FITNESS & HEALTH
Lagi Tren Diet No Sugar, Tapi Kok Studi Terbaru Malah Kasih Red Flag?
A. Firdaus
Jumat 19 Juni 2026 / 17:00
- Diet tanpa gula atau no sugar diet semakin populer, karena dianggap mampu membantu menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan.
- Banyak orang mulai mengurangi bahkan menghilangkan gula, dari pola makan sehari-hari demi mendapatkan tubuh yang lebih sehat.
- Studi ENDO 2026 di Chicago, menunjukkan membatasi gula secara terlalu ekstrem, belum tentu memberi manfaat yang lebih besar bagi tubuh.
Jakarta: Belakangan ini, diet tanpa gula atau no sugar diet semakin populer, karena dianggap mampu membantu menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Banyak orang mulai mengurangi bahkan menghilangkan gula, dari pola makan sehari-hari demi mendapatkan tubuh yang lebih sehat.
Namun, sebuah studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan ENDO 2026 di Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa membatasi gula secara terlalu ekstrem, belum tentu memberikan manfaat yang lebih besar bagi tubuh.
Penelitian tersebut menemukan bahwa menghilangkan sukrosa, salah satu bentuk gula, dari pola makan rendah lemak, berpotensi memicu gangguan pada kesehatan usus dan metabolisme. Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi gula memang penting, tetapi melakukannya secara berlebihan, juga dapat menimbulkan sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.
Saat gula dihilangkan sepenuhnya dari pola makan, otak dapat mengalami perubahan karena kehilangan sumber rangsangan, yang selama ini berasal dari makanan manis. Akibatnya, keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, justru bisa menjadi lebih kuat.
Kondisi ini dapat memicu pola makan yang tidak sehat, seperti menahan diri terlalu ketat, merasa stres, kemudian makan berlebihan saat keinginan tersebut tidak lagi tertahankan. Siklus seperti ini sering kali, membuat seseorang sulit mempertahankan pola makan sehat dalam jangka panjang.
Glukosa merupakan salah satu sumber energi utama bagi tubuh. Ketika gula dan karbohidrat dikurangi secara drastis dalam waktu bersamaan, tubuh bisa mengalami kekurangan energi, yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat.
Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mengantuk, dan kurang bertenaga. Penurunan kadar glukosa yang terjadi secara mendadak, juga dapat menyebabkan energi terasa naik turun sepanjang hari.
Selain berfungsi sebagai sumber energi, glukosa juga berperan dalam mendukung kerja otak. Ketika asupan gula dibatasi secara berlebihan, keseimbangan energi di otak dapat terganggu.
Kondisi ini berpotensi memicu perubahan suasana hati, mudah marah, cemas, sulit fokus, hingga menurunnya konsentrasi. Beberapa penelitian, juga menunjukkan bahwa pembatasan gula yang terlalu ketat, dapat memengaruhi keseimbangan neurotransmiter yang berperan dalam mengatur emosi.
Demi menghindari gula, sebagian orang mulai mengonsumsi pemanis rendah kalori, atau pemanis buatan dalam jumlah besar. Padahal, penggunaan yang berlebihan juga berpotensi memengaruhi metabolisme tubuh, serta keseimbangan mikrobiota usus.
Selain itu, pola makan yang terlalu fokus pada label “bebas gula”, terkadang membuat seseorang memilih makanan olahan, yang mengandung banyak bahan tambahan dan aditif. Akibatnya, kualitas gizi makanan yang dikonsumsi justru bisa menurun.
Mengurangi konsumsi gula tambahan memang merupakan langkah yang baik untuk kesehatan. Namun, studi terbaru ini menunjukkan bahwa menghilangkan gula secara total, belum tentu menjadi pilihan terbaik. Pola makan yang seimbang, beragam, dan tetap memenuhi kebutuhan energi tubuh dinilai lebih penting, dibandingkan melakukan pembatasan ekstrem, yang berisiko menimbulkan efek samping bagi kesehatan fisik maupun mental.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Namun, sebuah studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan ENDO 2026 di Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa membatasi gula secara terlalu ekstrem, belum tentu memberikan manfaat yang lebih besar bagi tubuh.
Penelitian tersebut menemukan bahwa menghilangkan sukrosa, salah satu bentuk gula, dari pola makan rendah lemak, berpotensi memicu gangguan pada kesehatan usus dan metabolisme. Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi gula memang penting, tetapi melakukannya secara berlebihan, juga dapat menimbulkan sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.
1. Craving makanan manis bisa meningkat
Saat gula dihilangkan sepenuhnya dari pola makan, otak dapat mengalami perubahan karena kehilangan sumber rangsangan, yang selama ini berasal dari makanan manis. Akibatnya, keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, justru bisa menjadi lebih kuat.
Kondisi ini dapat memicu pola makan yang tidak sehat, seperti menahan diri terlalu ketat, merasa stres, kemudian makan berlebihan saat keinginan tersebut tidak lagi tertahankan. Siklus seperti ini sering kali, membuat seseorang sulit mempertahankan pola makan sehat dalam jangka panjang.
2. Tubuh lebih mudah lelah dan kehabisan energi
Glukosa merupakan salah satu sumber energi utama bagi tubuh. Ketika gula dan karbohidrat dikurangi secara drastis dalam waktu bersamaan, tubuh bisa mengalami kekurangan energi, yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat.
Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mengantuk, dan kurang bertenaga. Penurunan kadar glukosa yang terjadi secara mendadak, juga dapat menyebabkan energi terasa naik turun sepanjang hari.
3. Suasana hati menjadi tidak stabil
Selain berfungsi sebagai sumber energi, glukosa juga berperan dalam mendukung kerja otak. Ketika asupan gula dibatasi secara berlebihan, keseimbangan energi di otak dapat terganggu.
Kondisi ini berpotensi memicu perubahan suasana hati, mudah marah, cemas, sulit fokus, hingga menurunnya konsentrasi. Beberapa penelitian, juga menunjukkan bahwa pembatasan gula yang terlalu ketat, dapat memengaruhi keseimbangan neurotransmiter yang berperan dalam mengatur emosi.
4. Terlalu bergantung pada pemanis pengganti
Demi menghindari gula, sebagian orang mulai mengonsumsi pemanis rendah kalori, atau pemanis buatan dalam jumlah besar. Padahal, penggunaan yang berlebihan juga berpotensi memengaruhi metabolisme tubuh, serta keseimbangan mikrobiota usus.
Selain itu, pola makan yang terlalu fokus pada label “bebas gula”, terkadang membuat seseorang memilih makanan olahan, yang mengandung banyak bahan tambahan dan aditif. Akibatnya, kualitas gizi makanan yang dikonsumsi justru bisa menurun.
5. Kuncinya tetap pada keseimbangan
Mengurangi konsumsi gula tambahan memang merupakan langkah yang baik untuk kesehatan. Namun, studi terbaru ini menunjukkan bahwa menghilangkan gula secara total, belum tentu menjadi pilihan terbaik. Pola makan yang seimbang, beragam, dan tetap memenuhi kebutuhan energi tubuh dinilai lebih penting, dibandingkan melakukan pembatasan ekstrem, yang berisiko menimbulkan efek samping bagi kesehatan fisik maupun mental.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)