- UMK kuliner rumahan didorong berkembang melalui edukasi keamanan pangan.
- Mengembangkan usaha kuliner bukan sekadar menciptakan menu yang lezat dan menarik.
- Eksplorasi resep dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan pembeda di tengah persaingan usaha kuliner.
Jakarta: Dapur rumah tak hanya menjadi tempat menyiapkan makanan untuk keluarga, tetapi juga bisa menjadi awal lahirnya usaha kuliner yang menghasilkan pendapatan. Dengan kreativitas, keterampilan, dan pengelolaan yang tepat, usaha rumahan berpeluang berkembang menjadi bisnis yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Namun, mengembangkan usaha kuliner bukan sekadar menciptakan menu yang lezat dan menarik. Pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) juga perlu memahami keamanan pangan, memperhatikan nilai gizi, serta menjaga kualitas produk agar mampu membangun kepercayaan konsumen.
Hal tersebut menjadi perhatian PT Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui program Frisian Flag Sapa UMK yang berkolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Kegiatan ini memberikan pembekalan kepada pelaku UMK mengenai keamanan pangan, gizi, dan kreativitas dalam mengembangkan produk kuliner.
Program tersebut juga menjadi bagian dari semangat Usaha Merdeka Legendary, yang mendorong pelaku UMK untuk mengembangkan bisnis dari rumah menjadi usaha yang berkualitas dan berkelanjutan.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan UMK kuliner memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian keluarga dan masyarakat.
“Kami percaya banyak usaha kuliner berawal dari dapur rumah. Melalui Usaha Merdeka Legendary, Frisian Flag Indonesia ingin terus mendukung para pelaku UMK untuk mengembangkan usahanya melalui kreativitas, sekaligus memahami pentingnya keamanan pangan dan gizi,” ujar Andrew.
Bagi pelaku usaha kuliner, menjaga keamanan pangan merupakan salah satu langkah penting untuk mempertahankan kualitas produk sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
Aspek ini perlu diperhatikan sejak pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan. Penerapan praktik keamanan pangan yang konsisten juga membantu pelaku usaha meminimalkan risiko kontaminasi produk.
Melalui kolaborasi dengan BPOM, peserta Frisian Flag Sapa UMK mendapatkan pemahaman mengenai penerapan praktik keamanan pangan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
FFI juga berpartisipasi dalam Program Orang Tua Angkat (OTA) Pemberdayaan UMK Pangan Olahan yang diinisiasi BPOM. Program tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui edukasi dan pendampingan.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan (PMPUPO) BPOM, Anisyah, S.Si., Apt., M.P., mengapresiasi dukungan FFI terhadap pemberdayaan UMK pangan olahan.
Menurutnya, kolaborasi melalui Sapa UMK dan Sapa Semesta dari BPOM diharapkan dapat membantu pelaku usaha memahami serta menerapkan standar keamanan pangan untuk menghasilkan produk yang aman dan berkualitas.
Selain melindungi konsumen, penerapan keamanan pangan juga dapat menjadi modal bagi pelaku usaha untuk meningkatkan reputasi produk dan memperluas jangkauan pasar.
Selain keamanan pangan, pemahaman mengenai gizi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha kuliner. Produk yang menarik dan lezat perlu diolah dengan memperhatikan kualitas bahan serta nilai gizi sesuai jenis dan kebutuhan konsumen.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Singaperbangsa Karawang, Dr. Al Mukhlas Fikri, S.Gz., M.Si., CIQnR, menilai dapur rumah memiliki potensi besar sebagai titik awal pengembangan usaha.
“Banyak usaha kuliner yang sukses berawal dari dapur rumah. Namun, untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, kreativitas perlu berjalan bersama dengan perhatian terhadap keamanan dan nilai gizi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pelaku UMK dapat membantu usaha kuliner berinovasi, meningkatkan kualitas, serta memperkuat daya saing.
Bagi pelaku usaha rumahan, inovasi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Pengembangan resep, pemanfaatan bahan yang tersedia, dan peningkatan keterampilan dapat menjadi langkah untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Untuk mendorong kreativitas, Frisian Flag Sapa UMK juga menghadirkan demo kreasi kuliner bersama Chef Dimas. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan perwakilan pelaku UMK dan komunitas Natural Cooking Club (NCC), yang terdiri dari pencinta kuliner serta pengusaha kuliner rumahan.
Melalui sesi tersebut, peserta mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan kreasi makanan yang berpotensi diterapkan dalam kegiatan usaha mereka.
Berbagai produk FFI, mulai dari susu cair, susu bubuk, kental manis, hingga keju, diperkenalkan sebagai bahan yang dapat digunakan dalam beragam kreasi pangan olahan. Pemanfaatannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik resep, kebutuhan produk, dan komposisi gizi yang ingin dicapai.
Bagi pelaku UMK, eksplorasi resep dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan pembeda di tengah persaingan usaha kuliner. Meski demikian, inovasi perlu tetap memperhatikan keamanan pangan, kualitas bahan, dan kebutuhan konsumen.
Melalui Usaha Merdeka Legendary, FFI berharap semakin banyak pelaku UMK mampu mengembangkan usaha yang bermula dari dapur rumah menjadi bisnis yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Andrew berharap pembekalan yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Ketika kreativitas berjalan beriringan dengan keamanan pangan dan kualitas produk, usaha kuliner rumahan memiliki peluang untuk berkembang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga dan masyarakat.
(FIR)
Namun, mengembangkan usaha kuliner bukan sekadar menciptakan menu yang lezat dan menarik. Pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) juga perlu memahami keamanan pangan, memperhatikan nilai gizi, serta menjaga kualitas produk agar mampu membangun kepercayaan konsumen.
Hal tersebut menjadi perhatian PT Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui program Frisian Flag Sapa UMK yang berkolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Kegiatan ini memberikan pembekalan kepada pelaku UMK mengenai keamanan pangan, gizi, dan kreativitas dalam mengembangkan produk kuliner.
Program tersebut juga menjadi bagian dari semangat Usaha Merdeka Legendary, yang mendorong pelaku UMK untuk mengembangkan bisnis dari rumah menjadi usaha yang berkualitas dan berkelanjutan.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan UMK kuliner memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian keluarga dan masyarakat.
“Kami percaya banyak usaha kuliner berawal dari dapur rumah. Melalui Usaha Merdeka Legendary, Frisian Flag Indonesia ingin terus mendukung para pelaku UMK untuk mengembangkan usahanya melalui kreativitas, sekaligus memahami pentingnya keamanan pangan dan gizi,” ujar Andrew.
Keamanan pangan jadi modal membangun kepercayaan
Bagi pelaku usaha kuliner, menjaga keamanan pangan merupakan salah satu langkah penting untuk mempertahankan kualitas produk sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
Aspek ini perlu diperhatikan sejak pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan. Penerapan praktik keamanan pangan yang konsisten juga membantu pelaku usaha meminimalkan risiko kontaminasi produk.
Melalui kolaborasi dengan BPOM, peserta Frisian Flag Sapa UMK mendapatkan pemahaman mengenai penerapan praktik keamanan pangan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan UMK kuliner memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian keluarga dan masyarakat. Dok. Ist
FFI juga berpartisipasi dalam Program Orang Tua Angkat (OTA) Pemberdayaan UMK Pangan Olahan yang diinisiasi BPOM. Program tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui edukasi dan pendampingan.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan (PMPUPO) BPOM, Anisyah, S.Si., Apt., M.P., mengapresiasi dukungan FFI terhadap pemberdayaan UMK pangan olahan.
Menurutnya, kolaborasi melalui Sapa UMK dan Sapa Semesta dari BPOM diharapkan dapat membantu pelaku usaha memahami serta menerapkan standar keamanan pangan untuk menghasilkan produk yang aman dan berkualitas.
Selain melindungi konsumen, penerapan keamanan pangan juga dapat menjadi modal bagi pelaku usaha untuk meningkatkan reputasi produk dan memperluas jangkauan pasar.
Kreativitas perlu diimbangi nilai gizi
Selain keamanan pangan, pemahaman mengenai gizi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha kuliner. Produk yang menarik dan lezat perlu diolah dengan memperhatikan kualitas bahan serta nilai gizi sesuai jenis dan kebutuhan konsumen.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Singaperbangsa Karawang, Dr. Al Mukhlas Fikri, S.Gz., M.Si., CIQnR, menilai dapur rumah memiliki potensi besar sebagai titik awal pengembangan usaha.
“Banyak usaha kuliner yang sukses berawal dari dapur rumah. Namun, untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, kreativitas perlu berjalan bersama dengan perhatian terhadap keamanan dan nilai gizi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pelaku UMK dapat membantu usaha kuliner berinovasi, meningkatkan kualitas, serta memperkuat daya saing.
Bagi pelaku usaha rumahan, inovasi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Pengembangan resep, pemanfaatan bahan yang tersedia, dan peningkatan keterampilan dapat menjadi langkah untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Demo kuliner jadi ruang mencari inspirasi
Untuk mendorong kreativitas, Frisian Flag Sapa UMK juga menghadirkan demo kreasi kuliner bersama Chef Dimas. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan perwakilan pelaku UMK dan komunitas Natural Cooking Club (NCC), yang terdiri dari pencinta kuliner serta pengusaha kuliner rumahan.
Melalui sesi tersebut, peserta mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan kreasi makanan yang berpotensi diterapkan dalam kegiatan usaha mereka.
Berbagai produk FFI, mulai dari susu cair, susu bubuk, kental manis, hingga keju, diperkenalkan sebagai bahan yang dapat digunakan dalam beragam kreasi pangan olahan. Pemanfaatannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik resep, kebutuhan produk, dan komposisi gizi yang ingin dicapai.
Bagi pelaku UMK, eksplorasi resep dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan pembeda di tengah persaingan usaha kuliner. Meski demikian, inovasi perlu tetap memperhatikan keamanan pangan, kualitas bahan, dan kebutuhan konsumen.
Melalui Usaha Merdeka Legendary, FFI berharap semakin banyak pelaku UMK mampu mengembangkan usaha yang bermula dari dapur rumah menjadi bisnis yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Andrew berharap pembekalan yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Ketika kreativitas berjalan beriringan dengan keamanan pangan dan kualitas produk, usaha kuliner rumahan memiliki peluang untuk berkembang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga dan masyarakat.
(FIR)