WISATA

Menjaga Asa dari Pariwisata Bali yang Sempat Mati Suri

Kumara Anggita
Rabu 18 November 2020 / 14:42
Bali yang indah, Bali yang ramai, Bali yang ceria, sempat mati suri akibat pandemi covid-19 yang sudah terjadi sejak Maret lalu. Pandemi telah membuat para wisatawan dari Indonesia maupun mancanegara, saat itu tak bisa dan tak mau datang ke Pulau Dewata. Ironis sekali, mengingat pemasukan ekonomi di Bali paling disokong dari sektor pariwisatanya.

Berdasarkan, pantauan Medcom Gaya.id saat mengikuti program 'Perjalanan Wisata Pengenalan Kembali ke Bali' yang diadakan oleh Kemenparekraf bersama Garuda Indonesia pada November ini, suasana di Bali memang tak benar-benar kosong melompong. Namun tak juga seramai biasanya, meski saat akhir pekan.

Seperti ketika kami melihat beberapa hotel dan restoran, begitu sepi pengunjung. Tempat sejarah dan juga pantai yang menjadi spot populer para pelancong, mengalami situasi yang tak seperti pada Bali biasanya, sepi.


Pantai Tanjung Benoa yang sepi pengunjung. (Foto: Kumara/Medcom.id Gaya.id)

Begitu juga dengan pertunjukkan Tari Kecak, bisa dikatakan antara jumlah pengunjung dengan para penari, tak berbeda jauh. Suasana ‘lebih hening’ ini pun semakin dipertegas dengan cerita-cerita dari para pekerja pariwisata di Bali.
 

Pertunjukan Tari Kecak yang buka tutup


Seperti yang diutarakan I Made Astra Ketua, Ketua Sanggar Tari dan Tabu Desa Adat Pecatu. Ia bercerita bahwa pandemi covid-19 telah membuat pertunjukan tari kecak sempat buka tutup.

Tapi belakangan Tari Kecak kembali digeliatkan, lantaran desakan dari para pengunjung dan juga agent travel. Dan, Astra menganggap bahwa inilah waktunya untuk Pariwisata Bali bangkit kembali.

“Setelah Oktober ini, kita sudah mulai, jalur hijau,” jelas Astra pada wartawan di Bali.

Kendati sudah kembali membuka sanggar, ada beberapa sedikit perubahan dalam pelaksanaannya. Seperti jumlah pengunjung yang menonton dibatasi, begitu juga dengan penarinya.

“Kami batasi, artinya ketika normal kami biasanya menampung tamu sekitar 1300-an lah. Namun sesuai dengan protokol kesehatan artinya kita hanya bisa menampung (maksimal) 400 pengunjung setiap kali pertunjukan,” paparnya.

Begitu juga dengan para penari yang harus dikurangi jumlahnya. Seperti normalnya Tari Kecak melibatkan 87 penari.

"Kami punya dua kecak. Kalau sekarang ini, di bawah 87, yaitu sekitar 55-an penari. Artinya per November ini kami buka coba pada hari kamis, jumat, sabtu, minggu, empat kali pertunjukan dalam satu minggu,” ungkapnya.

Astra mengaku pada pertunjukan Tari Kecak ini juga diterapkan protokol kesehatan yang ketat. Termasuk untuk para penarinya.

“Kami juga memakai masker. Dulu kami tidak pakai masker, penari yang tidak pakai topeng kita pakaikan face shield,” ungkapnya.

Tempat juga didisinfektan setiap Sabtu dan Minggu. Para penari juga diharuskan untuk melakukan rapid test setiap sebulan sekali.
 

Restoran sepi namun mulai ada tambahan pengunjung


Ngurah Angga, Kapten Restoran Bumbu Bali pun merasakan hal yang serupa. Ia bercerita, sebelumnya restoran sepi sekali pengunjung, namun saat ini keadaan mulai membaik walaupun jumlahnya belum meningkat secara signifikan.

Menurut Angga, sebelum pandemi datang, kapasitas pengunjung restoran adalah 150 orang. Tapi sekarang restoran Bumbu Bali hanya menyediakan tempat maksimal untuk 40 orang, agar bisa membuat pengunjung menerapkan social distancing.


Disinfektan alat water sport di Tanjung Benoa sesuai protokol. (Foto: Kumara/Medcom.id)

Tak hanya itu, restoran ini juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat yaitu meminta pengunjungnya memakai masker, meja yang besar juga hanya bisa diisi maksimal tiga orang, dan menyediakan hand sanitizer serta tempat cuci tangan di dekat pintu masuk.

Saat ini, pengunjung juga belum ramai berdatangan. Namun menurut Angga tetap ada beberapa orang yang datang.

“Dulunya (pengunjung yang datang misalnya) 10 orang, sekarang sudah jadi 15,” terang Angga saat diwawancarai oleh Medcom Gaya.Id.
 

Tour guide yang banting stir karena pandemi


Lain cerita dengan yang dialami Ida Bagus Prawira, Freelance Tour Guide Travel Indigo. Pandemi covid-19 ini sempat membuat perekonomian Bali hancur, termasuk pekerjaan Bagus.

Seperti diketahui di mata dunia, mayoritas masyarakat Bali sangat tergantung pada sektor pariwisata. Dan, wisatawan mancanegara menjadi aset berharga bagi Prawira dan teman seprofesinya.

Sejak pandemi datang Maret lalu, dan mengakibatkan penerbangan dari luar negeri ditutup, praktis masyarakat insan pariwisata di Bali langsung terdampak.

Prawira yang biasa memandu para wisatawan mancanegara untuk memperkenalkan dan menjelaskan wisata-wisata di Bali pun, mengaku tak mendapatkan penghasilan sejak saat itu.

"Pandemi ini mulai Maret awal sampai ditutup penerbangan dari luar negeri ke Indonesia, otomatis masyarakat insan pariwisata baik perhotelan, travel, souvenir itu terus terang kita katakan ‘mati suri’, atau orang Bali bilang denyut nadinya sudah pelan sekali. Bahkan kami tidak ada sama sekali penghasilan sekitar 3-4 bulan saat Bali ditutup,” kata Prawira.


Ida Bagus Prawira, Freelance Tour Guide Travel Indigo. (Foto: Kumara/Medcom.id)


Kondisi ini memaksa mayoritas masyarakat Bali mencari alternatif lain. Ada yang menjadi petani, pedagang online shop, hingga harus mengarungi samudera menjadi nelayan mencari ikan untuk bertahan hidup.

Sementara Prawira, kini banting stir berjualan nasi kuning lewat aplikasi online. Meski penghasilannya tak sebanding saat menjadi tour guide, paling tidak Prawira bisa memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Kebetulan saya bisa membuat nasi kuning. Tentunya (berjualan nasi kuning) ini tak sebanding dengan pendapatan di masa normal dulu. Akan tetapi, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dasar dalam pandemi ini,” papar Prawira.

Namun Prawira mengatakan bahwa keadaan sekarang sudah mulai memberikan harapan. Masyarakat Bali pun bersyukur pariwisata yang merupakan mata pencarian mereka sudah bisa dibuka.

"Objek wisata pun sudah mulai dibuka tentu dengan menerapkan Clean, Health, Safety & Environment (CHSE) yang diprogram oleh pemerintah,” ujar Prawira.

“Bisa kita bayangkan misalnya saat normal mendapatkan 10 turis, namun setelah pandemi mungkin kita dapat sekitar satu kurang lebih. Namun setelah buka ini, dengan adanya promosi-promosi dari Kementerian dan Bali sendiri mulai lah agak alive sedikit. Wisatawan mulai datang, penghasilan juga mengalami penambahan. Penghasilan mulai menambah 20-30 persen,” jelasnya.


Besakih Mother Temple. (Foto: Kumara/Medcom.id

Kendati demikian, Prawira mengatakan penambahan dari penghasilannya ini masih flukluatif. Enggak setiap hari mujur, paling saat weekend saja pendapatannya naik.

“Masih fluktuatif, weekend mulai naik, setelah weekend mulai sedikit turun lagi. Tentunya kami harapkan terus makin digencar, bukan hanya Bali saja namun daerah lain juga,” ungkapnya.

Melihat keadaan Bali saat ini, kita pun menjadi seakan punya harapan. Bali sebagai salah satu tempat yang paling terpuruk pun mau untuk bangkit kembali dengan penerapan protokol yang ketat. Di manapun kamu berada, kamu juga perlu melakukan hal sama.

Menariknya Prawira sendiri juga sempat mengatakan bahwa walaupun diterpa musibah, orang Bali kebanyakan tidak mengeluh, dan ini pun juga berlaku untuk dirinya sendiri. Prawira dan beberapa masyarakat Bali yang ditemui Medcom Gaya.Id terlihat menjalankannya dengan ikhlas dan optimis akan hari esok. Semoga Bali cepat pulih kembali dan bisa membagikan kehangatannya pada wisatawan Indonesia maupun mancanegara.

Jika nanti kondisi sudah membaik, tetap jadi pahlawan bagi negeri sendiri dengan berwisata #DiIndonesiaAja. Dan jangan lupa pula kalau mau ke Bali yang cantik ini, kamu harus ketat menerapkan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Inspirasi wisata lain bisa dilihat di website indonesia.travel@personald_travel dan @indonesia.travel @garudaindonesia.

#diIndonesiaAja #WonderfullInfonesia #BecauseYouMatter/#GarudaIndonesia
(FIR)

MOST SEARCH