FITNESS & HEALTH

CKG Tembus 73,8 Juta Peserta, Kemenkes Siap Kawal Kesehatan Warga Sampai Tuntas!

Yatin Suleha
Jumat 07 Agustus 2026 / 20:21
Ringkasnya gini..
  • Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digarap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) makin ngebut, nih!
  • Per 31 Juli 2026 kemarin, program ini sukses nembus angka 73,8 juta penduduk.
  • "Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat," kata Menkes Budi.
Jakarta: Gimana rasanya dapet kabar bagus dari dunia kesehatan? Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digarap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) makin ngebut, nih!

Per 31 Juli 2026 kemarin, program ini sukses nembus angka 73,8 juta penduduk. Hebatnya lagi, jumlah ini udah resmi melampaui total capaian sepanjang tahun 2025 lalu yang mentok di angka 70 juta peserta. Keren banget, kan?

Nah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat ngasih spill penting saat acara Media Briefing Evaluasi CKG di Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta Selatan. Ia menegaskan kalau CGK ini enggak cuma sekadar ngecek kesehatan di awal doang, lho.
 
Lebih dari itu, program ini bener-bener dikawal sampai tuntas—mulai dari edukasi lanjutan, pengobatan, pemantauan rutin, sampai rujukan ke fasilitas medis kalau memang dibutuhkan. Jadi, pesertanya benar-benar dipantau kesehatannya secara menyeluruh!

Langkah ini menjadi bagian dari target CKG 2026 untuk menjangkau 130 juta penduduk.

"Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani," ujar Menkes Budi.

- Dari total 73,8 juta peserta, sebanyak 62,7 juta orang menjalani skrining di puskesmas dan kegiatan komunitas.
- Sedangkan 11,1 juta sisanya merupakan anak sekolah.
- CKG menyediakan layanan skrining gratis bagi seluruh kelompok umur di lebih dari 10.000 puskesmas, sekolah, dan komunitas.

Pada 2026, Kemenkes memfokuskan tindak lanjut CKG pada tiga faktor risiko penyakit tidak menular (PTM), yakni 
1. Hipertensi,
2. Gula darah tinggi, dan 
3. Kolesterol tinggi

Ketiganya dinilai menjadi pemicu utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.
 

Cakupan pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh (IMT)



("Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani," ujar Menkes Budi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Hingga akhir Juli 2026, cakupan pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh (IMT) telah mencapai 90 persen dari sasaran, sedangkan pemeriksaan gula darah mencapai 83 persen.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menambahkan bahwa hasil skrining ditindaklanjuti dengan tata laksana kesehatan di puskesmas. 

Mulai Agustus 2026, Kemenkes memantau data tata laksana dari sedikitnya 5.300 puskesmas sebelum diperluas secara nasional.

Untuk penanganan cepat di komunitas, obat hipertensi, diabetes, dan kolesterol dapat diberikan gratis hingga 15 hari pertama sesuai indikasi medis, sebelum dilanjutkan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
 

Pergeseran pola penyakit


Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa Indonesia saat ini mengalami pergeseran pola penyakit. Jika dahulu penyakit infeksi menjadi pemicu utama, kini penyakit tidak menular justru semakin dominan dan kerap berkembang tanpa gejala (silent killer).

“Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi,” tegas Wamenkes Dante.

Wamenkes Dante menekankan bahwa deteksi dini harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara konsisten.

“Cek kesehatan tidak cukup dilakukan sekali. Jika memungkinkan, lakukan setiap tahun. Kita akan terus memperbaiki sistem agar masyarakat yang ditemukan berisiko dapat lebih cepat diobati dan tetap sehat,” lanjutnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan pemeriksaan tahunan sebagai gaya hidup baru yang didukung oleh pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.
 
Sejalan dengan hal tersebut, Pakar Kesehatan Masyarakat dr. Iwan Ariawan menekankan pentingnya rangkaian CKG secara berkelanjutan untuk memperpanjang masa hidup sehat masyarakat, bukan sekadar memperpanjang usia. 

Menurutnya, masih ada selisih antara angka harapan hidup dan harapan hidup sehat akibat penyakit yang tidak terdeteksi sejak awal.

"Yang ingin kita capai bukan hanya masyarakat hidup lebih lama, tetapi hidup sehat dan berkualitas. Karena itu, CKG harus berjalan dalam satu rangkaian: skrining, deteksi, dan tindak lanjut," terang dr. Iwan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH