FITNESS & HEALTH
Penanganan Glaukoma di Tengah Pandemi Covid-19
A. Firdaus
Sabtu 20 Maret 2021 / 17:17
Jakarta: Glaukoma merupakan penyakit mata yang membahayakan. Bahkan menjadi penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, tertinggi kedua setelah katarak.
Bersifat kronis, glaukoma memberi dampak sangat besar terhadap kualitas hidup pasiennya. Mulai dari perasaan cemas, sampai depresi karena adanya risiko kebutaan, begitu juga aktivitas sehari-hari lantaran keterbatasan lapang pandang mereka terganggu.
Tak hanya itu, Kehidupan sosial pun terkendala karena hilangnya penglihatan yang berangsur-angsur, serta harus bergantung kepada orang lain. Sehingga produktivitas penderita pun menurun.
Sejatinya, pasien glaukoma membutuhkan penanganan berkesinambungan secara disiplin. Sayangnya, di tengah pandemi covid-19 banyak yang ragu untuk bisa memeriksakan mata mereka ke rumah sakit.
“Penanganan glaukoma tanpa pemeriksaan teratur pada dasarnya berbahaya. Kami mengkhawatirkan pasien yang belum bisa melanjutkan pemeriksaan, terutama mereka yang kondisi glaukomanya tergolong progresif," ujar Prof. Dr. dr. Widya Artini Wiyoho, Sp.M(K).
"Sebelum pandemi, pada pasienyang berkunjung rutin pun masih didapati adanya peningkatan tekanan bola mata atau kerusakan saraf optik," sambung Dr. Widya yang juga Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Subspesialis Glaukoma, dan Ketua Layanan Glaukoma JEC Eye Hospitals & Clinics.
Jakarta Eye Center, sebagai eye care leader, hingga 2020 kemarin telah menangani lebih dari 51.810 pasien glaukoma selama sebelas tahun terakhir. Khusus pada 2020, ketika pandemi covid-19 mulai berlangsung, JEC mengalami penurunan jumlah kunjungan pasien glaukoma sebesar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berkurangnya kuantitas dan frekuensi kunjungan pasien sepanjang 2020 sangatlah bisa dipahami. Sebab, keselamatan diri dan keluarga dari paparan wabah covid-19 tentunya menjadi prioritas seluruh masyarakat. Alasan ini pula yang mendorong JEC untuk bergerak cepat dan seawal mungkin mengantisipasi kemungkinan transmisi virus korona di seluruh cabangnya.
"Dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dan tegas, kami berharap masyarakat tetap leluasa mendapatkan penanganan kesehatan mata secara aman. Tak terkecuali bagi penyandang glaukoma yang membutuhkan pemeriksaan berkelanjutan dan pengawasan dokter ahli secara konstan,” terang Dr. Iwan Soebijantoro, SpM(K), Dokter Subspesialis Glaukoma JEC.
Selain protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah, JEC juga memiliki beberapa fasilitas seperti menempatkan HEPA Filter di setiap ruang dokter dan area tunggu pasien.
Ada JEC @ Cloud guna mempermudah pasien berkonsultasi kesehatan mata secara daring dan mendapatkan pertolongan pertama saat pandemi covid-19. Melalui layanan ini, kondisi glaukoma pasien bisa terus terpantau. Dengan demikian, dokter juga bisa segera memberikan rekomendasi tindakan lebih lanjut apabila kondisi glaukoma pasien memburuk.
Ada pula JEC Glaucoma Service yang komprehensif dan modern bagi pasien glaukoma, mulai tahapan edukasi dan konsultasi, diagnostik, serta tindakan medis hingga bedah. Layanan ini diperkuat 11 dokter spesialis glaukoma dan tenaga medis mumpuni, serta teknologi terkini dan sistem pendukung unggulan, tak terkecuali hospitality optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Bersifat kronis, glaukoma memberi dampak sangat besar terhadap kualitas hidup pasiennya. Mulai dari perasaan cemas, sampai depresi karena adanya risiko kebutaan, begitu juga aktivitas sehari-hari lantaran keterbatasan lapang pandang mereka terganggu.
Tak hanya itu, Kehidupan sosial pun terkendala karena hilangnya penglihatan yang berangsur-angsur, serta harus bergantung kepada orang lain. Sehingga produktivitas penderita pun menurun.
Sejatinya, pasien glaukoma membutuhkan penanganan berkesinambungan secara disiplin. Sayangnya, di tengah pandemi covid-19 banyak yang ragu untuk bisa memeriksakan mata mereka ke rumah sakit.
“Penanganan glaukoma tanpa pemeriksaan teratur pada dasarnya berbahaya. Kami mengkhawatirkan pasien yang belum bisa melanjutkan pemeriksaan, terutama mereka yang kondisi glaukomanya tergolong progresif," ujar Prof. Dr. dr. Widya Artini Wiyoho, Sp.M(K).
"Sebelum pandemi, pada pasienyang berkunjung rutin pun masih didapati adanya peningkatan tekanan bola mata atau kerusakan saraf optik," sambung Dr. Widya yang juga Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Subspesialis Glaukoma, dan Ketua Layanan Glaukoma JEC Eye Hospitals & Clinics.
Jakarta Eye Center, sebagai eye care leader, hingga 2020 kemarin telah menangani lebih dari 51.810 pasien glaukoma selama sebelas tahun terakhir. Khusus pada 2020, ketika pandemi covid-19 mulai berlangsung, JEC mengalami penurunan jumlah kunjungan pasien glaukoma sebesar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berkurangnya kuantitas dan frekuensi kunjungan pasien sepanjang 2020 sangatlah bisa dipahami. Sebab, keselamatan diri dan keluarga dari paparan wabah covid-19 tentunya menjadi prioritas seluruh masyarakat. Alasan ini pula yang mendorong JEC untuk bergerak cepat dan seawal mungkin mengantisipasi kemungkinan transmisi virus korona di seluruh cabangnya.
"Dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dan tegas, kami berharap masyarakat tetap leluasa mendapatkan penanganan kesehatan mata secara aman. Tak terkecuali bagi penyandang glaukoma yang membutuhkan pemeriksaan berkelanjutan dan pengawasan dokter ahli secara konstan,” terang Dr. Iwan Soebijantoro, SpM(K), Dokter Subspesialis Glaukoma JEC.
Selain protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah, JEC juga memiliki beberapa fasilitas seperti menempatkan HEPA Filter di setiap ruang dokter dan area tunggu pasien.
Ada JEC @ Cloud guna mempermudah pasien berkonsultasi kesehatan mata secara daring dan mendapatkan pertolongan pertama saat pandemi covid-19. Melalui layanan ini, kondisi glaukoma pasien bisa terus terpantau. Dengan demikian, dokter juga bisa segera memberikan rekomendasi tindakan lebih lanjut apabila kondisi glaukoma pasien memburuk.
Ada pula JEC Glaucoma Service yang komprehensif dan modern bagi pasien glaukoma, mulai tahapan edukasi dan konsultasi, diagnostik, serta tindakan medis hingga bedah. Layanan ini diperkuat 11 dokter spesialis glaukoma dan tenaga medis mumpuni, serta teknologi terkini dan sistem pendukung unggulan, tak terkecuali hospitality optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)