YOUR FASHION
Bukan Sekadar Kain Tradisional, Ulos Disulap Jadi Busana Elegan di IFW 2026
A. Firdaus
Sabtu 01 Agustus 2026 / 08:12
- Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen Pendopo untuk terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
- Sembilan busana yang ditampilkan membawa penonton menyusuri berbagai nilai kehidupan masyarakat Batak.
- Seluruh kain Ulos yang digunakan merupakan hasil tenun perajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia.
Jakarta: Wastra Nusantara kembali menjadi sorotan di panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Kali ini, Pendopo menggandeng desainer Julia Orlandy menghadirkan koleksi bertajuk "Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini", yang mengangkat keindahan Ulos dalam balutan busana modern.
Koleksi yang terdiri dari sembilan tampilan ini menawarkan interpretasi baru terhadap Ulos sebagai warisan budaya Batak. Melalui siluet elegan, sentuhan tailoring, dan detail kontemporer, koleksi tersebut membuktikan bahwa kain tradisional tetap relevan dikenakan dalam berbagai kesempatan masa kini.
Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen Pendopo untuk terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang dekat dengan perkembangan zaman.
"Di Pendopo, kami percaya bahwa setiap wastra Nusantara membawa cerita, nilai, dan identitas yang layak diwariskan. Bersama Julia Orlandy, kami ingin mengajak lebih banyak masyarakat mengenal sekaligus bangga mengenakan wastra Indonesia dalam keseharian," ujar Laura.
Tema "Nadi di Tondi" lahir dari filosofi Batak tentang tondi, yang berarti jiwa, roh, dan kekuatan batin. Dipadukan dengan makna nadi sebagai simbol denyut kehidupan, koleksi ini menggambarkan bagaimana tradisi terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Inspirasi tersebut juga diambil dari tradisi Mangulosi, yakni prosesi adat Batak saat Ulos disematkan sebagai lambang kasih sayang, perlindungan, penghormatan, dan doa restu.
Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam busana formal bergaya elegan dengan sentuhan asimetris, aksen turtleneck, dan desain ready-to-wear yang mudah dikenakan dalam berbagai aktivitas modern.
Koleksi ini menggunakan beragam jenis Ulos, seperti Sibolang Rasta, Sibolang Rasta Marliris, Mangiring, Tutur-tutur, hingga Simarpisoran. Masing-masing dipilih bukan hanya karena keindahan motifnya, tetapi juga filosofi yang dikandungnya.

Ki-Ka; Ni Luh Putu Laura Sarassita, Head of Pendopo dan Julia Orlandy, Desainer Meluncurkan Koleksi Nadi di Tondi pada IFW 2026. Dok. Ist
Sembilan busana yang ditampilkan membawa penonton menyusuri berbagai nilai kehidupan masyarakat Batak, mulai dari Tondi yang melambangkan kekuatan jiwa, Hamajuon sebagai simbol kemajuan, Holong yang berarti kasih sayang, Hasangapon tentang kehormatan, Pardomuan yang merepresentasikan persatuan, hingga Horas sebagai doa untuk kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Narasi kemudian berlanjut melalui Ragidup yang menggambarkan dinamika kehidupan, Pasu-pasu sebagai simbol doa dan berkat, serta ditutup dengan Hagabeon, yang melambangkan keberlanjutan generasi.
Secara visual, koleksi ini memadukan warna-warna khas Ulos dengan kain hitam polos sehingga menghasilkan tampilan yang elegan sekaligus berkarakter. Material semi-wool dipilih untuk memperkuat konstruksi tailoring dan menghadirkan kesan modern tanpa menghilangkan identitas Ulos.
Seluruh kain Ulos yang digunakan merupakan hasil tenun perajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia.
Bagi Julia Orlandy, koleksi ini menjadi bukti bahwa Ulos memiliki ruang luas untuk terus berkembang tanpa meninggalkan makna budayanya.
"Setiap look lahir dari rasa hormat terhadap tradisi, tetapi diterjemahkan dalam bahasa desain yang lebih kontemporer agar dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan masa kini. Fashion bukan hanya soal busana, tetapi juga medium untuk membawa cerita budaya kepada generasi baru," kata Julia.
Melalui kolaborasi di IFW 2026 ini, Pendopo kembali menegaskan komitmennya menghadirkan wastra Nusantara dalam perspektif yang lebih segar. Harapannya, warisan budaya Indonesia tidak hanya menjadi koleksi yang disimpan, tetapi juga terus dikenakan, diapresiasi, dan diwariskan lintas generasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Koleksi yang terdiri dari sembilan tampilan ini menawarkan interpretasi baru terhadap Ulos sebagai warisan budaya Batak. Melalui siluet elegan, sentuhan tailoring, dan detail kontemporer, koleksi tersebut membuktikan bahwa kain tradisional tetap relevan dikenakan dalam berbagai kesempatan masa kini.
Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen Pendopo untuk terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang dekat dengan perkembangan zaman.
"Di Pendopo, kami percaya bahwa setiap wastra Nusantara membawa cerita, nilai, dan identitas yang layak diwariskan. Bersama Julia Orlandy, kami ingin mengajak lebih banyak masyarakat mengenal sekaligus bangga mengenakan wastra Indonesia dalam keseharian," ujar Laura.
Terinspirasi filosofi Batak
Tema "Nadi di Tondi" lahir dari filosofi Batak tentang tondi, yang berarti jiwa, roh, dan kekuatan batin. Dipadukan dengan makna nadi sebagai simbol denyut kehidupan, koleksi ini menggambarkan bagaimana tradisi terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Inspirasi tersebut juga diambil dari tradisi Mangulosi, yakni prosesi adat Batak saat Ulos disematkan sebagai lambang kasih sayang, perlindungan, penghormatan, dan doa restu.
Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam busana formal bergaya elegan dengan sentuhan asimetris, aksen turtleneck, dan desain ready-to-wear yang mudah dikenakan dalam berbagai aktivitas modern.
Mengangkat filosofi di balik setiap Ulos
Koleksi ini menggunakan beragam jenis Ulos, seperti Sibolang Rasta, Sibolang Rasta Marliris, Mangiring, Tutur-tutur, hingga Simarpisoran. Masing-masing dipilih bukan hanya karena keindahan motifnya, tetapi juga filosofi yang dikandungnya.

Ki-Ka; Ni Luh Putu Laura Sarassita, Head of Pendopo dan Julia Orlandy, Desainer Meluncurkan Koleksi Nadi di Tondi pada IFW 2026. Dok. Ist
Sembilan busana yang ditampilkan membawa penonton menyusuri berbagai nilai kehidupan masyarakat Batak, mulai dari Tondi yang melambangkan kekuatan jiwa, Hamajuon sebagai simbol kemajuan, Holong yang berarti kasih sayang, Hasangapon tentang kehormatan, Pardomuan yang merepresentasikan persatuan, hingga Horas sebagai doa untuk kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Narasi kemudian berlanjut melalui Ragidup yang menggambarkan dinamika kehidupan, Pasu-pasu sebagai simbol doa dan berkat, serta ditutup dengan Hagabeon, yang melambangkan keberlanjutan generasi.
Tampil modern tanpa kehilangan identitas
Secara visual, koleksi ini memadukan warna-warna khas Ulos dengan kain hitam polos sehingga menghasilkan tampilan yang elegan sekaligus berkarakter. Material semi-wool dipilih untuk memperkuat konstruksi tailoring dan menghadirkan kesan modern tanpa menghilangkan identitas Ulos.
Seluruh kain Ulos yang digunakan merupakan hasil tenun perajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia.
Bagi Julia Orlandy, koleksi ini menjadi bukti bahwa Ulos memiliki ruang luas untuk terus berkembang tanpa meninggalkan makna budayanya.
"Setiap look lahir dari rasa hormat terhadap tradisi, tetapi diterjemahkan dalam bahasa desain yang lebih kontemporer agar dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan masa kini. Fashion bukan hanya soal busana, tetapi juga medium untuk membawa cerita budaya kepada generasi baru," kata Julia.
Melalui kolaborasi di IFW 2026 ini, Pendopo kembali menegaskan komitmennya menghadirkan wastra Nusantara dalam perspektif yang lebih segar. Harapannya, warisan budaya Indonesia tidak hanya menjadi koleksi yang disimpan, tetapi juga terus dikenakan, diapresiasi, dan diwariskan lintas generasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)