KULINER

Jelajah Rasa Nusantara Lewat Webseries Kuliner Indonesia Kaya

A. Firdaus
Jumat 06 Maret 2026 / 16:14
Ringkasnya gini..
  • Mengungkap tradisi Kuliner dari Ternate
  • Menyusuri sejarah kuliner Palembang
  • Jejak Kesultanan dalam Kuliner Banten
Jakarta: Kuliner bukan sekadar soal rasa. Di balik setiap hidangan khas daerah, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, budaya, hingga perjalanan peradaban. Hal inilah yang kembali diangkat oleh program Kuliner Indonesia Kaya, yang konsisten mendokumentasikan ragam kuliner Nusantara dalam format audio visual sejak 2017.

Pada episode terbaru yang tayang tahun ini, Indonesia Kaya mengajak penonton menjelajahi tiga kota dengan sejarah kuliner yang kuat, yaitu Ternate, Palembang, dan Banten. Melalui webseries yang dapat disaksikan di kanal YouTube IndonesiaKaya, penonton diajak melihat bagaimana kuliner menjadi bagian dari perjalanan budaya Nusantara.

Program Director Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa kuliner tidak hanya tentang kelezatan makanan, tetapi juga cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kami ingin menghadirkan dokumentasi yang tidak hanya menampilkan kelezatan sebuah hidangan, tetapi juga menggali cerita di baliknya. Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi,” ujar Renitasari.

Menurutnya, kekuatan kuliner Nusantara tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada nilai sejarah, akulturasi, serta filosofi hidup yang menyertainya.
 

Mengungkap tradisi Kuliner dari Ternate


Episode pertama yang tayang pada 26 Februari 2026 membawa penonton ke Ternate, salah satu titik penting dalam Jalur Rempah dunia. Di pulau ini, tradisi kuliner berkembang dari hubungan erat antara manusia dan alam.

Salah satu tradisi memasak yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak tradisional yang tidak menggunakan alat dapur modern. Dalam prosesnya, masyarakat memanfaatkan bambu sebagai wadah alami untuk memasak berbagai bahan seperti daging, ayam, sayuran, hingga umbi-umbian.

Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Kris Syamsudin, menjelaskan bahwa tradisi ini lahir dari kebutuhan masyarakat Ternate untuk bertahan hidup ketika berada di hutan.


Ternate Rimo-rimo. Dok. Indonesia Kaya

“Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci, sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak. Tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang cara hidup dan pengetahuan leluhur yang diwariskan,” jelasnya.

Selain itu, episode ini juga menghadirkan Gohu Ikan, hidangan khas yang mengandalkan kesegaran ikan laut seperti tuna atau cakalang. Ikan dipotong kecil lalu dicampur dengan garam, perasan lemon cui, serta daun kemangi, sehingga menghasilkan cita rasa segar tanpa melalui proses pemasakan.

Hidangan ini mencerminkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana sekaligus menunjukkan hubungan harmonis dengan lingkungan.
 

Menyusuri sejarah kuliner Palembang


Perjalanan berlanjut ke Palembang pada episode kedua yang tayang 5 Maret 2026. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki sejarah panjang yang erat dengan Sungai Musi.

Melalui Pindang Ikan, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan sungai seperti ikan patin, gabus, hingga baung. Cita rasa asam pedas yang segar menjadi ciri khas hidangan ini.


Kue delapan jam. Dok. Indonesia Kaya

Selain itu, episode ini juga menghadirkan dua kue tradisional yang sarat makna budaya, yaitu Kue Delapan Jam dan Kue Maksuba.

Kue Delapan Jam dikenal dengan proses pembuatannya yang memakan waktu hingga delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Sementara itu, Kue Maksuba yang berlapis dan legit sering hadir dalam berbagai perayaan penting seperti pernikahan dan Lebaran.

Kue ini juga memiliki makna simbolis, karena sering dikirimkan oleh pasangan yang baru menikah kepada orang tua sebagai bentuk rasa hormat dan kasih sayang.
 

Jejak Kesultanan dalam Kuliner Banten


Episode ketiga yang akan tayang pada 12 Maret 2026 mengangkat kuliner khas Banten yang memiliki jejak kuat dari masa Kesultanan.

Salah satu hidangan yang diangkat adalah Sate Bandeng, yang konon menjadi makanan favorit Sultan Maulana Hasanuddin. Hidangan ini lahir dari kreativitas juru masak keraton yang ingin menyajikan bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan.


Sate Bandeng. Dok. Indonesia Kaya

Selain itu, ada pula Rabeg, hidangan berbahan dasar daging kambing atau sapi yang dipercaya terinspirasi dari pengalaman Sultan Maulana Hasanuddin saat singgah di Kota Rabig, Arab Saudi, ketika menunaikan ibadah haji.

Versi lain menyebutkan bahwa hidangan ini dibawa oleh para pedagang Arab yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Renitasari menegaskan bahwa dokumentasi kuliner seperti ini penting untuk menjaga warisan gastronomi Indonesia.

“Sejak 2017 kami berupaya mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara secara konsisten. Bukan hanya visual yang menggugah selera, tetapi juga pengetahuan, filosofi, dan perjalanan budaya yang menyertainya,” katanya.

Melalui tayangan berdurasi ringkas namun padat, Kuliner Indonesia Kaya diharapkan bisa menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan kuliner Nusantara.

Karena pada akhirnya, di balik setiap hidangan tradisional tersimpan identitas, sejarah, dan cerita panjang yang membentuk karakter sebuah daerah, bahkan sebuah bangsa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH