YOUR FASHION
IN2MOTIONFEST 2026, Saat Fesyen Jadi Magnet Wisata Jakarta
A. Firdaus
Rabu 14 Oktober 2026 / 20:18
- IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 di Jakarta mendorong wisata belanja
- Daya tarik fesyen Indonesia tidak hanya terletak pada desain modern.
- IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra bisnis dan konsumen.
Jakarta: Industri fesyen muslim tak hanya menjadi ruang bagi desainer untuk memamerkan kreativitas, tetapi juga berpotensi menarik wisatawan untuk berkunjung dan berbelanja. Peluang ini yang ingin diperkuat melalui Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) yang berkolaborasi dengan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi penyelenggaraan IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Ajang ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata belanja sekaligus membuka peluang bisnis fesyen Indonesia di pasar internasional.
“Indonesia memiliki kekayaan wastra, mulai dari batik, tenun, hingga beragam tekstil tradisional Nusantara. Melalui peragaan busana, pameran, trade show, dan business matching wastra, kami berharap acara ini meningkatkan eksposur jenama lokal, menghasilkan kemitraan dan transaksi bisnis, serta menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung dan berbelanja di Jakarta,” kata Widiyanti saat membuka acara, Rabu, 14 Oktober 2026.
IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 menghadirkan peragaan busana dari lebih dari 300 desainer dan jenama terkurasi. Pengunjung juga dapat menikmati pameran dagang, dialog industri, penjajakan kerja sama bisnis, pemaparan tren fesyen, hingga program penjualan khusus atau clearance sale.
Rangkaian kegiatan tersebut tak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku industri fesyen, tetapi juga mempertemukan desainer, pembeli, media, dan konsumen dalam satu ekosistem kreatif.
Menurut Widiyanti, wisata belanja menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Aktivitas ini berpotensi meningkatkan pengeluaran wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi desainer, perajin, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat lokal.
Kehadiran wisatawan dalam acara fesyen juga dapat menggerakkan sektor lain, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi, hingga ritel. Dengan begitu, manfaat sebuah festival tidak berhenti pada transaksi produk fesyen, tetapi dapat meluas ke berbagai sektor pendukung pariwisata.
Daya tarik fesyen Indonesia tidak hanya terletak pada desain modern, tetapi juga pada kekayaan budaya yang melekat dalam setiap karya. Batik, tenun, dan berbagai tekstil tradisional Nusantara menjadi sumber inspirasi yang dapat menghubungkan industri fesyen dengan pengalaman wisata budaya.
Ketertarikan wisatawan terhadap koleksi berbasis wastra, misalnya, dapat berkembang menjadi keinginan untuk mengunjungi daerah asal kain tersebut. Wisatawan bisa mengenal sentra kerajinan, menyaksikan proses pembuatan kain, berinteraksi dengan perajin, hingga membeli produk autentik langsung dari daerah penghasilnya.
Pengalaman seperti ini menawarkan perjalanan yang lebih bermakna. Wisatawan tidak sekadar membawa pulang produk fesyen, tetapi juga mengenal cerita, tradisi, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap produk berbasis wastra berpotensi membuka pasar lebih luas bagi perajin dan pengusaha lokal. Karena itu, kolaborasi industri fesyen dan pariwisata dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada dunia.
Indonesia juga memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam industri modest fashion dunia. Widiyanti menyoroti potensi Indonesia menjadi salah satu pusat modest fashion global melalui pengembangan kreativitas desainer, penguatan jenama lokal, dan promosi kekayaan budaya Nusantara.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024–2025, belanja konsumen muslim global untuk produk fesyen diproyeksikan mencapai USD433 miliar pada 2028.
Besarnya potensi pasar tersebut membuka kesempatan bagi desainer dan jenama Indonesia untuk memperluas jangkauan bisnis, membangun kemitraan internasional, serta meningkatkan pengakuan terhadap produk fesyen yang memiliki identitas khas Indonesia.
IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra bisnis dan konsumen. Namun, peluang tersebut juga perlu diiringi penguatan kualitas produk, inovasi desain, serta keberlanjutan rantai produksi yang melibatkan perajin dan pelaku UMKM.
Bagi sektor pariwisata, promosi modest fashion dapat berjalan beriringan dengan pengenalan destinasi budaya dan wisata belanja di berbagai daerah. Dengan demikian, Jakarta tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya festival, tetapi juga pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan fesyen dan budaya Indonesia lebih jauh.
Widiyanti berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas pasar produk kreatif Indonesia sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
“Mari kita bawa karya Indonesia ke panggung dunia dan mengundang dunia untuk datang menemukan inspirasi di Indonesia,” kata Widiyanti.
(FIR)
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi penyelenggaraan IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Ajang ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata belanja sekaligus membuka peluang bisnis fesyen Indonesia di pasar internasional.
“Indonesia memiliki kekayaan wastra, mulai dari batik, tenun, hingga beragam tekstil tradisional Nusantara. Melalui peragaan busana, pameran, trade show, dan business matching wastra, kami berharap acara ini meningkatkan eksposur jenama lokal, menghasilkan kemitraan dan transaksi bisnis, serta menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung dan berbelanja di Jakarta,” kata Widiyanti saat membuka acara, Rabu, 14 Oktober 2026.
Fesyen dan Wisata, Peluang yang Saling Terhubung
IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 menghadirkan peragaan busana dari lebih dari 300 desainer dan jenama terkurasi. Pengunjung juga dapat menikmati pameran dagang, dialog industri, penjajakan kerja sama bisnis, pemaparan tren fesyen, hingga program penjualan khusus atau clearance sale.
Rangkaian kegiatan tersebut tak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku industri fesyen, tetapi juga mempertemukan desainer, pembeli, media, dan konsumen dalam satu ekosistem kreatif.
Menurut Widiyanti, wisata belanja menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Aktivitas ini berpotensi meningkatkan pengeluaran wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi desainer, perajin, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat lokal.
Kehadiran wisatawan dalam acara fesyen juga dapat menggerakkan sektor lain, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi, hingga ritel. Dengan begitu, manfaat sebuah festival tidak berhenti pada transaksi produk fesyen, tetapi dapat meluas ke berbagai sektor pendukung pariwisata.
Dari Panggung Mode ke Sentra Wastra Nusantara
Daya tarik fesyen Indonesia tidak hanya terletak pada desain modern, tetapi juga pada kekayaan budaya yang melekat dalam setiap karya. Batik, tenun, dan berbagai tekstil tradisional Nusantara menjadi sumber inspirasi yang dapat menghubungkan industri fesyen dengan pengalaman wisata budaya.
Ketertarikan wisatawan terhadap koleksi berbasis wastra, misalnya, dapat berkembang menjadi keinginan untuk mengunjungi daerah asal kain tersebut. Wisatawan bisa mengenal sentra kerajinan, menyaksikan proses pembuatan kain, berinteraksi dengan perajin, hingga membeli produk autentik langsung dari daerah penghasilnya.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan sambutannya saat pembukaan IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Pengalaman seperti ini menawarkan perjalanan yang lebih bermakna. Wisatawan tidak sekadar membawa pulang produk fesyen, tetapi juga mengenal cerita, tradisi, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap produk berbasis wastra berpotensi membuka pasar lebih luas bagi perajin dan pengusaha lokal. Karena itu, kolaborasi industri fesyen dan pariwisata dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada dunia.
Membidik Peluang Pasar Modest Fashion Global
Indonesia juga memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam industri modest fashion dunia. Widiyanti menyoroti potensi Indonesia menjadi salah satu pusat modest fashion global melalui pengembangan kreativitas desainer, penguatan jenama lokal, dan promosi kekayaan budaya Nusantara.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024–2025, belanja konsumen muslim global untuk produk fesyen diproyeksikan mencapai USD433 miliar pada 2028.
Besarnya potensi pasar tersebut membuka kesempatan bagi desainer dan jenama Indonesia untuk memperluas jangkauan bisnis, membangun kemitraan internasional, serta meningkatkan pengakuan terhadap produk fesyen yang memiliki identitas khas Indonesia.
IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra bisnis dan konsumen. Namun, peluang tersebut juga perlu diiringi penguatan kualitas produk, inovasi desain, serta keberlanjutan rantai produksi yang melibatkan perajin dan pelaku UMKM.
Bagi sektor pariwisata, promosi modest fashion dapat berjalan beriringan dengan pengenalan destinasi budaya dan wisata belanja di berbagai daerah. Dengan demikian, Jakarta tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya festival, tetapi juga pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan fesyen dan budaya Indonesia lebih jauh.
Widiyanti berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas pasar produk kreatif Indonesia sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
“Mari kita bawa karya Indonesia ke panggung dunia dan mengundang dunia untuk datang menemukan inspirasi di Indonesia,” kata Widiyanti.
(FIR)