WISATA

Mengenal Tenun Gringsing yang Dipercaya Punya Kekuatan Magis

Rosa Anggreati
Sabtu 17 Oktober 2020 / 09:00
Jakarta: Keindahan dan pesona Bali telah lama dikenal hingga mancanegara. Destinasi paling diminati di Indonesia ini memiliki nilai-nilai budaya yang unik dan tetap bertahan pada zaman modern. Bahkan, nilai budayanya juga tetap relevan dan bernilai tinggi.

Apabila pandemi telah usai dan destinasi wisata #DiIndonesiaAja yang akan Anda kunjungi adalah Bali, maka sebaiknya Anda terlebih dahulu mengenal tenun gringsing supaya liburan menjadi lebih unik dan berbeda.

Ada lima fakta unik tenun gringsing yang perlu Anda ketahui.



1. Satu-satunya Tenun dengan Teknik Ikat Ganda di Indonesia


Teknik pengerjaan tenun gringsing berbeda dengan kain tenun lainnya, yaitu menggunakan teknik ikat ganda atau double ikat. Teknik ikat ganda adalah teknik yang rumit dan membutuhkan kesabaran. 

Oleh karena itu, tidak banyak kain tenun yang dihasilkan dengan menggunakan metode ini. Bahkan, yang membuat tenun dengan teknik ikat ganda menjadi lebih spesial dan unik adalah karena pembuatan tenun dengan teknik ini hanya dapat ditemukan di Indonesia, Jepang, dan India!

Apabila di Indonesia kain tenun ini dikenal dengan tenun gringsing, kurume kasuri adalah nama untuk kain yang menggunakan teknik tenun ikat ganda di Jepang. Patola adalah nama untuk kain yang menggunakan teknik tenun ikat ganda di India. Jadi, tenun gringsing merupakan satu-satunya tenun ikat ganda di Indonesia.

Meskipun memiliki persamaan dengan kain di Jepang dan India, tenun gringsing memiliki pemaknaan, nilai budaya, dan makna filosofis yang berbeda. Tenun gringsing memiliki motif dan kombinasi warna yang seimbang untuk melambangkan keseimbangan antar manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
 


2. Proses Pewarnaan Harus Sempurna


Tidak seperti kain tenun lainnya yang hanya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan satu kain, satu warna pada motif tenun gringsing membutuhkan waktu hingga tiga bulan atau lebih. Itupun  hanya untuk proses pewarnaan benang. Ditambah lagi, proses pemintalan dari kapas harus dlakukan secara tradisional.

Proses pewarnaan pada tenun grigsing menggunakan bahan-bahan alami untuk menghasilkan warna merah, kuning, dan hitam. Ketiga warna itu dikenal sebagai warna Tridatu. Masing-masing warna melambangkan manusia, pencipta, dan alam yang harus seimbang satu sama lain.

Bahan alami yang digunakan untuk menghasilkan ketiga warna tersebut adalah akar mengkudu (merah), minyak kemiri (kuning), dan kayu taum (hitam). 

Karena menggunakan pewarna alami, maka proses pewarnaan dapat diulang hingga empat kali atau lebih demi mendapatkan warna sesuai dengan pakem yang telah ditentukan secara turun temurun. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan melindungi keaslian, serta nilai-nilai ritual kain gringsing.



3. Dipercaya Punya Kekuatan Magis



Penari di Desa Tenganan, Bali (Foto:Shutterstock)

Kain gringsing berasal dari kata "gring" (arti: sakit) dan "sing" (arti: tidak). Bila diartikan secara harafiah bermakna sebagai "tidak sakit” atau “terhindar dari penyakit." Oleh karena itu, kain gringsing mengandung makna sebagai penolak bala yang mampu mengusir penyakit rohani.

Kain gringsing dipercaya memiliki kekuatan magis, dapat melindungi pemakainya dari musibah dan marabahaya.

Kain gringsing biasanya digunakan pada upacara keagamaan atau upacara penting dalam kehidupan manusia, seperti pernikahan dan upacara potong gigi.



4. Berasal dari Desa Tenganan


Sesuai dengan hak paten eksklusif berupa indikasi geografis (IG), tenun gringsing ditemukan di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. 

Desa Tenganan merupakan salah satu desa tertua di Bali. Desa Tenganan diperkirakan sudah ada sejak abad 8 dan dipercaya merupakan desa asli yang berasal dari kerajaan Majapahit. 

Meskipun Desa Tenganan merupakan lokasi wisata populer, wisatawan tidak diperbolehkan bermalam tanpa izin dari pemangku adat. 

Kain gringsing dianggap sakral oleh warga Desa Tenganan. Kain yang merupakan perwujudan warisan leluhur ini tetap dijaga dan dilindungi keasliannya, baik dari tata cara maupun proses pembuatannya.

Kain gringsing memiliki banyak motif. Beberapa motif yang paling populer ialah kalajengking lubeng, sanan empeg dengan ciri kotak poleng berwarna merah hitam, bunga bercirikan cempakaan, cemplong bercirikan sebuah bunga besar di antara bunga-bunga kecil, tuung batun, dan wayang.



5. Salah Satu Tenun Termahal



Proses Pembuatan Tenun Gringsing (Foto:Shutterstock)

Harga kain gringsing mahal karena tingkat kerumitan dalam proses pembuatannya. Penenun konsisten menjaga tata cara pembuatan kain gringsing sesuai tradisi leluhur. 

Proses pembuatannya sejak awal hingga akhir dilakukan menggunakan tangan, tanpa bantuan mesin. Bahkan, pada beberapa motif yang rumit membutuhkan waktu pengerjaan hingga lima tahun.

Selain proses pewarnaan yang ketat, proses penenunan pun harus diperhatikan dengan seksama karena motif harus simetris dan seimbang. Mulai dari keseimbangan antara warna merah, hitam, dan putih, hingga keseimbangan motif antara atas-bawah dan kanan-kirinya.

Melihat proses pengerjaannya yang begitu detail dan penuh ketelatenan, tak heran jika selembar kain gringsing dibanderol mulai dari Rp900 ribu hingga jutaan rupiah. Meski harganya tak murah, kain gringsing banyak diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.

Apabila Anda tertarik untuk mengetahui destinasi lokasi wisata budaya lainnya untuk rencana liburan setelah pandemi, kunjungi situs #DiIndonesiaAja dan temukan desa tenun di Indonesia serta daftar pengalaman menarik lainnya yang bisa Anda coba.
(ROS)

MOST SEARCH