadap realitas sosial tersebut. Dalam wawancara dengan Tirto pada Maret 2017, JB Kristanto menyebut Syuman sebagai sineas yang mampu membuat film-film pop yang "memahami masyarakat".

"Di tangan Sjuman, film-film populer bisa lain jadinya. Kabut Sutra Ungu, di tangan Sjuman, itu film cinta-cintaan, tetapi ada polisinya lah, korupnya lah," kata Kristanto.

Menurut Kristanto, film-film Sjuman termasuk punya kekuatan karena punya kaitan dengan sastra dan teater. Sjuman, seperti halnya Usmar Ismail atau Nyak Abbas Acup, disebut akrab dengan sastra sehingga film-filmnya punya pemikiran tentang situasi sosial masyarakat.

Salim Said menyebut Sjuman sebagai pemberontak dan pelopor yang membuktikan bahwa film Indonesia bisa menjadi media serius. Menurut Salim, Syuman bosan dengan bahasa baku film Indonesia yang itu-itu saja. Kendati tidak selalu berhasil dengan baik dalam hal penyampaian, Sjuman berusaha menemukan idiom baru untuk bercerita. 

"Cerita-cerita dengan kritik sosial tidak dengan sendirinya menghasilkan film bagus karena pengucapan juga sama penting dengan yang diucapkan," tulis Salim.

Bagi Sjuman, film adalah medium seni untuk "menjual mimpi" tetapi dengan tanggung jawab sosial. Dalam tulisan berjudul "Membicarakan Film Indonesia: Di Tangan Borjuis Kelontong, Film Hanya Barang Dagangan" yang dimuat majalah Analisa terbitan 24 Juli 1977 dan diterbitkan ulang oleh Jurnal Footage pada 2010, Sjuman memaparkan hal itu.

"Film-film saya pun tidak pernah mencapai box office spektakuler seperti film Ratapan Anak Tiri dan Bernafas Dalam Kubur, tetapi tidak jadi soal untuk saya. Bukan itu yang saya cari, walaupun saya juga mengharapkan itu karena saya juga berdagang, meskipun sering dikatakan bahwa yang kita perdagangkan adalah mimpi," tulis Syuman.

"Saya mencoba memperdagangkan mimpi plus tanggung jawab sosial, kulturil, dan politis. Tidak kurang yang memperdagangkan mimpi thok, tanpa tanggung jawab, sehingga apakah filem itu cengeng, cepengan, konyol, pokoknya laku, dijual!" lanjutnya.

Dia juga menyebut bahwa banyak film produksi Indonesia yang menjual "mimpi buruk", "tidak bertanggung jawab", dan "itu-itu saja". 

"Memperdagangkan mimpi seks, naluri-naluri rendah, dan semacamnya. Dan semuanya disalut dalam sebuah lifestyle yang penuh glamour. Dan karena itu dengan sangat cepat merebut hati para penonton. Ada juga yang berpikir serius, tetapi mereka didesak ke pojok. Celaka kalau semuanya berjalan terus," ujarnya.





(DEV)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id