WISATA

Gen Z & Traveling: Emang Bisa Setia? Insight Eksklusif dari Javier Cabrerizo

Yatin Suleha
Kamis 05 Februari 2026 / 10:57
Ringkasnya gini..
  • Ke depannya, industri perjalanan diperkirakan akan bertransformasi sepenuhnya menjadi berbasis teknologi dan AI.
  • "Bagi generasi Z, bepergian bukan sekadar tentang melihat suatu tempat, melainkan tentang transformasi diri," kata Javier.
  • Dari sisi teknologi, generasi Z mengharapkan pengalaman yang mulus dan terintegrasi dengan media sosial.
Bali: Banyak hal jika kita berbicara soal Gen Z, salah satunya bisa ngomongin soal traveling yang dilakukan oleh Gen Z. 

Kali ini Medcom berkesempatan diajak dalam MarketHub Asia 2026 yang temanya tahun ini fokus berfokus pada bagaimana teknologi dan kolaborasi dapat "membuka" atau "Unlocked" potensi baru dalam industri perjalanan yang terus berubah cepat. 

Btw, HBX Group adalah perusahaan teknologi perjalanan (traveltech) B2B global terkemuka yang berkantor pusat di Palma, Mallorca, Spanyol. 

Tujuan utama HBX Group adalah menghubungkan penyedia layanan (hotel, maskapai, aktivitas) dengan penjual (agen perjalanan, operator tur, maskapai) di seluruh dunia. 

Mereka ingin menciptakan platform satu pintu (one-stop-shop) di mana semua kebutuhan perjalanan bisa dipesan dan dikelola dalam satu ekosistem yang mulus.
 

Ngomongin traveling dan Gen Z





(Javier Cabrerizo adalah the Chief Strategy & Transformation Officer di HBX Group. Foto: Dok. Hong)

Soal Gen Z, pada Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di Hilton, Nusa Dua, Bali, Javier Cabrerizo yang menjabat sebagai Direktur Strategi dan Transformasi Utama di HBX Group mengatakan, "Dalam tren perjalanan saat ini adalah perjalanan berdasarkan pengalaman (experiential travel)."

"Bagi generasi Z, bepergian bukan sekadar tentang melihat suatu tempat, melainkan tentang transformasi diri," buka Javier.

"Mereka aktif mencari 'permata tersembunyi' (hidden gem) dan lebih memilih kota-kota lapis kedua atau daerah pedesaan yang menakjubkan daripada destinasi wisata populer yang dikunjungi semua orang. Generasi ini ingin menemukan tempat-tempat unik yang memberikan pengalaman berbeda," ungkap lelaki ramah ini.

"Dari sisi teknologi, generasi Z mengharapkan pengalaman yang mulus dan terintegrasi dengan media sosial. Saat ini terdapat tantangan bagi industri perjalanan untuk menutup celah antara saat mereka mendapatkan inspirasi (melalui konten media sosial) dengan proses pemesanan," Javier bilang.

"Karena generasi ini sangat dipengaruhi oleh perasaan dan inspirasi batin, sangat penting bagi penyedia jasa untuk memudahkan mereka melakukan pemesanan segera setelah mereka merasa terinspirasi oleh suatu destinasi," tukas Javier.
 

Gen Z pengadopsi awal AI



(Generasi Z juga merupakan pengadopsi awal kecerdasan buatan (AI) jelas Javier. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Generasi Z juga merupakan pengadopsi awal kecerdasan buatan (AI) jelas Javier. Karena mereka adalah 'penduduk asli digital' yang memahami nilai teknologi. 

Gen Z kata Javier menunjukkan sebuah dikotomi yang unik dalam bepergian, "Di satu sisi, mereka menginginkan kemudahan teknologi dan AI untuk merencanakan perjalanan dengan sempurna dari rumah. Namun di sisi lain, begitu mereka mendarat di tujuan, mereka menginginkan pengalaman yang benar-benar asli, autentik, dan unik."

"Ke depannya, industri perjalanan diperkirakan akan bertransformasi sepenuhnya menjadi berbasis teknologi dan AI. Hal ini akan menciptakan model hibrida yang menggabungkan kenyamanan teknologi dengan kepercayaan personal," Javier katakan.

"Bahkan agen perjalanan tradisional nantinya akan memiliki asisten AI sendiri yang disesuaikan dengan produk mereka. Interaksi antara penyedia jasa dan pelancong akan lebih banyak dilakukan melalui percakapan berbasis AI, namun tetap mempertahankan elemen kepercayaan dan hubungan personal dalam sebuah ekosistem yang lebih efisien," pungkas Javier.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH