FITNESS & HEALTH

Sering Terbangun karena Tangan Kesemutan? Kenali Penyebabnya

A. Firdaus
Rabu 07 Oktober 2026 / 09:14
Ringkasnya gini..
  • Tangan sering kesemutan atau kebas saat tidur? Kenali perbedaan Carpal Tunnel Syndrome dan gangguan saraf dari leher serta kapan perlu diperiksa.
  • Carpal Tunnel Syndrome terjadi ketika saraf median yang melewati area pergelangan tangan mengalami tekanan pada ruang yang relatif sempit.
  • Kesemutan pada tangan ternyata tidak selalu berawal dari pergelangan.
Jakarta: Pernah terbangun tengah malam karena tangan tiba-tiba kesemutan, kebas, atau terasa seperti ditusuk-tusuk? Keluhan seperti ini sering dianggap sepele karena biasanya muncul setelah tangan tertindih atau berada dalam posisi yang kurang nyaman saat tidur.

Rasa kesemutan memang bisa membaik setelah posisi tubuh diubah atau tangan digerakkan. Namun, jika keluhan semakin sering muncul, bahkan sampai membangunkan tidur atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak terus dianggap sebagai efek salah posisi.

Kesemutan pada tangan merupakan gejala yang bisa berkaitan dengan gangguan saraf. Dua kondisi yang cukup sering menimbulkan keluhan serupa adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dan gangguan saraf yang berasal dari leher atau radikulopati servikal.
Meski sama-sama dapat menyebabkan tangan terasa kebas dan kesemutan, keduanya terjadi pada lokasi saraf yang berbeda. Karena itu, pola keluhan bisa menjadi petunjuk awal untuk mencari sumber masalahnya.
 

Kesemutan Malam Hari Bisa Jadi CTS


Carpal Tunnel Syndrome terjadi ketika saraf median yang melewati area pergelangan tangan mengalami tekanan pada ruang yang relatif sempit.

“Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur,” jelas dr. Puspasari, Sp.N, FIOM, FEEG, FPSG, F.Neurosomnologi, FEMG, KHS.

Pada tahap yang lebih lanjut, keluhan tidak hanya berupa kesemutan. Tangan dapat terasa lebih lemah, mudah menjatuhkan benda, atau mengalami kesulitan ketika melakukan gerakan yang membutuhkan ketelitian.

Sebagian orang juga merasakan keluhan sedikit mereda setelah tangan dikibaskan atau digerakkan. Meski begitu, kebiasaan tersebut hanya dapat membuat gejala terasa lebih ringan dan tidak menjawab penyebabnya.
 

Sumbernya Bisa Berasal dari Leher


Kesemutan pada tangan ternyata tidak selalu berawal dari pergelangan. Gangguan saraf juga dapat terjadi di bagian tubuh yang lebih tinggi, salah satunya leher.

Pada radikulopati servikal, saraf yang keluar dari tulang belakang di area leher mengalami iritasi atau tekanan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan pada tulang belakang, penyempitan jalur saraf, maupun gangguan pada bantalan tulang atau diskus.

“Jika sumber gangguan berasal dari leher, keluhan dapat berupa nyeri yang berawal dari leher kemudian menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari tangan. Kesemutan atau kebas juga dapat muncul pada area tertentu sesuai dengan saraf yang mengalami gangguan,” ujar dr. Puspasari.
 
Tidur enak
Kesemutan pada tangan ternyata tidak selalu berawal dari pergelangan. Generated AI


Menariknya, gangguan saraf yang berasal dari leher tidak selalu ditandai nyeri leher yang berat. Pada sebagian orang, keluhan yang paling terasa justru kesemutan atau kebas pada tangan.

Kelemahan pada kelompok otot tertentu juga dapat muncul, tergantung saraf yang mengalami gangguan.
 

Tidak Cukup Hanya Melihat Lokasi Kesemutan


Lantas, bagaimana mengetahui kesemutan berasal dari pergelangan tangan atau leher?

Lokasi kesemutan memang dapat memberikan petunjuk, tetapi belum tentu cukup untuk menentukan diagnosis. Dokter biasanya akan melihat pola keluhan secara keseluruhan, termasuk kekuatan otot, refleks, serta bagian tangan dan lengan yang mengalami gangguan rasa.

Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan Electromyography/Nerve Conduction Study (EMG/NCS).

“NCS membantu menilai bagaimana sinyal listrik berjalan melalui saraf, sedangkan EMG membantu mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai lokasi dan tingkat gangguan saraf,” jelas dr. Puspasari.

Pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter melihat apakah gangguan lebih mengarah pada saraf di pergelangan tangan seperti pada CTS, saraf yang berasal dari leher, gangguan saraf tepi lainnya, atau kombinasi beberapa kondisi.
 

Sudah MRI, Kenapa Masih Perlu EMG?


Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika seseorang sudah menjalani pemeriksaan pencitraan.

MRI dan EMG/NCS sebenarnya melihat hal yang berbeda. MRI digunakan untuk melihat struktur tubuh, termasuk tulang belakang dan jaringan di sekitarnya. Sementara itu, EMG/NCS digunakan untuk menilai fungsi saraf dan otot.

Karena itu, hasil MRI tidak selalu bisa langsung menjelaskan sumber kesemutan.

Baca Juga :


Hobi Tidur Siang Tiap Hari: Emang Sehat atau Tubuh Kamu Lagi SOS


Seseorang dapat memiliki perubahan tertentu pada hasil MRI, tetapi perubahan tersebut belum tentu menjadi penyebab utama keluhan yang dirasakan. Hasil pemeriksaan perlu dikaitkan dengan gejala dan pemeriksaan klinis.

“Pada kondisi tertentu, pemeriksaan klinis, MRI, dan EMG/NCS dapat saling melengkapi. Tujuannya bukan hanya menemukan kelainan, tetapi memahami apakah kelainan tersebut sesuai dengan keluhan pasien,” tambah dr. Puspasari.
 

Kapan Kesemutan Perlu Diperiksa?


Kesemutan sesekali setelah tangan tertindih ketika tidur umumnya dapat membaik setelah posisi tubuh diubah. Namun, ada kondisi ketika keluhan sebaiknya tidak lagi dianggap sebagai gangguan sementara.

Periksakan diri jika kesemutan:

- Terjadi berulang atau semakin sering.
- Membuat terbangun pada malam hari.
- Tidak kunjung membaik setelah posisi diubah.
- Disertai nyeri yang menjalar dari leher, bahu, hingga lengan.
- Disertai kelemahan pada tangan.
- Mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pada akhirnya, kesemutan merupakan gejala, bukan diagnosis. Sumber gangguan saraf perlu diketahui agar pemeriksaan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Untuk mendukung penanganan gangguan saraf, Bethsaida Hospital Gading Serpong melalui Neuroscience Center menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan saraf secara terintegrasi. Layanan tersebut didukung dokter dengan kompetensi di bidang neurologi serta pemeriksaan penunjang, termasuk EMG/NCS, sesuai kebutuhan medis pasien.

“Gangguan saraf tidak selalu dapat dipahami hanya dari satu hasil pemeriksaan. Kami berkomitmen menghadirkan layanan neurologi yang terintegrasi, karena setiap keluhan memiliki penyebab dan kebutuhan penanganan yang dapat berbeda pada setiap pasien,” ujar dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Menurutnya, pendekatan terintegrasi memungkinkan kompetensi dokter, pemeriksaan diagnostik, dan fasilitas penunjang digunakan untuk mendapatkan gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh.

Jadi, kalau tangan sesekali kesemutan karena salah posisi tidur, mungkin tidak perlu langsung panik. Tetapi jika “kesemutan tengah malam” mulai menjadi rutinitas, tubuh mungkin sedang memberi sinyal yang sebaiknya tidak diabaikan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH