FITNESS & HEALTH
Tips Menjaga Mata Tetap Sehat meski Sering Menatap Layar
Elang Riki Yanuar
Kamis 15 Oktober 2026 / 09:00
- Aturan 20-20-20 bisa membantu mengurangi kelelahan mata akibat menatap layar.
- Kenali gejala presbiopia atau mata tua yang umumnya muncul setelah usia 40 tahun, seperti sulit membaca tulisan kecil dan harus menjauhkan ponsel.
- Holywings Peduli menggelar pemeriksaan mata dan membagikan kacamata gratis bagi warga Karet Kuningan dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2026
Jakarta: Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengistirahatkan mata saat menatap layar, mengatur pencahayaan ketika membaca, hingga melakukan pemeriksaan secara berkala. Langkah ini penting untuk membantu menjaga kualitas penglihatan sekaligus mendeteksi gangguan mata sejak dini.
Refraksionis Optisien dari Optik 99K, Suhadi, AMD.RO, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu penglihatan memburuk untuk memeriksakan kondisi mata. Menurutnya, perubahan penglihatan dapat dialami siapa saja dan perlu mendapat perhatian sesuai gejala yang muncul.
Pesan tersebut sejalan dengan momentum Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2026 yang diperingati pada 8 Oktober. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata dan mendapatkan akses pemeriksaan yang tepat.
Salah satu kebiasaan yang disarankan Suhadi adalah menerapkan aturan 20-20-20 ketika menggunakan komputer atau ponsel dalam waktu lama. Setiap 20 menit, seseorang disarankan mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik untuk membantu mengurangi kelelahan mata akibat aktivitas melihat dekat secara terus-menerus.
Selain mengistirahatkan mata, jarak pandang dan pencahayaan juga perlu diperhatikan. Membaca dalam kondisi terlalu gelap dapat membuat aktivitas melihat terasa tidak nyaman. Pengguna gawai juga disarankan berkedip secara teratur karena frekuensi berkedip cenderung berkurang ketika seseorang menatap layar.
Perlindungan mata saat beraktivitas di luar ruangan juga tidak kalah penting. Suhadi menyarankan penggunaan kacamata hitam yang memiliki perlindungan terhadap sinar UVA dan UVB untuk membantu melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet.
Kebiasaan makan bergizi dan berolahraga secara teratur turut mendukung kesehatan mata. Masyarakat juga perlu mengendalikan kondisi kesehatan, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, karena keduanya dapat berkaitan dengan gangguan pada penglihatan.
Suhadi menjelaskan, ada beberapa gangguan penglihatan yang banyak dijumpai di masyarakat, salah satunya kelainan refraksi. Kondisi ini meliputi rabun jauh, rabun dekat, dan mata silinder yang dapat menyebabkan objek terlihat kurang jelas. Gangguan tersebut umumnya dapat dikoreksi menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan.
Gangguan lain yang perlu diperhatikan adalah presbiopia atau mata tua, yang biasanya mulai dirasakan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun ke atas. Gejalanya antara lain kesulitan membaca tulisan kecil, harus menjauhkan ponsel atau buku agar terlihat jelas, serta membutuhkan pencahayaan lebih terang saat membaca.
Dalam kondisi tertentu, lensa progresif dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengoreksi penglihatan jarak jauh, menengah, dan dekat dalam satu kacamata. Namun, pemilihan lensa tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan penglihatan dan hasil pemeriksaan masing-masing orang.
Selain kelainan refraksi dan presbiopia, masyarakat juga perlu mewaspadai katarak, glaukoma, serta retinopati diabetik. Katarak dapat menyebabkan penglihatan buram akibat lensa mata yang keruh, sedangkan glaukoma dan retinopati diabetik berpotensi mengganggu penglihatan secara serius.
Karena tidak semua gangguan mata menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi penglihatan. Suhadi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap penurunan kemampuan melihat sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja seiring bertambahnya usia.
"Jadi, pesan yang ingin kami sampaikan adalah jangan menganggap penglihatan yang mulai menurun sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Kenali gejalanya, periksakan mata secara rutin, dan jaga kesehatan penglihatan sejak dini," ujar Suhadi.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan dan tidak mengabaikan perubahan penglihatan. Apabila mata mendadak kabur, kehilangan penglihatan, terasa nyeri hebat, atau menunjukkan gejala tidak biasa, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
Pentingnya pemeriksaan mata juga menjadi perhatian dalam kegiatan sosial Holywings Peduli yang digelar di Superhouse Satrio pada 11 Oktober 2026, bertepatan dengan momentum Hari Penglihatan Sedunia. Kegiatan tersebut menghadirkan pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis bagi warga Karet Kuningan, termasuk kelompok lanjut usia.
Selain pemeriksaan, warga mengikuti talkshow kesehatan mata bersama Refraksionis Optisien dari Optik 99K untuk mendapatkan edukasi mengenai gangguan penglihatan, perubahan penglihatan seiring bertambahnya usia, serta pentingnya pemeriksaan berkala.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mata.
“Kami melihat momentum World Sight Day sebagai kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kesehatan mata tidak kalah penting dengan kesehatan tubuh lainnya. Karena itu, kami ingin memperingatinya dengan kegiatan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan warga, yaitu pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis," katanya.
Dalam kegiatan yang sama, Holywings Peduli juga menyerahkan bantuan peralatan kesehatan untuk Posbindu dan Posyandu Karet Kuningan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kader setempat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara berkelanjutan.
(ELG)
Refraksionis Optisien dari Optik 99K, Suhadi, AMD.RO, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu penglihatan memburuk untuk memeriksakan kondisi mata. Menurutnya, perubahan penglihatan dapat dialami siapa saja dan perlu mendapat perhatian sesuai gejala yang muncul.
Pesan tersebut sejalan dengan momentum Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2026 yang diperingati pada 8 Oktober. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata dan mendapatkan akses pemeriksaan yang tepat.
Salah satu kebiasaan yang disarankan Suhadi adalah menerapkan aturan 20-20-20 ketika menggunakan komputer atau ponsel dalam waktu lama. Setiap 20 menit, seseorang disarankan mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik untuk membantu mengurangi kelelahan mata akibat aktivitas melihat dekat secara terus-menerus.
Selain mengistirahatkan mata, jarak pandang dan pencahayaan juga perlu diperhatikan. Membaca dalam kondisi terlalu gelap dapat membuat aktivitas melihat terasa tidak nyaman. Pengguna gawai juga disarankan berkedip secara teratur karena frekuensi berkedip cenderung berkurang ketika seseorang menatap layar.
Perlindungan mata saat beraktivitas di luar ruangan juga tidak kalah penting. Suhadi menyarankan penggunaan kacamata hitam yang memiliki perlindungan terhadap sinar UVA dan UVB untuk membantu melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet.
Kebiasaan makan bergizi dan berolahraga secara teratur turut mendukung kesehatan mata. Masyarakat juga perlu mengendalikan kondisi kesehatan, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, karena keduanya dapat berkaitan dengan gangguan pada penglihatan.
Suhadi menjelaskan, ada beberapa gangguan penglihatan yang banyak dijumpai di masyarakat, salah satunya kelainan refraksi. Kondisi ini meliputi rabun jauh, rabun dekat, dan mata silinder yang dapat menyebabkan objek terlihat kurang jelas. Gangguan tersebut umumnya dapat dikoreksi menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan.
Gangguan lain yang perlu diperhatikan adalah presbiopia atau mata tua, yang biasanya mulai dirasakan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun ke atas. Gejalanya antara lain kesulitan membaca tulisan kecil, harus menjauhkan ponsel atau buku agar terlihat jelas, serta membutuhkan pencahayaan lebih terang saat membaca.
Dalam kondisi tertentu, lensa progresif dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengoreksi penglihatan jarak jauh, menengah, dan dekat dalam satu kacamata. Namun, pemilihan lensa tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan penglihatan dan hasil pemeriksaan masing-masing orang.
Selain kelainan refraksi dan presbiopia, masyarakat juga perlu mewaspadai katarak, glaukoma, serta retinopati diabetik. Katarak dapat menyebabkan penglihatan buram akibat lensa mata yang keruh, sedangkan glaukoma dan retinopati diabetik berpotensi mengganggu penglihatan secara serius.
Karena tidak semua gangguan mata menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi penglihatan. Suhadi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap penurunan kemampuan melihat sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja seiring bertambahnya usia.
"Jadi, pesan yang ingin kami sampaikan adalah jangan menganggap penglihatan yang mulai menurun sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Kenali gejalanya, periksakan mata secara rutin, dan jaga kesehatan penglihatan sejak dini," ujar Suhadi.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan dan tidak mengabaikan perubahan penglihatan. Apabila mata mendadak kabur, kehilangan penglihatan, terasa nyeri hebat, atau menunjukkan gejala tidak biasa, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
Pentingnya pemeriksaan mata juga menjadi perhatian dalam kegiatan sosial Holywings Peduli yang digelar di Superhouse Satrio pada 11 Oktober 2026, bertepatan dengan momentum Hari Penglihatan Sedunia. Kegiatan tersebut menghadirkan pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis bagi warga Karet Kuningan, termasuk kelompok lanjut usia.
Selain pemeriksaan, warga mengikuti talkshow kesehatan mata bersama Refraksionis Optisien dari Optik 99K untuk mendapatkan edukasi mengenai gangguan penglihatan, perubahan penglihatan seiring bertambahnya usia, serta pentingnya pemeriksaan berkala.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mata.
“Kami melihat momentum World Sight Day sebagai kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kesehatan mata tidak kalah penting dengan kesehatan tubuh lainnya. Karena itu, kami ingin memperingatinya dengan kegiatan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan warga, yaitu pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis," katanya.
Dalam kegiatan yang sama, Holywings Peduli juga menyerahkan bantuan peralatan kesehatan untuk Posbindu dan Posyandu Karet Kuningan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kader setempat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara berkelanjutan.
(ELG)