FITNESS & HEALTH

ISPA: Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mencegahnya

A. Firdaus
Kamis 15 Oktober 2026 / 14:22
Jakarta: Batuk, pilek, dan sakit tenggorokan kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, keluhan tersebut juga bisa menjadi tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit yang dapat menyerang siapa saja, mulai dari bayi hingga lansia.

Sebagian besar infeksi saluran pernapasan memang dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Meski demikian, ISPA tidak boleh diabaikan, terutama jika menyerang bayi, balita, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius dan membutuhkan penanganan medis.

Kualitas udara yang buruk, paparan asap rokok, serta lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat juga dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Karena itu, mengenali gejala dan memahami cara mencegah ISPA menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga.
 

Apa Itu ISPA?


Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, sinus, dan tenggorokan hingga saluran pernapasan bagian bawah, termasuk paru-paru. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus maupun bakteri.

Penularan ISPA dapat terjadi melalui partikel pernapasan yang keluar ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga dapat terjadi melalui tangan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Gejala ISPA bisa muncul secara bertahap maupun tiba-tiba. Tingkat keparahannya pun bervariasi, mulai dari keluhan ringan hingga infeksi yang mengganggu fungsi pernapasan.

Beberapa gejala ISPA yang perlu dikenali meliputi:

- Batuk kering atau berdahak.

- Pilek dan hidung tersumbat.

- Sakit tenggorokan atau nyeri saat menelan.

- Demam.

- Bersin.

- Sakit kepala.

- Nyeri otot dan sendi.

- Tubuh terasa lemas atau mudah lelah.

- Suara serak.

- Nafsu makan menurun.

Jika mengalami sesak napas, napas cepat atau sulit, nyeri dada, maupun bibir kebiruan, segera cari pertolongan medis. Pada bayi dan anak kecil, kesulitan menyusu, tampak sangat lemas, atau tarikan dinding dada saat bernapas juga perlu diwaspadai.
 

Siapa yang Berisiko Mengalami ISPA?


ISPA dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, risiko mengalami infeksi berat atau komplikasi lebih tinggi pada kelompok tertentu.

Bayi dan balita termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Lansia juga lebih rentan, terutama jika memiliki penyakit penyerta.

Selain itu, orang dengan penyakit kronis, seperti asma, penyakit paru, penyakit jantung, dan diabetes, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah perlu lebih waspada. Ibu hamil juga sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan yang mengkhawatirkan.
 

Faktor yang Meningkatkan Risiko ISPA


Selain paparan virus dan bakteri, sejumlah kondisi lingkungan dan kebiasaan sehari-hari dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan.

Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan:

Polusi udara. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada.

Asap rokok. Perokok aktif maupun orang yang terpapar asap rokok dapat mengalami gangguan kesehatan saluran pernapasan.

Ventilasi yang buruk. Sirkulasi udara yang tidak memadai dapat meningkatkan penumpukan partikel pernapasan di dalam ruangan.

Hunian padat. Kontak dekat dalam waktu lama memudahkan penularan infeksi.

Status gizi yang kurang. Kekurangan gizi dapat memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi.

Imunisasi yang belum lengkap. Anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai anjuran dapat kehilangan perlindungan terhadap penyakit tertentu yang berpotensi menimbulkan komplikasi pernapasan.

Faktor-faktor tersebut tidak selalu menyebabkan ISPA secara langsung, tetapi dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi atau memperburuk dampaknya.
 

Cara Mencegah ISPA

Pencegahan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Rutin mencuci tangan. Gunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah batuk, bersin, atau beraktivitas di tempat umum.

Terapkan etika batuk dan bersin. Tutup mulut serta hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam.

Gunakan masker sesuai kebutuhan. Masker dapat membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan, terutama ketika sedang sakit, berada di tempat ramai, atau saat kualitas udara buruk.

Hindari paparan asap rokok. Jangan merokok di dalam rumah atau di sekitar anak dan anggota keluarga lainnya.

Jaga sirkulasi udara. Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang memadai dan bersihkan lingkungan secara rutin.

Penuhi kebutuhan gizi dan istirahat. Konsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, dan lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.

Lengkapi imunisasi. Ikuti jadwal imunisasi yang dianjurkan untuk membantu melindungi diri dan anak dari infeksi tertentu.
 

Kapan Harus ke Dokter?


Batuk, pilek, dan sakit tenggorokan tidak selalu berarti seseorang mengalami ISPA dengan tingkat keparahan yang sama. Karena itu, penting untuk memperhatikan perkembangan gejala dan kondisi tubuh.

Segera periksakan diri jika gejala semakin berat, demam berlangsung lama, atau muncul keluhan yang mengganggu aktivitas. Jangan menunda mencari pertolongan jika terjadi sesak napas, bibir kebiruan, atau penurunan kesadaran.

Khusus bayi, balita, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan lebih awal apabila muncul gejala yang mengkhawatirkan.

Menjaga kebersihan tangan, memperbaiki sirkulasi udara, menghindari asap rokok, dan melengkapi imunisasi merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko ISPA. Dengan mengenali gejalanya sejak dini, masyarakat juga dapat mengambil tindakan yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH