FITNESS & HEALTH

5 Mitos Kanker Payudara yang Masih Dipercaya, Cek Faktanya

A. Firdaus
Rabu 14 Oktober 2026 / 12:13
Ringkasnya gini..
  • Kenali lima mitos kanker payudara beserta fakta medis dari sumber tepercaya.
  • Mitos tertentu juga bisa membuat seseorang mengabaikan gejala yang perlu diperiksa.
  • Pilihan skrining, termasuk mamografi, perlu disesuaikan dengan usia, tingkat risiko, riwayat kesehatan, serta pedoman yang berlaku.
Jakarta: Kanker payudara masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran tentang penyakit ini, berbagai mitos masih beredar, mulai dari anggapan bahwa penggunaan bra berkawat bisa memicu kanker hingga keyakinan bahwa seseorang tidak berisiko jika tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.

Informasi yang keliru dapat membuat seseorang merasa terlalu takut terhadap hal yang sebenarnya tidak terbukti berbahaya. Sebaliknya, mitos tertentu juga bisa membuat seseorang mengabaikan gejala yang perlu diperiksa.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 80 persen kasus kanker payudara terjadi pada perempuan yang tidak memiliki faktor risiko spesifik selain jenis kelamin dan usia. Artinya, tidak adanya riwayat keluarga atau faktor risiko yang diketahui bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit ini.
 

Karena itu, mengenali fakta medis menjadi langkah penting agar masyarakat lebih bijak dalam memahami risiko, mengenali perubahan pada payudara, dan mencari pertolongan ketika diperlukan.

Berikut lima mitos kanker payudara yang perlu diketahui:
 

1. Mitos: Kanker payudara hanya menyerang orang dengan riwayat keluarga


Faktanya: Kanker payudara juga bisa terjadi tanpa riwayat keluarga.

Riwayat kanker payudara pada keluarga, terutama kerabat dekat seperti ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan, memang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini. Mutasi gen yang diwariskan, seperti BRCA1 dan BRCA2, juga dapat meningkatkan risiko secara signifikan.

Namun, tidak semua kasus kanker payudara berkaitan dengan faktor keturunan. Banyak pasien tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut.

National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa usia, faktor genetik, riwayat kesehatan, dan sejumlah faktor lainnya dapat memengaruhi risiko kanker payudara. Sebagian orang yang terdiagnosis bahkan tidak memiliki faktor risiko yang diketahui selain faktor umum seperti bertambahnya usia.

Karena itu, jangan mengabaikan perubahan pada payudara hanya karena tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara. Pemeriksaan tetap penting ketika muncul gejala yang mencurigakan.
 

2. Mitos: Memakai bra berkawat bisa menyebabkan kanker payudara


Faktanya: Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan bra, termasuk bra berkawat, meningkatkan risiko kanker payudara.

Mitos ini sering muncul karena anggapan bahwa kawat bra dapat menekan jaringan payudara atau menghambat aliran cairan limfatik sehingga zat berbahaya menumpuk.

Namun, American Cancer Society (ACS) menyatakan tidak ada bukti ilmiah atau klinis yang menunjukkan bahwa penggunaan bra mengubah risiko seseorang terkena kanker payudara. Hal ini juga mencakup bra berkawat.

Dengan demikian, pemilihan bra sebaiknya didasarkan pada kenyamanan dan ukuran yang sesuai, bukan kekhawatiran bahwa model bra tertentu dapat menyebabkan kanker.

Meski begitu, apabila muncul benjolan atau perubahan pada payudara, jangan langsung mengaitkannya dengan penggunaan bra. Kondisi tersebut perlu dinilai berdasarkan pemeriksaan medis.
 

3. Mitos: Deodoran dan antiperspiran bisa memicu kanker payudara


Faktanya: Bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan hubungan yang meyakinkan antara penggunaan deodoran atau antiperspiran dan kanker payudara.

Kekhawatiran ini biasanya berkaitan dengan kandungan aluminium dalam antiperspiran. Ada anggapan bahwa bahan tersebut dapat diserap melalui kulit ketiak dan memicu perubahan pada sel payudara.

Namun, ACS menjelaskan bahwa penelitian yang tersedia belum menunjukkan hubungan yang meyakinkan antara penggunaan antiperspiran maupun deodoran dan peningkatan risiko kanker payudara.
 
deodoran
Ada anggapan bahwa bahan tersebut dapat diserap melalui kulit ketiak dan memicu perubahan pada sel payudara.Ilustrasi Magnific


Meski penelitian mengenai berbagai paparan bahan kimia terus berkembang, belum ada dasar ilmiah kuat untuk menyimpulkan bahwa penggunaan produk tersebut menyebabkan kanker payudara.

Perlu diketahui, deodoran berfungsi membantu mengendalikan bau badan, sedangkan antiperspiran membantu mengurangi produksi keringat. Keduanya tidak perlu dihindari semata-mata karena mitos kanker payudara.
 

4. Mitos: Kalau payudara tidak terasa sakit, berarti tidak ada kanker


Faktanya: Kanker payudara dapat muncul tanpa rasa sakit.

Salah satu tanda yang dapat ditemukan pada kanker payudara adalah benjolan atau penebalan jaringan yang sering kali tidak menimbulkan nyeri. Karena itu, tidak adanya rasa sakit bukan alasan untuk mengabaikan perubahan yang tidak biasa.

WHO menyebutkan sejumlah gejala yang perlu diperhatikan, antara lain benjolan pada payudara, perubahan ukuran atau bentuk payudara, perubahan kulit seperti kemerahan atau cekungan, perubahan pada puting, serta keluarnya cairan yang tidak biasa atau berdarah dari puting.

Meski demikian, sebagian besar benjolan payudara bukan kanker. Benjolan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi jinak. Untuk memastikan penyebabnya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan.

Jika menemukan benjolan baru atau perubahan yang menetap pada payudara, segera konsultasikan dengan dokter meskipun tidak terasa sakit. Diagnosis lebih dini dapat membantu mempercepat penanganan yang sesuai.
 

5. Mitos: Kanker payudara hanya menyerang perempuan


Faktanya: Laki-laki juga bisa mengalami kanker payudara, meskipun kasusnya jauh lebih jarang.

Kanker payudara memang jauh lebih sering terjadi pada perempuan. Namun, laki-laki juga memiliki jaringan payudara yang memungkinkan penyakit ini berkembang.

WHO memperkirakan sekitar 0,5–1 persen kasus kanker payudara terjadi pada laki-laki. Risiko dapat meningkat pada kondisi tertentu, misalnya riwayat keluarga, mutasi gen yang diwariskan, pertambahan usia, serta beberapa kondisi medis dan hormonal.

Tanda yang perlu diperhatikan antara lain benjolan di area payudara, perubahan kulit, puting yang tertarik ke dalam, atau keluarnya cairan dari puting.

Karena kanker payudara pada laki-laki relatif jarang, perubahan pada area tersebut terkadang tidak segera disadari sebagai gejala yang perlu diperiksa. Padahal, laki-laki juga perlu mencari pertolongan medis apabila menemukan perubahan yang mencurigakan.
 

Jangan Terjebak Mitos, Kenali Perubahan Payudara


Memahami fakta tentang kanker payudara bukan berarti perlu merasa takut berlebihan. Sebaliknya, pengetahuan yang benar dapat membantu seseorang mengenali faktor risiko dan mengambil langkah yang tepat.

WHO menekankan pentingnya diagnosis dini, yakni mengenali tanda dan gejala, melakukan pemeriksaan medis, serta memperoleh diagnosis dan penanganan tanpa penundaan yang tidak perlu.

Perempuan dapat membiasakan diri mengenali kondisi normal payudaranya agar lebih mudah menyadari perubahan yang tidak biasa. Pemeriksaan payudara sendiri dapat membantu meningkatkan kesadaran, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan klinis atau skrining yang direkomendasikan tenaga kesehatan.

Pilihan skrining, termasuk mamografi, perlu disesuaikan dengan usia, tingkat risiko, riwayat kesehatan, serta pedoman yang berlaku.

Pada akhirnya, jangan langsung percaya pada informasi kesehatan yang beredar tanpa memeriksa sumbernya. Mengenali fakta, memperhatikan perubahan tubuh, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menghadapi kanker payudara secara lebih tepat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH