- Lima pengemudi Bluebird menjelajahi Sumatera Utara, Surabaya, dan Bali untuk menemukan cerita
- Bluebird Group mengajak lima pengemudi dari berbagai layanan untuk menjadi storyteller dengan nama Kawan Lintas Cerita (KALCER).
- Cerita berbeda ditemukan ketika perjalanan berlanjut ke Bali.
Jakarta: Ada orang yang mengenal sebuah kota lewat buku, ada pula yang menghafalnya dari peta. Tapi bagi pengemudi yang setiap hari berada di jalan, mengenal kota bisa berarti bertemu langsung dengan banyak cerita.
Dari balik kemudi, mereka melihat kota berubah. Jalan yang dulu lengang menjadi padat, kawasan lama berdampingan dengan bangunan baru, sementara pasar, tempat makan, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selama 54 tahun, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari perjalanan Bluebird Group. Hadir di 22 kota besar di Indonesia, perusahaan transportasi ini tidak hanya membawa masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga bersentuhan dengan beragam karakter dan kehidupan masyarakat di setiap daerah.
Dari perjalanan tersebut, lahir semangat #BanggaPalingIndonesia, yang mengajak masyarakat melihat kembali cerita-cerita Indonesia melalui hal-hal yang ditemui dalam keseharian.
Kini, cerita itu datang dari mereka yang paling sering berada di jalan: para pengemudi Bluebird Group.
Bluebird Group mengajak lima pengemudi dari berbagai layanan untuk menjadi storyteller dengan nama Kawan Lintas Cerita (KALCER).
Mereka berkelana ke sejumlah wilayah operasional di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Bali. Perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah kota, melainkan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, sejarah, kuliner, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Di Sumatera Utara, misalnya, perjalanan membawa para KALCER mengenal upaya pelestarian gajah di Tangkahan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Di sana, mereka mengenal lebih dekat budaya Suku Batak sekaligus melihat bagaimana kekayaan alam dan budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan tersebut. Destinasi yang dikunjungi bukan hanya soal pemandangan yang indah, tetapi juga tentang orang-orang yang menjaga dan menjalani kehidupan di dalamnya.
Danau Toba bukan sekadar bentang alam. Tangkahan bukan hanya tempat melihat gajah. Begitu pula Samosir yang menyimpan cerita budaya masyarakat Batak.
Dari Sumatera Utara, perjalanan KALCER berlanjut ke Surabaya.
Kota Pahlawan tentu memiliki sejarah panjang. Namun, cerita Surabaya tidak berhenti pada monumen atau bangunan bersejarah.
Para pengemudi menelusuri sejumlah tempat yang lekat dengan kehidupan kota, mulai dari Rumah Kelahiran Bung Karno dan Tugu Pahlawan, hingga Pasar Atom.
Mereka juga mengenal sisi lain Surabaya melalui Pabrik Limun Telasih dan Rawon Kalkulator.
Dari tempat-tempat tersebut, sejarah dan kehidupan sehari-hari seperti bertemu. Ada cerita tentang tokoh bangsa, perjalanan sebuah kota, hingga kuliner yang tetap bertahan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Perjalanan semacam ini menunjukkan bahwa cerita sebuah kota tidak selalu tersimpan di museum.
Kadang, ceritanya justru ada di pasar, warung makan, pabrik minuman, atau jalan yang setiap hari dilewati masyarakat.
Cerita berbeda ditemukan ketika perjalanan berlanjut ke Bali.
Di Pulau Dewata, para KALCER melihat bagaimana tradisi tidak hanya menjadi sesuatu yang dipertontonkan kepada wisatawan, tetapi juga dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Mereka menyaksikan ritual melukat di Pura Tirta Empul dan tradisi Ngaben. Selain itu, mereka belajar mengenai proses pembuatan kain Songket dan Endek bersama masyarakat lokal.
Dari sana terlihat bagaimana budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada ritual, kerajinan, dan pengetahuan yang terus dijaga karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa satu pesan sederhana: Indonesia tidak hanya kaya akan destinasi, tetapi juga memiliki begitu banyak cerita yang hidup di balik setiap tempat.
Semangat #BanggaPalingIndonesia sebenarnya bukan hal baru bagi Bluebird Group.
Dalam perjalanan perusahaan, Holden Torana yang menjadi armada taksi pertama Bluebird juga menjadi bagian dari sejarah mobilitas Indonesia.
Pada 2025, kendaraan bersejarah tersebut kembali hadir di jalanan Jakarta dalam rangkaian peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Kehadirannya menjadi pengingat perjalanan panjang Bluebird bersama perkembangan mobilitas masyarakat.
Cerita Indonesia kemudian diterjemahkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan budaya populer.
Berkolaborasi dengan IP creator lokal Tahilalats, Bluebird Group menghadirkan kampanye “Safe Ride, Laugh Loud” yang mengangkat cerita keseharian masyarakat Indonesia melalui visual dan humor yang dekat dengan generasi muda.
Dua inisiatif tersebut kemudian mendapat apresiasi melalui penghargaan Indonesia PR of The Year Awards 2026 dari Majalah MIX Marcomm.
Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk, Monita Moerdani, mengatakan keberagaman karakter masyarakat menjadi salah satu hal yang terus ditemui dalam perjalanan para pengemudi.
“Keberagaman karakter masyarakat adalah hal yang terus kami temukan dalam setiap perjalanan. Hal ini memberi kami kesempatan untuk memahami lebih dalam tentang ciri khas setiap daerah, sekaligus perkembangan cara masyarakat Indonesia bermobilitas,” ujar Monita.
Menurutnya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya Bluebird Group untuk mencari cara yang relevan dalam menerjemahkan identitas perusahaan sebagai bagian dari perjalanan Indonesia.
“Bagi kami, #BanggaPalingIndonesia bukan hanya tentang merayakan apa yang membuat Indonesia berbeda, tetapi juga tentang bagaimana kami terus menjadi bagian dari kota, masyarakat, dan cerita di dalamnya. Dari perjalanan mobilitas yang dibangun sejak awal, budaya populer, hingga cerita para pengemudi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan Bluebird sebagai perusahaan Indonesia,” tambahnya.
Pada akhirnya, perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan.
Kadang, perjalanan justru menjadi cara untuk melihat lebih banyak hal di sepanjang jalan. Bertemu orang baru, mencicipi makanan khas, mendengar cerita masa lalu, melihat tradisi yang masih dijalankan, atau sekadar menyadari bahwa setiap kota punya cara sendiri untuk bercerita.
Bagi para KALCER, cerita itu ditemukan dari balik kemudi.
Dan bagi Indonesia, mungkin masih ada begitu banyak cerita lain yang menunggu untuk ditemukan, di jalan yang berbeda, di kota yang berbeda, dan tentu saja, dari perjalanan yang berbeda.
(FIR)
Dari balik kemudi, mereka melihat kota berubah. Jalan yang dulu lengang menjadi padat, kawasan lama berdampingan dengan bangunan baru, sementara pasar, tempat makan, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selama 54 tahun, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari perjalanan Bluebird Group. Hadir di 22 kota besar di Indonesia, perusahaan transportasi ini tidak hanya membawa masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga bersentuhan dengan beragam karakter dan kehidupan masyarakat di setiap daerah.
Dari perjalanan tersebut, lahir semangat #BanggaPalingIndonesia, yang mengajak masyarakat melihat kembali cerita-cerita Indonesia melalui hal-hal yang ditemui dalam keseharian.
Kini, cerita itu datang dari mereka yang paling sering berada di jalan: para pengemudi Bluebird Group.
Ketika Pengemudi Menjadi Pencerita
Bluebird Group mengajak lima pengemudi dari berbagai layanan untuk menjadi storyteller dengan nama Kawan Lintas Cerita (KALCER).
Mereka berkelana ke sejumlah wilayah operasional di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Bali. Perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah kota, melainkan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, sejarah, kuliner, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Di Sumatera Utara, misalnya, perjalanan membawa para KALCER mengenal upaya pelestarian gajah di Tangkahan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Di sana, mereka mengenal lebih dekat budaya Suku Batak sekaligus melihat bagaimana kekayaan alam dan budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan tersebut. Destinasi yang dikunjungi bukan hanya soal pemandangan yang indah, tetapi juga tentang orang-orang yang menjaga dan menjalani kehidupan di dalamnya.
Danau Toba bukan sekadar bentang alam. Tangkahan bukan hanya tempat melihat gajah. Begitu pula Samosir yang menyimpan cerita budaya masyarakat Batak.
Menemukan Cerita dari Kota Pahlawan
Dari Sumatera Utara, perjalanan KALCER berlanjut ke Surabaya.
Kota Pahlawan tentu memiliki sejarah panjang. Namun, cerita Surabaya tidak berhenti pada monumen atau bangunan bersejarah.
Para pengemudi menelusuri sejumlah tempat yang lekat dengan kehidupan kota, mulai dari Rumah Kelahiran Bung Karno dan Tugu Pahlawan, hingga Pasar Atom.
Mereka juga mengenal sisi lain Surabaya melalui Pabrik Limun Telasih dan Rawon Kalkulator.
Dari tempat-tempat tersebut, sejarah dan kehidupan sehari-hari seperti bertemu. Ada cerita tentang tokoh bangsa, perjalanan sebuah kota, hingga kuliner yang tetap bertahan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Perjalanan semacam ini menunjukkan bahwa cerita sebuah kota tidak selalu tersimpan di museum.
Kadang, ceritanya justru ada di pasar, warung makan, pabrik minuman, atau jalan yang setiap hari dilewati masyarakat.
Bali dan Tradisi yang Tetap Hidup
Cerita berbeda ditemukan ketika perjalanan berlanjut ke Bali.
Di Pulau Dewata, para KALCER melihat bagaimana tradisi tidak hanya menjadi sesuatu yang dipertontonkan kepada wisatawan, tetapi juga dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Mereka menyaksikan ritual melukat di Pura Tirta Empul dan tradisi Ngaben. Selain itu, mereka belajar mengenai proses pembuatan kain Songket dan Endek bersama masyarakat lokal.
Dari sana terlihat bagaimana budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada ritual, kerajinan, dan pengetahuan yang terus dijaga karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa satu pesan sederhana: Indonesia tidak hanya kaya akan destinasi, tetapi juga memiliki begitu banyak cerita yang hidup di balik setiap tempat.
Dari Holden Torana hingga Cerita Generasi Muda
Semangat #BanggaPalingIndonesia sebenarnya bukan hal baru bagi Bluebird Group.
Dalam perjalanan perusahaan, Holden Torana yang menjadi armada taksi pertama Bluebird juga menjadi bagian dari sejarah mobilitas Indonesia.
Pada 2025, kendaraan bersejarah tersebut kembali hadir di jalanan Jakarta dalam rangkaian peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Kehadirannya menjadi pengingat perjalanan panjang Bluebird bersama perkembangan mobilitas masyarakat.
Cerita Indonesia kemudian diterjemahkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan budaya populer.
Berkolaborasi dengan IP creator lokal Tahilalats, Bluebird Group menghadirkan kampanye “Safe Ride, Laugh Loud” yang mengangkat cerita keseharian masyarakat Indonesia melalui visual dan humor yang dekat dengan generasi muda.
Dua inisiatif tersebut kemudian mendapat apresiasi melalui penghargaan Indonesia PR of The Year Awards 2026 dari Majalah MIX Marcomm.
Indonesia yang Ditemui dari Balik Kemudi
Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk, Monita Moerdani, mengatakan keberagaman karakter masyarakat menjadi salah satu hal yang terus ditemui dalam perjalanan para pengemudi.
“Keberagaman karakter masyarakat adalah hal yang terus kami temukan dalam setiap perjalanan. Hal ini memberi kami kesempatan untuk memahami lebih dalam tentang ciri khas setiap daerah, sekaligus perkembangan cara masyarakat Indonesia bermobilitas,” ujar Monita.
Menurutnya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya Bluebird Group untuk mencari cara yang relevan dalam menerjemahkan identitas perusahaan sebagai bagian dari perjalanan Indonesia.
“Bagi kami, #BanggaPalingIndonesia bukan hanya tentang merayakan apa yang membuat Indonesia berbeda, tetapi juga tentang bagaimana kami terus menjadi bagian dari kota, masyarakat, dan cerita di dalamnya. Dari perjalanan mobilitas yang dibangun sejak awal, budaya populer, hingga cerita para pengemudi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan Bluebird sebagai perusahaan Indonesia,” tambahnya.
Pada akhirnya, perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan.
Kadang, perjalanan justru menjadi cara untuk melihat lebih banyak hal di sepanjang jalan. Bertemu orang baru, mencicipi makanan khas, mendengar cerita masa lalu, melihat tradisi yang masih dijalankan, atau sekadar menyadari bahwa setiap kota punya cara sendiri untuk bercerita.
Bagi para KALCER, cerita itu ditemukan dari balik kemudi.
Dan bagi Indonesia, mungkin masih ada begitu banyak cerita lain yang menunggu untuk ditemukan, di jalan yang berbeda, di kota yang berbeda, dan tentu saja, dari perjalanan yang berbeda.
(FIR)