YOUR FASHION
Cerita Indahnya Ragam Kultur Jakarta Melalui Wastra
Aulia Putriningtias
Kamis 30 Juli 2026 / 19:39
- Sebuah kota tidak hanya dikenang melalui gedung-gedung pencakar langit atau jalanan padat.
- Inilah yang ingin disampaikan dalam RAGAMKULTURA JAKARTA di Indonesa Fashion Week 2026.
- Inilah yang ingin disampaikan dalam RAGAMKULTURA JAKARTA di Indonesa Fashion Week 2026..
Jakarta: Sebuah kota tidak hanya dikenang melalui gedung-gedung pencakar langit atau jalanan padat. Inilah yang ingin disampaikan dalam RAGAMKULTURA JAKARTA di Indonesa Fashion Week 2026.
Gelaran ini menghadirkan sembilan jenama dari penggiat wastra di Jakarta dengan dukungan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf DKI Jakarta). Sembilan jenama tersebut mempersembahkan koleksi terinspirasi dari ikon kota, flora di ruang urban, nilai-nilai masyarakat Betawi, hingga kisah warga.
Seluruh koleksi tersebut menyampaikan satu pesan, bahwa Jakarta rumah baai ragam kultur (melting pot) nan terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Inspirasi para penggiat wastra tersebut lahir dari hal-hal terdekat di sekitar bahkan acap silap dar pandangan. Contohnya adalah Riana Kusuma Astuti justru melambat tertuju pada Kembang Sepatu bermekaran di tepi jalan.
"Karena saya bukan desainer. Saya penggiat batik. Jadi ide-ide kreatif itu muncul dari kebiasaan sehari-hari. Seperti melihat Kembang Sepatu lalu dijadikan batik lalu dikreasikan sehingga jadi satu cerita tersendiri tentang Jakarta," papar Riana dalam konferensi pers IFW 2026 hari kedua, Kamis, 30 Juli 2026.
Motif tersebut dipadukan dengan Tumpal Pasung Betawi sebagai ornamen berakar dari arsitektur tradisional Betawi melambangkan kekuatan, perlindungan, serta keseimbangan hidup.
Kemudian, hadir jenama Batik Marunda, di mana Irma memilih bercerita tentang Sampir Jakarta sebagai interpretasi modern dari sampir Betawi. Hal ini merepresentasi pelukan menghangatkan. Sampir dipilih bukan tanpa alasan.
"Kami ingin bercerita tentang betapa indahnya Jakarta lewat sehelai kain, dan itu akan meniadi legacy untuk kota Jakarta," kata Irma.
Setiap helai batik dalam koleksi Batik Marunda merupakan hasil karya perempuan-perempuan penghuni Rusunawa Marunda. Para perempuan yang diberdaya ada sekitar 20 orang.
Berawal dari program pemberdayaan masyarakat, ibu-ibu penghuni rumah susun itu belaiar membatik tulis hingga mampu menghasilkan karya yang kini tampil di salah satu panggung mode terbesar di Indonesia.
Berlanjut ke pegiat lainnya, generasi masa kini pun menjadi pertimbangan penting bagi regenerasi market. Uty Wulandari, perintis Batik Mamauty, tetap mempertahankan style-nya dengan casual wastra sehingga begitu dekat dengan generasi muda.
"Jadi pembuatan koleksi ini sesuai karakter sava dengan bahan atau dengan motif lebih beragam, agar menyentuh Jakarta sebagai kota dengan ragam kultur," kata Uty.
Keseluruhan koleksi Ragamkultura Jakarta menunjukkan perkembangan fashion Indonesia hari ini tidak lagi hanya berbicara mengenai tren, tetap juga mengenai narasi.
Setiap motif menjadi arsip visual. Setiap warna menghadirkan memori. Setiap potongan busana menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Gelaran ini menghadirkan sembilan jenama dari penggiat wastra di Jakarta dengan dukungan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf DKI Jakarta). Sembilan jenama tersebut mempersembahkan koleksi terinspirasi dari ikon kota, flora di ruang urban, nilai-nilai masyarakat Betawi, hingga kisah warga.
Seluruh koleksi tersebut menyampaikan satu pesan, bahwa Jakarta rumah baai ragam kultur (melting pot) nan terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Inspirasi para penggiat wastra tersebut lahir dari hal-hal terdekat di sekitar bahkan acap silap dar pandangan. Contohnya adalah Riana Kusuma Astuti justru melambat tertuju pada Kembang Sepatu bermekaran di tepi jalan.
"Karena saya bukan desainer. Saya penggiat batik. Jadi ide-ide kreatif itu muncul dari kebiasaan sehari-hari. Seperti melihat Kembang Sepatu lalu dijadikan batik lalu dikreasikan sehingga jadi satu cerita tersendiri tentang Jakarta," papar Riana dalam konferensi pers IFW 2026 hari kedua, Kamis, 30 Juli 2026.
Motif tersebut dipadukan dengan Tumpal Pasung Betawi sebagai ornamen berakar dari arsitektur tradisional Betawi melambangkan kekuatan, perlindungan, serta keseimbangan hidup.
Kemudian, hadir jenama Batik Marunda, di mana Irma memilih bercerita tentang Sampir Jakarta sebagai interpretasi modern dari sampir Betawi. Hal ini merepresentasi pelukan menghangatkan. Sampir dipilih bukan tanpa alasan.
"Kami ingin bercerita tentang betapa indahnya Jakarta lewat sehelai kain, dan itu akan meniadi legacy untuk kota Jakarta," kata Irma.
Setiap helai batik dalam koleksi Batik Marunda merupakan hasil karya perempuan-perempuan penghuni Rusunawa Marunda. Para perempuan yang diberdaya ada sekitar 20 orang.
Berawal dari program pemberdayaan masyarakat, ibu-ibu penghuni rumah susun itu belaiar membatik tulis hingga mampu menghasilkan karya yang kini tampil di salah satu panggung mode terbesar di Indonesia.
Berlanjut ke pegiat lainnya, generasi masa kini pun menjadi pertimbangan penting bagi regenerasi market. Uty Wulandari, perintis Batik Mamauty, tetap mempertahankan style-nya dengan casual wastra sehingga begitu dekat dengan generasi muda.
"Jadi pembuatan koleksi ini sesuai karakter sava dengan bahan atau dengan motif lebih beragam, agar menyentuh Jakarta sebagai kota dengan ragam kultur," kata Uty.
Keseluruhan koleksi Ragamkultura Jakarta menunjukkan perkembangan fashion Indonesia hari ini tidak lagi hanya berbicara mengenai tren, tetap juga mengenai narasi.
Setiap motif menjadi arsip visual. Setiap warna menghadirkan memori. Setiap potongan busana menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)