FITNESS & HEALTH

Cara Melakukan Skrining pada Penyakit Kanker Prosat

Raka Lestari
Rabu 17 Februari 2021 / 17:07
Jakarta: Rendahnya kepedulian dan pengetahuan masyarakat tentang kanker prostat terutama dalam hal deteksi  dini dan minimnya informasi tentang pilihan terapi merupakan beberapa penyebab tingginya angka kanker prostat di Indonesia.

Padahal, keberhasilan pengobatan kanker prostat akan lebih tinggi jika deteksi dilakukan sejak dini dan terapi dilakukan dengan tepat.

"Kalau memang benar-benar stadium awal atau dini, biasanya kanker prostat tidak memiliki gejala sama sekali. Untuk mendeteksi kanker prostat, biasanya bergantung pada PSA (prostat-spesific agent)," ujar dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp.U (K), PhD, Konsultan Dokter Spesialis Uro-Onkologi Siloam Hospitals ASRI, dalam Virtual Media Briefing, pada Rabu, 17 Februari 2021.

Menurut dr. Agus, biasanya pasien kanker prostat mengalami keluhan karena kanker yang sudah membesar. 

"Kalau kankernya sudah besar biasanya ada gejala, tetapi kalau masih dalam stadium dini tidak ada gejala sama sekali. Dan kalau ada gejala, biasanya akan langsung dilakukan biopsi sehingga staging bisa lebih cepat dan angka harapan hidup bisa lebih baik," tambahnya.

Pada kanker prostat stadium awal, sering kali ditemukan pasien tidak menyadari adanya gejala. Gejala terkadang baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya. 

Gejala yang dikeluhkan meliputi gangguan berkemih, terdapat darah pada urine, pembesaran kelenjar getah  bening sekitar prostat, penurunan berat badan, dan jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang.

"Deteksi dini bertujuan agar dapat dilakukan intervensi secepatnya dan mencegah prognosis yang lebih buruk.  Biopsi prostat dengan teknologi robotik digunakan untuk meningkatkan ketepatan pengambilan sampel jaringan di lokasi sel kanker prostat," ujar dokter spesialis urologi dan Ketua Asri Urology Center (AUC) Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U (K).

"Dengan adanya teknologi ini, diagnosis menjadi lebih cepat dan akurat, waktu biopsi lebih singkat, serta menghindari dilakukannya biopsi ulang,” papar Dr. dr. Nur Rasyid.

Ada beberapa metode biopsi yang biasa dilakukan oleh para ahli, seperti biopsi transperineal. Biopsi ini tidak melalui saluran cerna (gastro-intestinal) atau saluran kemih, melainkan melalui bagian perineal (di antara kantung kemaluan dan anus) dan memiliki risiko sepsis yang sangat kecil sehingga dianggap paling aman.
(TIN)

MOST SEARCH