- Perjalanan panjang, stres, kurang tidur, dan jadwal yang berubah bisa memicu travel fatigue.
- Jet lag berbeda dengan travel fatigue karena berkaitan dengan perubahan jam biologis tubuh.
- Liburan tetap bisa membantu well-being selama ada waktu untuk benar-benar istirahat.
Jakarta: Udah nunggu-nunggu liburan, itinerary udah disusun sampai detail, tapi begitu sampai tujuan malah badan berasa habis dipakai lari? Tenang, ini bukan berarti liburannya gagal. Perjalanan sendiri memang bisa bikin tubuh dan pikiran terkuras, apalagi kalo jadwalnya superpadat.

(Momen istirahat di bandara setelah perjalanan panjang. Foto: AI Generated)
Perjalanan bisa bikin travel fatigue
Menurut Sleep Foundation, organisasi yang menyediakan informasi dan edukasi berbasis penelitian tentang tidur dan kesehatan, perjalanan bisa memicu travel fatigue atau kelelahan akibat perjalanan.
Kondisi ini bisa muncul karena perjalanan yang panjang, stres mengejar jadwal, terlambat, sulit tidur di kendaraan, terlalu lama duduk, sampai perubahan pola makan dan minum. Pada penerbangan, udara kabin yang kering dan tekanan udara yang lebih rendah juga dapat membuat perjalanan terasa makin nggak nyaman.
Nah, travel fatigue beda dengan jet lag. Kalo travel fatigue lebih berkaitan dengan tuntutan fisik dan mental selama perjalanan, jet lag berhubungan dengan perubahan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Tidur juga bisa berantakan
Masalah berikutnya adalah pola tidur. Saat liburan, kita sering tergoda bikin itinerary padat supaya semua destinasi kebagian. Alhasil, tidur jadi nomor sekian.
Sleep Foundation menjelaskan bahwa perubahan jadwal tidur, lingkungan baru, dan aktivitas yang terlalu padat dapat mengganggu tidur selama perjalanan. Ada juga fenomena first-night effect, yaitu kecenderungan tidur lebih buruk saat pertama kali tidur di tempat yang asing.
Kalo perjalanan melewati beberapa zona waktu, tubuh juga perlu menyesuaikan jam biologis dengan waktu setempat.
Cleveland Clinic, pusat medis akademik nirlaba di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa jet lag terjadi ketika ritme sirkadian tubuh belum sinkron dengan siklus siang-malam di tempat tujuan. Gejalanya bisa berupa sulit tidur, kantuk di siang hari, sakit kepala, sulit fokus, dan kelelahan.
Liburan tetap bisa bikin recharge
Terus, apa berarti liburan malah bikin capek doang? Nggak juga.
Meta-analisis yang diterbitkan di Journal of Applied Psychology pada 2025 menganalisis 32 studi dengan 256 effect sizes tentang hubungan liburan dan well-being pekerja. Hasilnya menunjukkan liburan berkaitan dengan peningkatan well-being.
Penelitian tersebut juga menemukan psychological detachment, yaitu kemampuan untuk benar-benar lepas dari urusan pekerjaan, serta aktivitas fisik selama liburan berpotensi mendukung pemulihan.
Jadi, kalo pulang liburan malah pengen rebahan seharian, bisa jadi tubuh memang lagi nagih recovery. Liburan nggak harus selalu padat. Kadang, itinerary yang kasih ruang buat tidur dan santai justru lebih ramah buat badan.
Desi I.
(FIR)