FITNESS & HEALTH

Sering Ngidam Cokelat? Waspada Ternyata Ini 'Sinyal' untuk Tubuh

Yuni Yuli Yanti
Selasa 17 Maret 2026 / 07:00
Ringkasnya gini..
  • Ngidam cokelat sangatlah umum, terutama saat hari-hari penuh stres atau karena perubahan hormon.
  • Cokelat dapat meningkatkan gula dan lemak secara instan.
  • Cokelat sementara meningkatkan serotonin bersama dengan dopamin, menawarkan kenyamanan emosional.
Jakarta: Ladies, pernahkah kamu tiba-tiba sangat ingin makan cokelat? Tak peduli pagi, siang atau malam hari, hanya cokelat makanan yang terlintas dipikiranmu saat itu. Jika kamu pernah mengalaminya, eits jangan khawatir ya. 

Ternyata mengidam cokelat sangatlah umum, terutama saat hari-hari penuh stres, perubahan hormon, larut malam, atau saat siklus menstruasi. 

Meskipun kita sering menganggap keinginan ini sebagai "sekadar ingin makan makanan manis", namun tubuh jarang bertindak secara acak. Keinginan berulang akan konsumsi cokelat adalah sinyal, bukan kelemahan.

Menurut Ahli Gizi Fungsional, Mugdha Pradhan, salah satu alasan umum orang mendambakan cokelat adalah kekurangan magnesium. Kakao secara alami kaya akan magnesium, mineral yang terlibat dalam hampir 300 reaksi biokimia dalam tubuh. 

"Magnesium mendukung relaksasi otot, fungsi saraf, pengendalian gula darah, dan pengaturan stres. Ketika kadarnya rendah, tubuh mencari sumber energi cepat, dan cokelat menjadi sasaran empuk," kata Mugdha dikutip dari Health Shots. 

Inilah juga mengapa keinginan untuk mengonsumsi cokelat cenderung meningkat selama periode stres, kelelahan, atau bahkan kurang tidur, yang semuanya secara drastis mengurangi kadar magnesium.


(Kakao secara alami kaya akan magnesium, mineral yang terlibat dalam hampir 300 reaksi biokimia dalam tubuh. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
 

Fluktuasi hormonal

Salah satu pendorong utama keinginan makan cokelat adalah fluktuasi hormonal, khususnya pada wanita. Pergeseran estrogen dan progesteron selama Sindrom Pramenstruasi dan perimenopause dapat memengaruhi kadar serotonin, yang merupakan neurotransmiter "penyebab perasaan senang". 

Cokelat sementara meningkatkan serotonin bersama dengan dopamin, menawarkan kenyamanan emosional. Dalam hal ini, keinginan makan bukan karena lapar; melainkan karena sistem saraf mencari ketenangan dan pengaturan emosi.
 

Lantas, apakah keinginan makan cokelat berarti gula darah rendah?

Keinginan makan cokelat juga bisa menandakan ketidakstabilan gula darah. Ketika makanan rendah protein atau lemak sehat dan tinggi karbohidrat olahan, gula darah naik dengan cepat dan segera turun setelahnya. 

Otak selanjutnya membutuhkan energi cepat, sebagian besar dalam bentuk gula. Nah, cokelat dapat meningkatkan gula dan lemak, menawarkan bantuan jangka pendek tetapi bukan keseimbangan jangka panjang.

Selain itu, ada juga hubungan kuat antara usus dan otak yang berperan. Kesehatan usus yang buruk, peradangan, atau mikrobioma yang tidak seimbang dapat secara signifikan memengaruhi keinginan makan. 

Bakteri usus tertentu berkembang biak dengan mengonsumsi gula dan dapat memberi sinyal kepada otak untuk mencarinya. Ketika pencernaan sedikit terganggu, keinginan makan cenderung meningkat daripada berkurang.


(Cokelat dapat memberikan gula dan lemak, menawarkan bantuan jangka pendek tetapi bukan keseimbangan jangka panjang. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
 

Jika sering ngidam cokelat?

Menariknya, Mugdha mengatakan jika masih menginginkan cokelat tidak selalu berarti kamu benar-benar membutuhkan cokelat. Sering kali itu berarti kamu membutuhkan nutrisi yang lebih baik.

Asupan protein yang cukup, makanan yang seimbang, makanan kaya mineral, dan waktu makan yang teratur dapat secara signifikan meminimalkan keinginan ini. 

"Makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, telur, dan protein tanpa lemak seperti daging, ayam, dan ikan membantu memulihkan keseimbangan nutrisi dan bahkan mencegah keinginan makan yang reaktif," saran Mugdha. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(yyy)

MOST SEARCH