WISATA
Saat Petualangan tak Lagi Sekadar soal Menaklukkan Alam
A. Firdaus
Selasa 22 September 2026 / 13:10
- EIGER Nature mengembangkan destinasi yang memadukan petualangan, restorasi alam, konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
- Menjelang dibuka untuk publik, kawasan EIGER Nature di Bogor mendapat kunjungan 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global.
- EIGER Nature mencoba menambahkan satu pengalaman lain: pulang dengan pemahaman yang lebih besar tentang alam yang baru saja dikunjungi.
Bogor: Selama ini, petualangan di alam mungkin identik dengan mendaki gunung, menjelajah hutan, atau mencari tempat dengan pemandangan yang belum banyak diketahui orang.
Namun, bagaimana jika perjalanan ke alam juga menjadi kesempatan untuk memahami cara merawatnya?
Pertanyaan tersebut coba dijawab EIGER Nature melalui pengembangan sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati alam, tetapi juga membawa cerita tentang restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya.
Menjelang dibuka untuk publik, kawasan EIGER Nature di Bogor mendapat kunjungan 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi EIGER Nature untuk memperkenalkan proses yang sedang mereka bangun sekaligus membuka ruang dialog dengan organisasi yang bergerak di bidang konservasi.
Bukan sekadar berkeliling kawasan, para peserta diajak melihat langsung bagaimana destinasi tersebut dikembangkan melalui sebuah guided site tour.
Perjalanan mencakup kawasan restorasi lahan kritis di area PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga kegiatan konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Dari perjalanan tersebut, terlihat bahwa membangun sebuah destinasi berbasis alam tidak berhenti pada menyiapkan fasilitas untuk pengunjung.
Ada proses panjang di baliknya, termasuk bagaimana kawasan yang sebelumnya mengalami tekanan dapat dipulihkan dan bagaimana aktivitas manusia bisa berjalan berdampingan dengan upaya menjaga ekosistem.
EIGER Nature dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan EIGER yang selama hampir empat dekade tumbuh bersama dunia alam dan petualangan.
Semangat tersebut kemudian dibawa ke konsep yang lebih luas. Alam bukan hanya menjadi latar belakang sebuah pengalaman, tetapi juga menjadi bagian penting yang perlu dirawat.
Dalam pengembangannya, EIGER Nature berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk mendukung konservasi, edukasi lingkungan, serta pemanfaatan kawasan secara bertanggung jawab.
Bagi pengunjung nantinya, pendekatan tersebut diharapkan membuat pengalaman berada di alam tidak berhenti ketika perjalanan selesai.
EIGER Nature saat ini memasuki tahap akhir persiapan sebelum dibuka untuk publik. Artinya, sejumlah fasilitas dan pengalaman yang nantinya dinikmati pengunjung masih terus disempurnakan.
Justru karena masih berada dalam fase awal, kunjungan WWF-Indonesia menjadi ruang untuk bertukar perspektif.
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan pihaknya ingin menjadikan fase awal tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan mendengarkan berbagai masukan.
“Kami melihat EIGER Nature sebagai sebuah perjalanan yang baru saja dimulai. Karena itu, di fase awal ini kami ingin membuka diri untuk belajar, mendengar, dan bertumbuh bersama. Kami percaya bahwa menghadirkan inisiatif yang benar-benar memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat membutuhkan kolaborasi dan perspektif dari banyak pihak,” ujar Imanuel dalam keterangan pers, Selasa (22/9/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pembangunan destinasi bukan hanya perkara menyelesaikan fasilitas fisik sebelum pintu dibuka.
Ada proses untuk memastikan pengalaman yang ditawarkan tetap memiliki keterkaitan dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Bagi WWF-Indonesia, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung pendekatan yang sedang dikembangkan EIGER Nature.
CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda melihat adanya potensi ketika sektor swasta ikut mengambil peran dalam menjaga alam sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Hal menarik dari EIGER Nature adalah bagaimana sektor swasta bisa berusaha sambil ikut mengambil peran dalam menjaga alam, sambil tetap memberikan manfaat bagi masyarakat. Model seperti ini yang dibangun bersama pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi memiliki potensi yang sangat besar, termasuk juga untuk mendukung pembiayaan konservasi, khususnya di kawasan taman nasional,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya satuan tugas inovasi pembiayaan Taman Nasional dan Spesies Ikonik dalam mencari sumber pembiayaan baru dan berkelanjutan bagi kawasan konservasi Indonesia.
Di titik ini, konservasi tidak hanya dilihat sebagai pekerjaan pemerintah atau organisasi lingkungan. Keterlibatan dunia usaha, masyarakat lokal, dan berbagai pihak lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Tentu, tantangannya juga tidak sederhana. Ketika sebuah kawasan alam dibuka untuk aktivitas manusia, pengelola perlu memastikan pengalaman wisata tidak justru menambah tekanan terhadap lingkungan.
Karena itu, bagaimana konsep tersebut dijalankan dalam praktik akan menjadi bagian penting dari perjalanan EIGER Nature setelah dibuka untuk publik.
Pada akhirnya, pengalaman berada di alam bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.
Ada yang datang untuk mencari ketenangan. Ada yang ingin mencoba aktivitas baru. Ada pula yang sekadar ingin menjauh sejenak dari rutinitas kota.
EIGER Nature mencoba menambahkan satu pengalaman lain: pulang dengan pemahaman yang lebih besar tentang alam yang baru saja dikunjungi.
“Kami ingin EIGER Nature menjadi tempat di mana setiap orang yang berkunjung tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang dengan membawa pengalaman dan makna yang baru tentang alam,” pungkas Aditya.
Jika gagasan tersebut dapat diterjemahkan secara konsisten dalam pengelolaan kawasan, perjalanan ke EIGER Nature nantinya bukan sekadar tentang datang, menikmati pemandangan, lalu pulang.
Sebab, petualangan di alam mungkin memang tidak harus selalu tentang seberapa jauh kita menjelajah.
Kadang, petualangan juga bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: setelah menikmati alam, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaganya?
(FIR)
Namun, bagaimana jika perjalanan ke alam juga menjadi kesempatan untuk memahami cara merawatnya?
Pertanyaan tersebut coba dijawab EIGER Nature melalui pengembangan sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati alam, tetapi juga membawa cerita tentang restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya.
Menjelang dibuka untuk publik, kawasan EIGER Nature di Bogor mendapat kunjungan 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi EIGER Nature untuk memperkenalkan proses yang sedang mereka bangun sekaligus membuka ruang dialog dengan organisasi yang bergerak di bidang konservasi.
Bukan sekadar berkeliling kawasan, para peserta diajak melihat langsung bagaimana destinasi tersebut dikembangkan melalui sebuah guided site tour.
Perjalanan mencakup kawasan restorasi lahan kritis di area PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga kegiatan konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Melihat Alam dari Sisi yang Berbeda
Dari perjalanan tersebut, terlihat bahwa membangun sebuah destinasi berbasis alam tidak berhenti pada menyiapkan fasilitas untuk pengunjung.
Ada proses panjang di baliknya, termasuk bagaimana kawasan yang sebelumnya mengalami tekanan dapat dipulihkan dan bagaimana aktivitas manusia bisa berjalan berdampingan dengan upaya menjaga ekosistem.
EIGER Nature dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan EIGER yang selama hampir empat dekade tumbuh bersama dunia alam dan petualangan.
Semangat tersebut kemudian dibawa ke konsep yang lebih luas. Alam bukan hanya menjadi latar belakang sebuah pengalaman, tetapi juga menjadi bagian penting yang perlu dirawat.
Dalam pengembangannya, EIGER Nature berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk mendukung konservasi, edukasi lingkungan, serta pemanfaatan kawasan secara bertanggung jawab.
Bagi pengunjung nantinya, pendekatan tersebut diharapkan membuat pengalaman berada di alam tidak berhenti ketika perjalanan selesai.
Masih dalam Perjalanan
EIGER Nature saat ini memasuki tahap akhir persiapan sebelum dibuka untuk publik. Artinya, sejumlah fasilitas dan pengalaman yang nantinya dinikmati pengunjung masih terus disempurnakan.
Justru karena masih berada dalam fase awal, kunjungan WWF-Indonesia menjadi ruang untuk bertukar perspektif.
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan pihaknya ingin menjadikan fase awal tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan mendengarkan berbagai masukan.
“Kami melihat EIGER Nature sebagai sebuah perjalanan yang baru saja dimulai. Karena itu, di fase awal ini kami ingin membuka diri untuk belajar, mendengar, dan bertumbuh bersama. Kami percaya bahwa menghadirkan inisiatif yang benar-benar memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat membutuhkan kolaborasi dan perspektif dari banyak pihak,” ujar Imanuel dalam keterangan pers, Selasa (22/9/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pembangunan destinasi bukan hanya perkara menyelesaikan fasilitas fisik sebelum pintu dibuka.
Ada proses untuk memastikan pengalaman yang ditawarkan tetap memiliki keterkaitan dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
WWF Melihat Potensi Kolaborasi
Bagi WWF-Indonesia, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung pendekatan yang sedang dikembangkan EIGER Nature.
CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda melihat adanya potensi ketika sektor swasta ikut mengambil peran dalam menjaga alam sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Hal menarik dari EIGER Nature adalah bagaimana sektor swasta bisa berusaha sambil ikut mengambil peran dalam menjaga alam, sambil tetap memberikan manfaat bagi masyarakat. Model seperti ini yang dibangun bersama pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi memiliki potensi yang sangat besar, termasuk juga untuk mendukung pembiayaan konservasi, khususnya di kawasan taman nasional,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya satuan tugas inovasi pembiayaan Taman Nasional dan Spesies Ikonik dalam mencari sumber pembiayaan baru dan berkelanjutan bagi kawasan konservasi Indonesia.
Di titik ini, konservasi tidak hanya dilihat sebagai pekerjaan pemerintah atau organisasi lingkungan. Keterlibatan dunia usaha, masyarakat lokal, dan berbagai pihak lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Tentu, tantangannya juga tidak sederhana. Ketika sebuah kawasan alam dibuka untuk aktivitas manusia, pengelola perlu memastikan pengalaman wisata tidak justru menambah tekanan terhadap lingkungan.
Karena itu, bagaimana konsep tersebut dijalankan dalam praktik akan menjadi bagian penting dari perjalanan EIGER Nature setelah dibuka untuk publik.
Pulang Membawa Cerita
Pada akhirnya, pengalaman berada di alam bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.
Ada yang datang untuk mencari ketenangan. Ada yang ingin mencoba aktivitas baru. Ada pula yang sekadar ingin menjauh sejenak dari rutinitas kota.
EIGER Nature mencoba menambahkan satu pengalaman lain: pulang dengan pemahaman yang lebih besar tentang alam yang baru saja dikunjungi.
“Kami ingin EIGER Nature menjadi tempat di mana setiap orang yang berkunjung tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang dengan membawa pengalaman dan makna yang baru tentang alam,” pungkas Aditya.
Jika gagasan tersebut dapat diterjemahkan secara konsisten dalam pengelolaan kawasan, perjalanan ke EIGER Nature nantinya bukan sekadar tentang datang, menikmati pemandangan, lalu pulang.
Sebab, petualangan di alam mungkin memang tidak harus selalu tentang seberapa jauh kita menjelajah.
Kadang, petualangan juga bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: setelah menikmati alam, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaganya?
(FIR)