WISATA

Batik dari Luar Jawa yang Unik dan Jarang Dikenal

Gervin Nathaniel Purba
Sabtu 17 Oktober 2020 / 07:02
Jakarta: Pada umumnya, orang mengetahui batik hanya ditemukan di Pulau Jawa. Terutama Yogya dan Solo. Sebenarnya, masih banyak batik khas dari sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.

Batik di luar Pulau Jawa ini tak kalah unik dengan ciri khas yang memukau. Bila Anda sudah mengetahui apa saja makna motif batik yang populer di Pulau Jawa, mari tambah pengetahuan mengenai ragam batik di luar Pulau Jawa. Siapa tahu, ragam kain hias tradisional ini dapat menjadi inspirasi Anda untuk eksplorasi wisata #DiIndonesiaAja setelah pandemi selesai nanti.



1. Besurek



Kain Batik Besurek (Foto: batikbesurek.com)

Meskipun tidak dikenal sebagai batik Bengkulu, besurek merupakan kain tradisional dari Bengkulu yang mengadopsi cara pembuatan batik dengan motif khas kaligrafi Arab.

Bila diartikan secara bebas, besurek bermakna "bersurat atau bertulisan." Dalam bahasa Jawa, batik dapat diartikan sebagai titik-titik lilin (malam) di atas kain. Begitu pun kain besurek merupakan hasil adaptasi kain batik yang berarti menulis kaligrafi Arab dengan lilin.

Penggunaan kain besurek pada awalnya hanya terbatas untuk upacara-upacara adat masyarakat Bengkulu. Contohnya, kain besurek dengan motif rembulan dan kaligrafi Arab digunakan oleh calon pengantin perempuan pada rangkaian upacara sebelum pernikahan. Di Pulau Jawa tradisi ini disebut dengan siraman.

Meskipun dahulu hanya memiliki motif kaligrafi tanpa makna khusus, sekarang kain besurek telah dikreasikan dengan motif flora dan fauna khas Bengkulu untuk menambah ciri khas.

Hal ini merupakan salah satu cara dari pemerintah dan warga Bengkulu untuk memastikan bahwa budaya ini tidak punah ditelan zaman.

Kain batik ini dapat Anda lihat saat berkunjung ke Bengkulu, yaitu di Galeri Batik Besurek dan Sanggar Batik Kain Besurek Grya Tien.



2. Batik Bali 



Proses Membatik di Bali (Foto:Shutterstock)

Batik juga dapat ditemukan di Bali. Meskipun mirip dengan batik pesisir yang mengambil kearifan lokal sebagai ciri khasnya, kain batik dari Pulau Dewata ini lebih banyak menceritakan kisah para dewa dan menggunakan pewarna alami sebagai daya tarik utama.

Sebagai contoh, motif yang paling unik dan tidak dapat ditemukan di daerah lain adalah motif batik singa barong. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat Bali, motif ini bermakna keajaiban, keperkasaan, dan kekuatan yang diambil dari makhluk motologi khas Bali, barong.

Motif ulamsari mas merupakan salah satu motif yang akan sering Anda temukan di wilayah pesisir pantai. Dengan makna kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai, motif ini digambarkan dengan ikan dan udang berwarna kuning.

Uniknya lagi, hampir semua batik di Bali merupakan batik tulis. Tentunya, pembeli harus bisa membedakan antara batik tulis dengan batik printing yang dibuat dengan mesin untuk mendukung masyarakat Bali terus mempertahankan kain tradisional ini.

Untuk membedakan kain batik tulis dengan batik printing dapat dilakukan dengan cara memastikan bahwa motif tidak sama besar/tidak simetris, karena dibuat dengan tangan. Cek juga apakah kain memiliki aroma khas karena pemrosesannya menggunakan pewarna alami.



3. Batik Sasambo, NTB



Batik Sasambo (Foto: infobatik.id)

Nusa Tenggara Barat (NTB) lebih populer dengan ciri khas kain tenun. Namun, di sana juga ada kain batik, lho. Namanya batik sasambo.

Sasambo merupakan gabungan dari tiga etnis yang berdomisili di NTB. Ketiga etnis tersebut ialah suku Sasak di Lombok, Samawa di Sumbawa, dan Mbojo di Bima. Penggabungan ini dimaksudkan supaya tiap-tiap suku di NTB merasa saling memiliki dan ikut melestarikan penggunaan batik.

Serupa dengan ragam hias batik yang lain, batik Sasambo di NTB mengusung nilai adat dan budaya di NTB. Bahkan, terdapat juga cerita rakyat Puteri Mandalika yang dilukiskan ke dalam selembar kain.

Motif lumbung dengan kombinasi sayur kangkung yang terinspirasi dari ciri khas kuliner Sasak merupakan penggambaran kebersamaan masyarakat Lombok. Ada juga motif tokek yang dianggap sebagai hewan keberuntungan di Lombok, hingga motif-motif lainnya yang juga penuh nilai filosofis dan budaya.

Sayangnya, batik ini masih sangat jarang ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh karena jumlah penenun dari NTB lebih banyak dibandingkan pembatik. Karena itulah proses pembuatan batik ini biasanya juga dilakukan oleh anak-anak usia sekolah sebagai sarana belajar dan pelestarian budaya batik sasambo sejak dini.

Ketiga kain batik tersebut hanya sebagian dari ragam kain hias lainnya yang mengadaptasi pembuatan batik di luar Pulau Jawa. Dengan banyaknya ragam budaya dan kain tradisional di Indonesia, tentunya eksplorasi kain tradisional #DiIndonesiaAja akan menjadi lebih menarik dan menantang bagi siapapun yang akan berwisata setelah pandemi selesai nanti.

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa budaya tersebut akan punah jika kehilangan peminat dan pemakai dalam jumlah banyak. Jadi, jangan lupa masukkan ragam kain tradisional Indonesia ke dalam daftar belanjaanmu saat berlibur.
(ROS)

MOST SEARCH