YOUR FASHION

Bukan Sepatu Biasa, Cara IrvShoes Bertahan di Tengah Serbuan Impor

A. Firdaus
Rabu 28 Januari 2026 / 09:21
Ringkasnya gini..
  • Pendekatan ini justru menjadi kekuatan utama yang membuat IrvShoes mampu bertahan hingga kini.
  • IrvShoes tidak diposisikan sebagai pabrik sepatu, melainkan sebagai laboratorium desain.
  • IrvShoes juga digemari di skena K-Pop dan dunia konser.
Bandung: Di tengah derasnya arus sepatu impor murah dan produksi massal yang serba cepat, brand sepatu lokal asal Bandung, IrvShoes, memilih jalur berbeda. Alih-alih mengejar kuantitas, IrvShoes konsisten memproduksi sepatu dengan proses rumit, penuh detail, dan sulit dibuat dalam jumlah besar.

Pendekatan ini justru menjadi kekuatan utama yang membuat IrvShoes mampu bertahan hingga kini.

Perjalanan IrvShoes berawal dari pengalaman pendirinya, Agus Setiawan, yang sejak 2004 telah berkecimpung di sentra sepatu Cibaduyut. Saat itu, Agus berperan sebagai pembina pengrajin. Ia melihat langsung realitas industri sepatu lokal yang cenderung bermain aman, menjual produk murah dengan desain seragam dan proses produksi instan.

“Sepatu lokal banyak dijual murah, tapi minim inovasi. Dari situ muncul pertanyaan, kenapa Cibaduyut jarang berani tampil berbeda,” kata Agus kepada Medcom.id. Pertanyaan itu kemudian dijawab pada 2010 dengan lahirnya IrvShoes. Sejak awal, IrvShoes tidak diposisikan sebagai pabrik sepatu, melainkan sebagai laboratorium desain. Agus mendorong eksperimen bentuk sepatu yang tidak lazim, mulai dari sol tinggi ekstrem, siluet berani, hingga teknik produksi yang jarang digunakan di industri sepatu lokal.

Para pengrajin diajak menggunakan Spon EVA lembaran yang dibentuk secara manual, bukan sol cetakan siap pakai. Konsekuensinya, proses produksi menjadi lebih rumit dan memakan waktu. Harga sepatu pun melonjak signifikan, dari kisaran Rp50 ribu menjadi sekitar Rp250 ribu per pasang.

Langkah tersebut sempat menuai keraguan. Tidak sedikit pengrajin yang mempertanyakan apakah pasar bersedia membeli sepatu lokal dengan harga tersebut. Namun, respons konsumen justru menunjukkan hal sebaliknya.



Meski media sosial belum seintensif sekarang, desain IrvShoes yang unik perlahan menemukan pasar. Karena tidak banyak pengrajin yang mampu mengerjakan sepatu dengan tingkat kerumitan serupa, IrvShoes akhirnya membangun workshop sendiri dan berkembang sebagai brand handmade premium dengan karakter kuat.
 

Kenyamanan Jadi Prinsip


Selain desain, kenyamanan menjadi prinsip utama IrvShoes. Seluruh sepatu dibuat tanpa bahan pengeras sehingga tetap lentur dan nyaman digunakan, meski memiliki sol tinggi. Penggunaan Spon EVA lembaran memungkinkan fleksibilitas desain, mulai dari tinggi sepatu hingga 20 sentimeter, pilihan warna custom, hingga penyesuaian bentuk sesuai kebutuhan pelanggan.

“Bukan tidak bisa ditiru, tapi kebanyakan tidak mau seribet ini,” ujar Agus. Pendekatan tersebut menempatkan IrvShoes di ceruk pasar yang relatif jarang disentuh brand lain.
 

Digemari Perempuan hingga Skena K-Pop


Sejak awal, IrvShoes menyasar segmen perempuan yang dinilai lebih berani bereksperimen dengan gaya. Salah satu basis pelanggan terkuat datang dari kalangan hijabers, yang membutuhkan sepatu tinggi namun tetap aman, nyaman, dan tahan terhadap aktivitas harian.



Seiring waktu, IrvShoes juga digemari di skena K-Pop dan dunia konser. Sepatu platform ekstrem dengan desain bold menjadi ciri khas yang sulit diproduksi secara massal oleh pabrik besar.
 

Tumbuh Organik Tanpa Iklan Masif


Menariknya, IrvShoes tidak bertumbuh lewat iklan digital besar-besaran. Sejak awal, brand ini mengandalkan promosi organik melalui word of mouth, rekomendasi key opinion leader, serta endorsement selebritas seperti Tika Jessica dan Luna Maya.

Di marketplace, IrvShoes bahkan berani memasarkan sepatu berbahan imitasi dengan harga hingga Rp800 ribu per pasang. Pasar tetap merespons positif karena konsumen membeli lebih dari sekadar produk, melainkan cerita, craftsmanship, dan karakter brand.
 

Pelayanan Jadi Kunci


Bagi IrvShoes, kualitas produk berjalan seiring dengan kualitas pelayanan. Fokus diberikan pada pengalaman pelanggan secara menyeluruh, mulai dari respons komunikasi, penukaran ukuran, hingga garansi sol seumur hidup.

“Produk kadang bisa bagus, kadang tidak. Tapi dengan pelayanan yang baik, pelanggan akan merasa nyaman,” ujar Agus.
 

Bertahan dengan Cara Sendiri


Saat banyak brand lokal tertekan oleh serbuan sepatu impor murah, IrvShoes tetap bertahan dengan strategi berbeda. Saat ini, IrvShoes menerapkan sistem produksi berbasis pesanan (by order), tanpa menumpuk stok. Produksi baru dilakukan setelah pesanan masuk.

Dengan pendekatan tersebut, IrvShoes terus menjaga identitasnya sebagai brand sepatu handmade premium yang lahir dari keberanian mengambil jalan sulit, namun konsisten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH