FITNESS & HEALTH
Kesehatan Mental Tak Bisa Diabaikan, Kenali Pola Tidur dan Respons Tubuh terhadap Stres
Elang Riki Yanuar
Jumat 09 Oktober 2026 / 15:15
- Tekanan pekerjaan dan tuntutan sosial membuat Gen Z dan milenial rentan mengorbankan waktu istirahat, padahal tidur berkualitas penting bagi kesehatan mental.
- SKI 2023 mencatat prevalensi depresi tertinggi pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun sebesar 2 persen, sementara 14 persen karyawan Indonesia mengalami stres.
- Prodia Sleep & Stress Genomics menganalisis 173 variasi genetik untuk memberikan gambaran risiko terkait pola tidur dan respons stres serta rekomendasi kesehatan personal.
Jakarta: Tekanan pekerjaan, tuntutan kehidupan sosial, hingga keinginan untuk terus berkembang membuat banyak anak muda kesulitan menyediakan waktu untuk beristirahat. Bagi generasi Z dan milenial, rutinitas yang padat sering kali membuat produktivitas menjadi prioritas, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Kebiasaan bekerja hingga larut malam, memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle, serta menjaga kehidupan sosial dapat membuat waktu istirahat semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, sebagian orang tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan meski merasa kewalahan. Padahal, istirahat merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan fisik dan mental.
Kesehatan mental tidak seharusnya baru diperhatikan ketika seseorang mengalami gangguan yang menghambat aktivitas sehari-hari. Upaya menjaga kesejahteraan psikologis juga perlu dilakukan secara preventif, termasuk dengan mengenali kebutuhan tubuh, menjaga pola tidur, dan memahami respons diri ketika menghadapi tekanan.
Di Indonesia, kesehatan mental kelompok usia muda menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi depresi sebesar 2 persen pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya dalam survei tersebut.
Sementara itu, laporan Gallup State of the Global Workplace 2025 menunjukkan bahwa 14 persen karyawan di Indonesia mengalami stres pada hari sebelum survei dilakukan. Data tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tuntutan produktivitas dan kesejahteraan mental, terutama di tengah rutinitas yang semakin padat.
Salah satu langkah untuk menjaga kesehatan mental adalah mengenali pola tidur dan memahami cara tubuh merespons stres. Kebiasaan sehari-hari, lingkungan, serta berbagai faktor biologis dapat berperan dalam memengaruhi kondisi seseorang ketika menghadapi tekanan.
Faktor genetik juga menjadi salah satu aspek yang dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres dan pengaturan tidur. Perkembangan teknologi memungkinkan kecenderungan genetik tertentu dipelajari melalui analisis DNA untuk memberikan gambaran mengenai predisposisi seseorang terhadap respons stres dan pola tidur.
Salah satu layanan yang menawarkan pendekatan tersebut adalah Prodia Sleep & Stress Genomics. Layanan ini menganalisis profil genetik yang berkaitan dengan dua aspek, yaitu pola tidur dan respons terhadap stres, sebagai informasi pendukung untuk memahami kebutuhan kesehatan secara lebih personal.
Pada profil tidur, analisis dilakukan untuk melihat kecenderungan pola istirahat, faktor yang memengaruhi kualitas tidur, serta potensi pengaruh stres terhadap pola tidur. Layanan ini juga memberikan informasi mengenai risiko genetik terhadap empat jenis gangguan tidur.
Sementara itu, profil stres mencakup informasi mengenai ketahanan dan respons tubuh terhadap tekanan. Analisis tersebut juga mengidentifikasi risiko genetik terhadap enam jenis gangguan mental. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan 173 variasi genetik atau Single Nucleotide Polymorphism (SNP) pada 125 gen.
Meski demikian, hasil analisis genetik ini bukan merupakan alat untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental. Informasi yang diperoleh menggambarkan profil risiko genetik yang dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan individu.
Melalui informasi tersebut, seseorang dapat memperoleh gambaran tambahan mengenai faktor biologis yang berkaitan dengan kualitas tidur dan respons terhadap stres. Pemahaman ini dapat melengkapi upaya menjaga kesehatan mental yang juga mencakup pengelolaan emosi, kebiasaan sehari-hari, serta konsultasi dengan tenaga profesional apabila diperlukan.
Prodia Sleep & Stress Genomics dapat dilakukan satu kali seumur hidup karena informasi genetik seseorang pada dasarnya tidak berubah. Hasilnya mencakup enam jenis rekomendasi, yaitu terkait makanan, pola istirahat atau tidur, olahraga, manajemen stres, kebutuhan konsultasi dengan profesional, serta hubungan sosial.
Rekomendasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk membangun kebiasaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Namun, hasil pemeriksaan genetik tetap perlu dipahami secara proporsional dan tidak menggantikan evaluasi klinis apabila seseorang mengalami keluhan tidur atau masalah kesehatan mental.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak selalu berarti menunggu hingga tekanan terasa berat. Mengenali batas kemampuan diri, menyediakan waktu istirahat yang cukup, menjaga kualitas tidur, dan mengembangkan cara mengelola stres merupakan langkah penting untuk mempertahankan kesejahteraan dalam jangka panjang.
Produktivitas pun tidak harus diukur dari seberapa lama seseorang bekerja atau seberapa banyak aktivitas yang diselesaikan. Dengan memahami kebutuhan tubuh dan pikiran, seseorang dapat membangun rutinitas yang lebih seimbang tanpa terus-menerus mengorbankan waktu pemulihan diri.
(ELG)
Kebiasaan bekerja hingga larut malam, memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle, serta menjaga kehidupan sosial dapat membuat waktu istirahat semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, sebagian orang tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan meski merasa kewalahan. Padahal, istirahat merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan fisik dan mental.
Kesehatan mental tidak seharusnya baru diperhatikan ketika seseorang mengalami gangguan yang menghambat aktivitas sehari-hari. Upaya menjaga kesejahteraan psikologis juga perlu dilakukan secara preventif, termasuk dengan mengenali kebutuhan tubuh, menjaga pola tidur, dan memahami respons diri ketika menghadapi tekanan.
Di Indonesia, kesehatan mental kelompok usia muda menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi depresi sebesar 2 persen pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya dalam survei tersebut.
Sementara itu, laporan Gallup State of the Global Workplace 2025 menunjukkan bahwa 14 persen karyawan di Indonesia mengalami stres pada hari sebelum survei dilakukan. Data tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tuntutan produktivitas dan kesejahteraan mental, terutama di tengah rutinitas yang semakin padat.
Salah satu langkah untuk menjaga kesehatan mental adalah mengenali pola tidur dan memahami cara tubuh merespons stres. Kebiasaan sehari-hari, lingkungan, serta berbagai faktor biologis dapat berperan dalam memengaruhi kondisi seseorang ketika menghadapi tekanan.
Faktor genetik juga menjadi salah satu aspek yang dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres dan pengaturan tidur. Perkembangan teknologi memungkinkan kecenderungan genetik tertentu dipelajari melalui analisis DNA untuk memberikan gambaran mengenai predisposisi seseorang terhadap respons stres dan pola tidur.
Salah satu layanan yang menawarkan pendekatan tersebut adalah Prodia Sleep & Stress Genomics. Layanan ini menganalisis profil genetik yang berkaitan dengan dua aspek, yaitu pola tidur dan respons terhadap stres, sebagai informasi pendukung untuk memahami kebutuhan kesehatan secara lebih personal.
Pada profil tidur, analisis dilakukan untuk melihat kecenderungan pola istirahat, faktor yang memengaruhi kualitas tidur, serta potensi pengaruh stres terhadap pola tidur. Layanan ini juga memberikan informasi mengenai risiko genetik terhadap empat jenis gangguan tidur.
Sementara itu, profil stres mencakup informasi mengenai ketahanan dan respons tubuh terhadap tekanan. Analisis tersebut juga mengidentifikasi risiko genetik terhadap enam jenis gangguan mental. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan 173 variasi genetik atau Single Nucleotide Polymorphism (SNP) pada 125 gen.
Meski demikian, hasil analisis genetik ini bukan merupakan alat untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental. Informasi yang diperoleh menggambarkan profil risiko genetik yang dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan individu.
Melalui informasi tersebut, seseorang dapat memperoleh gambaran tambahan mengenai faktor biologis yang berkaitan dengan kualitas tidur dan respons terhadap stres. Pemahaman ini dapat melengkapi upaya menjaga kesehatan mental yang juga mencakup pengelolaan emosi, kebiasaan sehari-hari, serta konsultasi dengan tenaga profesional apabila diperlukan.
Prodia Sleep & Stress Genomics dapat dilakukan satu kali seumur hidup karena informasi genetik seseorang pada dasarnya tidak berubah. Hasilnya mencakup enam jenis rekomendasi, yaitu terkait makanan, pola istirahat atau tidur, olahraga, manajemen stres, kebutuhan konsultasi dengan profesional, serta hubungan sosial.
Rekomendasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk membangun kebiasaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Namun, hasil pemeriksaan genetik tetap perlu dipahami secara proporsional dan tidak menggantikan evaluasi klinis apabila seseorang mengalami keluhan tidur atau masalah kesehatan mental.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak selalu berarti menunggu hingga tekanan terasa berat. Mengenali batas kemampuan diri, menyediakan waktu istirahat yang cukup, menjaga kualitas tidur, dan mengembangkan cara mengelola stres merupakan langkah penting untuk mempertahankan kesejahteraan dalam jangka panjang.
Produktivitas pun tidak harus diukur dari seberapa lama seseorang bekerja atau seberapa banyak aktivitas yang diselesaikan. Dengan memahami kebutuhan tubuh dan pikiran, seseorang dapat membangun rutinitas yang lebih seimbang tanpa terus-menerus mengorbankan waktu pemulihan diri.
(ELG)