FITNESS & HEALTH

Ebola Kembali Merebak di Kongo, Ini Risiko Penularannya

A. Firdaus
Sabtu 03 Oktober 2026 / 15:10
Ringkasnya gini..
  • Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan lebih dari 4.000 orang.
  • WHO menyebut wabah Bundibugyo virus kali ini sebagai wabah Ebola terbesar yang pernah dilaporkan.
  • Africa CDC dan WHO mendorong pendekatan yang melibatkan masyarakat.
Jakarta: Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menjadi perhatian dunia. Hingga awal Oktober 2026, jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut telah menembus 4.000 orang, sementara total kasus terkonfirmasi mencapai sekitar 8.300 kasus.

Mengutip data pemerintah Kongo yang dilaporkan Reuters, sebanyak 4.018 orang meninggal dari sekitar 8.300 kasus terkonfirmasi yang tersebar di tujuh provinsi. Lebih dari 2.000 pasien dilaporkan telah pulih.

Angka tersebut menunjukkan betapa seriusnya wabah yang berlangsung sejak Mei 2026 ini. Wabah kali ini disebabkan Bundibugyo virus, salah satu spesies virus Ebola yang sebelumnya juga pernah menyebabkan wabah di Afrika.
 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mencatat bahwa hingga 23 September 2026, terdapat 7.890 kasus terkonfirmasi dan 3.799 kematian di Kongo. Saat itu, wabah telah meluas ke 63 zona kesehatan di tujuh provinsi, yakni Bas-Uélé, Haut-Uélé, Ituri, North Kivu, South Kivu, Sud Ubangi, dan Tshopo.

Perkembangan terbaru menunjukkan angka kasus dan kematian terus bertambah setelah laporan WHO tersebut.
 

Wabah Terbesar di Kongo


WHO menyebut wabah Bundibugyo virus kali ini sebagai wabah Ebola terbesar yang pernah dilaporkan di Republik Demokratik Kongo dan berkembang lebih cepat dibandingkan wabah Ebola sebelumnya di negara tersebut.

Wabah awalnya teridentifikasi di zona kesehatan Mongbwalu, Provinsi Ituri. Dalam beberapa bulan, penularan kemudian meluas ke sejumlah wilayah lain, termasuk North Kivu dan South Kivu.

Perluasan wilayah penularan menjadi salah satu perhatian utama karena sejumlah daerah yang terdampak berada dekat dengan perbatasan negara lain.
 
Virus Ebola
Kasus Virus Ebola di Kongo telah meningkat tajam. Ilustrasi Magnific


Dalam laporan pada September, WHO menyebut risiko penularan lintas batas meningkat setelah kasus ditemukan di Sud Ubangi dan Haut-Uélé, termasuk wilayah yang berbatasan dengan Sudan Selatan.

WHO menilai risiko wabah berada pada tingkat sangat tinggi di Kongo, sementara negara-negara yang berbatasan langsung dengan Kongo menghadapi risiko tinggi. Adapun risiko bagi kawasan Afrika lainnya dan tingkat global saat penilaian tersebut dilakukan dinilai rendah.
 

Mengapa Ebola Sulit Dikendalikan?


Salah satu tantangan dalam pengendalian Ebola adalah keterlambatan mendeteksi kasus. WHO menyebut tingginya angka kematian juga berkaitan dengan tantangan dalam menemukan kasus secara cepat serta memastikan pasien memperoleh perawatan yang memadai.

Penularan yang berkelanjutan di komunitas juga meningkatkan risiko penyebaran di dalam keluarga dan fasilitas kesehatan.

Pada Juli 2026, WHO mencatat angka kematian dari kasus terkonfirmasi sekitar 39 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 48 persen dalam laporan September.

Pengendalian wabah juga tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Pelacakan kontak, pemeriksaan laboratorium, isolasi kasus, perawatan pasien, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan.
 

Risiko Menyebar ke Negara Tetangga


Potensi penyebaran lintas batas menjadi perhatian karena masyarakat di sejumlah wilayah terdampak tetap melakukan perjalanan melalui jalur resmi maupun informal.

WHO mencatat aktivitas pengawasan dan pemeriksaan kesehatan telah dilakukan di bandara, pelabuhan, serta titik perlintasan darat resmi. Namun, keberadaan jalur perbatasan informal dapat meningkatkan kemungkinan virus terbawa keluar atau masuk ke suatu wilayah.

Africa CDC dan WHO sebelumnya juga menyerukan penguatan kesiapsiagaan lintas batas. Langkah yang didorong mencakup peningkatan kemampuan deteksi dini, pelacakan kontak, kapasitas isolasi, diagnosis, serta kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan kasus impor.

Meski demikian, WHO belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan negara yang terdampak berdasarkan penilaian risikonya saat ini.
 

Respons Terus Diperkuat


Di tengah peningkatan kasus, respons kesehatan masyarakat terus diperkuat. Africa CDC dan WHO mendorong pendekatan yang melibatkan masyarakat, termasuk peningkatan deteksi dini, pelacakan kontak, akses terhadap perawatan, serta dukungan bagi tenaga kesehatan di garis depan.

Pendekatan berbasis masyarakat dinilai penting karena pengendalian Ebola tidak hanya berkaitan dengan penanganan pasien di rumah sakit. Kepercayaan masyarakat, pelaporan gejala, penerimaan terhadap pelacakan kontak, serta kemampuan tenaga kesehatan menjangkau wilayah terdampak turut menentukan keberhasilan pengendalian wabah.

Dengan jumlah kematian yang telah melampaui 4.000 orang dan penularan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, situasi Ebola di Kongo masih membutuhkan pemantauan ketat, terutama terhadap potensi penyebaran ke wilayah perbatasan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH