WISATA
Camino de Flores, Menyusuri Flores Lewat Wisata Spiritual
A. Firdaus
Rabu 14 Oktober 2026 / 12:13
- Camino de Flores menghadirkan wisata jalan kaki berbasis spiritual, budaya, dan alam.
- Kemenpar bersama BPOLBF akan menggelar proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.
- Camino de Flores menggabungkan keindahan alam, spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman.'
Jakarta: Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyimpan kekayaan yang lebih luas dari sekadar panorama alam. Di balik perbukitan, desa-desa tradisional, dan bentang alamnya, pulau ini juga menawarkan perjalanan spiritual, tradisi tenun ikat, kuliner lokal, hingga kehidupan masyarakat yang lekat dengan nilai budaya dan religius.
Potensi tersebut kini dirangkai melalui Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores, sebuah pola perjalanan wisata jalan kaki yang mengajak wisatawan mengenal Flores lebih dekat. Tak hanya menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, inisiatif ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama dalam upaya pemulihan Flores pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Camino de Flores dirancang untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo.
“Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi,” kata Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Camino de Flores mengusung konsep Flores Walk yang menyasar segmen khusus, seperti komunitas peziarah dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui mindfulness tourism. Alih-alih sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan ini mengajak peserta menikmati setiap persinggahan, mengenal sejarah, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) akan menggelar proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.
Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menyusuri rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer. Perjalanan tersebut memadukan refleksi spiritual, penelusuran sejarah, dan pengalaman bersama masyarakat di wilayah yang dilalui.
Pengembangan Camino de Flores nantinya juga mencakup Etape Barat, dari Labuan Bajo menuju Ruteng, serta Etape Timur, dari Maumere menuju Larantuka. Seluruh etape bahkan berpeluang dirangkai menjadi satu perjalanan panjang sesuai kebutuhan dan minat wisatawan.
Rute ini juga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal tradisi dan kegiatan keagamaan yang tumbuh di Flores, termasuk Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, serta berbagai prosesi budaya lainnya.
Pengalaman menyusuri Flores tak hanya bertumpu pada perjalanan fisik atau kunjungan ke tempat-tempat tertentu. Tradisi yang hidup di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata yang ditawarkan.
Salah satunya adalah kain tenun ikat yang menyimpan identitas budaya dan nilai adat masyarakat Flores. Kain ini hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi keluarga penenun, terutama perempuan.
Wisatawan juga berkesempatan mengenal kuliner lokal yang merekam pengetahuan dan tradisi turun-temurun. Ketika perjalanan dipadukan dengan interaksi bersama warga, aktivitas sederhana seperti mengenal proses menenun, mencicipi hidangan khas, atau singgah di desa wisata dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Flores.
Konsep perjalanan yang lebih lambat juga berpotensi mendorong wisatawan tinggal lebih lama. Dampaknya diharapkan menjangkau berbagai pelaku usaha lokal, mulai dari pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun, hingga pemandu wisata.
Dengan begitu, manfaat pariwisata diharapkan tidak berhenti di destinasi yang sudah populer, tetapi ikut mengalir ke desa-desa yang dilalui sepanjang rute perjalanan.
Camino de Flores juga dirancang sebagai bagian dari gerakan sosial untuk mendukung masyarakat setempat. Penggalangan dana yang menyertai perjalanan ini direncanakan membantu renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Menteri Pariwisata Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari Elka Pangestu bersama tim dalam menghadirkan perjalanan tersebut. Menurut dia, Camino de Flores menggabungkan keindahan alam, spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman.
Meski demikian, pengembangan rute ini masih membutuhkan evaluasi dan koordinasi lintas wilayah. Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyiapkan dokumen penilaian risiko (risk assessment) dan rencana tanggap darurat (emergency response plan).
Persiapan tersebut mencakup penyiagaan petugas pengatur rute atau road marshal, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, serta mitigasi terhadap kondisi cuaca dan elevasi jalur yang menantang.
Pemerintah juga mendorong pembentukan tata kelola bersama yang melibatkan Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten di Ngada, Nagekeo, dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal. Kerja sama tersebut direncanakan diformalkan melalui mekanisme kolaborasi atau nota kesepahaman.
Hasil proyek percontohan akan digunakan untuk menyusun rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebagai dasar pengembangan paket wisata berkelanjutan. Selanjutnya, Camino de Flores diharapkan dapat diperkenalkan kepada mitra industri, termasuk agen perjalanan dan operator tur.
Lebih dari sekadar menawarkan cara baru menikmati Flores, Camino de Flores membawa harapan agar perjalanan wisata dapat menjadi ruang perjumpaan antara wisatawan dan masyarakat, sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata. Dari setiap langkah yang ditempuh, kekayaan budaya dan spiritual Flores diharapkan semakin dikenal, sementara masyarakat lokal turut merasakan manfaatnya.
(FIR)
Potensi tersebut kini dirangkai melalui Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores, sebuah pola perjalanan wisata jalan kaki yang mengajak wisatawan mengenal Flores lebih dekat. Tak hanya menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, inisiatif ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama dalam upaya pemulihan Flores pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Camino de Flores dirancang untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo.
“Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi,” kata Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Menjelajahi Flores dengan Langkah Lebih Pelan
Camino de Flores mengusung konsep Flores Walk yang menyasar segmen khusus, seperti komunitas peziarah dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui mindfulness tourism. Alih-alih sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan ini mengajak peserta menikmati setiap persinggahan, mengenal sejarah, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) akan menggelar proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.
Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menyusuri rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer. Perjalanan tersebut memadukan refleksi spiritual, penelusuran sejarah, dan pengalaman bersama masyarakat di wilayah yang dilalui.
Pengembangan Camino de Flores nantinya juga mencakup Etape Barat, dari Labuan Bajo menuju Ruteng, serta Etape Timur, dari Maumere menuju Larantuka. Seluruh etape bahkan berpeluang dirangkai menjadi satu perjalanan panjang sesuai kebutuhan dan minat wisatawan.
Rute ini juga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal tradisi dan kegiatan keagamaan yang tumbuh di Flores, termasuk Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, serta berbagai prosesi budaya lainnya.
Dari Tenun Ikat hingga Kuliner Lokal
Pengalaman menyusuri Flores tak hanya bertumpu pada perjalanan fisik atau kunjungan ke tempat-tempat tertentu. Tradisi yang hidup di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata yang ditawarkan.
Salah satunya adalah kain tenun ikat yang menyimpan identitas budaya dan nilai adat masyarakat Flores. Kain ini hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi keluarga penenun, terutama perempuan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat sambutan pada peluncuran Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Wisatawan juga berkesempatan mengenal kuliner lokal yang merekam pengetahuan dan tradisi turun-temurun. Ketika perjalanan dipadukan dengan interaksi bersama warga, aktivitas sederhana seperti mengenal proses menenun, mencicipi hidangan khas, atau singgah di desa wisata dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Flores.
Konsep perjalanan yang lebih lambat juga berpotensi mendorong wisatawan tinggal lebih lama. Dampaknya diharapkan menjangkau berbagai pelaku usaha lokal, mulai dari pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun, hingga pemandu wisata.
Dengan begitu, manfaat pariwisata diharapkan tidak berhenti di destinasi yang sudah populer, tetapi ikut mengalir ke desa-desa yang dilalui sepanjang rute perjalanan.
Wisata Spiritual Sekaligus Gerakan Sosial
Camino de Flores juga dirancang sebagai bagian dari gerakan sosial untuk mendukung masyarakat setempat. Penggalangan dana yang menyertai perjalanan ini direncanakan membantu renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Menteri Pariwisata Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari Elka Pangestu bersama tim dalam menghadirkan perjalanan tersebut. Menurut dia, Camino de Flores menggabungkan keindahan alam, spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman.
Meski demikian, pengembangan rute ini masih membutuhkan evaluasi dan koordinasi lintas wilayah. Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyiapkan dokumen penilaian risiko (risk assessment) dan rencana tanggap darurat (emergency response plan).
Persiapan tersebut mencakup penyiagaan petugas pengatur rute atau road marshal, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, serta mitigasi terhadap kondisi cuaca dan elevasi jalur yang menantang.
Pemerintah juga mendorong pembentukan tata kelola bersama yang melibatkan Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten di Ngada, Nagekeo, dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal. Kerja sama tersebut direncanakan diformalkan melalui mekanisme kolaborasi atau nota kesepahaman.
Hasil proyek percontohan akan digunakan untuk menyusun rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebagai dasar pengembangan paket wisata berkelanjutan. Selanjutnya, Camino de Flores diharapkan dapat diperkenalkan kepada mitra industri, termasuk agen perjalanan dan operator tur.
Lebih dari sekadar menawarkan cara baru menikmati Flores, Camino de Flores membawa harapan agar perjalanan wisata dapat menjadi ruang perjumpaan antara wisatawan dan masyarakat, sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata. Dari setiap langkah yang ditempuh, kekayaan budaya dan spiritual Flores diharapkan semakin dikenal, sementara masyarakat lokal turut merasakan manfaatnya.
(FIR)