FITNESS & HEALTH
Lama Pengobatan Lepra yang Menyebabkan Lagoftalmus Paralisis
Kumara Anggita
Rabu 11 Agustus 2021 / 14:10
Jakarta: Hingga saat ini penyakit Lepra masih menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Secara global, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan penderita lepra terbanyak, setelah India dan Brasil.
Penyakit ini bisa menimbulkan kecacatan yang tentunya tak diinginkan oleh siapapun. Salah satu dampak dari Lepra adalah lagoftalmus paralisis.
Menurut Dr. dr. Yunia Irawati, Sp.M(K) lagoftalmus paralisis menggambarkan ketidakmampuan kelopak mata untuk menutup secara sempurna. Lagoftalmus paralisis yang tidak segera ditangani menyebabkan kerusakan sel goblet pada bagian konjungtiva (lapisan tipis pelindung area putih mata/sklera).
Apabila permukaan konjungtiva terus menerus terekspos atau terbuka, maka terjadilah ketidakstabilan lapisan air mata yang memicu mata kering atau dry eyes. Kondisi ini memunculkan risiko infeksi yang secara berkelanjutan bisa berdampak kebutaan.
Lebih lanjut, Dr. Yunia mengatakan, meski prevalensinya sangat bervariasi, tetapi lagoftalmus paralisis berpotensi terjadi pada penderita dengan beberapa faktor risiko. Seperti berusia lebih dari 15 tahun saat terdiagnosis Lepra, menderita lepra lebih dari setahun, dan mengalami kelelahan fisik.
Dr. Yunia menekankan bahwa, dampak buruk seperti kebutaan bisa dicegah dengan melakukan pengobatan yang rutin. Prosesnya memakan waktu sekitar sembilan bulan hingga satu setengah tahun.
“Pengobatan bisa berlangsung hingga 1,5 tahun. Minimal 9 bulan. Memang agak lama, dia harus minum obat secara teratur,” jelas dr. Yunia selaku Head of Trauma Center sub Spesialis Divisi Plastik dan Rekonstruksi Mata JEC Eye Hospitals and Clinics, sekaligus staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM.
“Bila dilakukan dengan baik dan lebih awal tentu akan mengurangi angka kecacatan,” tambahnya.
Pengobatan yang umum dipakai adalah gold weight implant. Gold weight implant telah dikenal sejak 1958 sebagai teknik dengan tingkat kesuksesan tinggi untuk penanganan lagoftalmus paralisis.
Teknik ini menjahitkan implan emas pada bagian kelopak mata atas, sehingga penderita Lepra dengan lagoftalmus paralisis bisa kembali menutupkan matanya secara pasif. Terbantu oleh beratnya implan emas dan gaya gravitasi.
Meski demikian, biaya tindakan metode ini cenderung mahal dan masih bisa berdampak komplikasi setelah pemasangan implan, seperti inflamasi, alergi, ekstrusi, migrasi, ptosis, dan astigmatisme. Pada sekelompok orang, penggunaan emas sebagai bahan implan juga terhalangi tradisi atau keyakinan.
Dalam penelitiannya, Dr. dr. Yunia Irawati, Sp.M(K) membandingkan metode gold weight implant dengan modifikasi tarsorafi yang menggabungkan teknik tarsorafi lateral permanen dan levator recess, serta teknik kantopeksi/lateral tarsal strip (LTS) dan kantoplasti. Penelitian berlangsung selama Oktober 2018-Mei 2020 dengan melibatkan 19 subjek yang terdiri dari 27 mata.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa modifikasi tarsorafi memberi tingkat efektivitas yang sama dengan teknik gold weight implant, sebagai tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis pada penderita Lepra.
Durasi atau lama waktu tindakan yang dibutuhkan metode modifikasi tarsorafi juga sama efisiennya dengan teknik gold weight implant. Namun, modifikasi tarsorafi lebih unggul dari segi efisiensi biaya dan risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
“Bagi penderita lepra yang sebagian besar berasal dari masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dan pekerjaan yang tidak tetap, tindakan penanganan melalui gold weight implant tentunya membutuhkan pendanaan yang memberatkan. Dengan pengembangan lebih lanjut, modifikasi tarsorafi dapat menjadi alternatif tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis untuk menjangkau penderita lepra dari kalangan yang lebih membutuhkan,” imbuh Dr. dr. Yunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Penyakit ini bisa menimbulkan kecacatan yang tentunya tak diinginkan oleh siapapun. Salah satu dampak dari Lepra adalah lagoftalmus paralisis.
Menurut Dr. dr. Yunia Irawati, Sp.M(K) lagoftalmus paralisis menggambarkan ketidakmampuan kelopak mata untuk menutup secara sempurna. Lagoftalmus paralisis yang tidak segera ditangani menyebabkan kerusakan sel goblet pada bagian konjungtiva (lapisan tipis pelindung area putih mata/sklera).
Apabila permukaan konjungtiva terus menerus terekspos atau terbuka, maka terjadilah ketidakstabilan lapisan air mata yang memicu mata kering atau dry eyes. Kondisi ini memunculkan risiko infeksi yang secara berkelanjutan bisa berdampak kebutaan.
Lebih lanjut, Dr. Yunia mengatakan, meski prevalensinya sangat bervariasi, tetapi lagoftalmus paralisis berpotensi terjadi pada penderita dengan beberapa faktor risiko. Seperti berusia lebih dari 15 tahun saat terdiagnosis Lepra, menderita lepra lebih dari setahun, dan mengalami kelelahan fisik.
Dr. Yunia menekankan bahwa, dampak buruk seperti kebutaan bisa dicegah dengan melakukan pengobatan yang rutin. Prosesnya memakan waktu sekitar sembilan bulan hingga satu setengah tahun.
“Pengobatan bisa berlangsung hingga 1,5 tahun. Minimal 9 bulan. Memang agak lama, dia harus minum obat secara teratur,” jelas dr. Yunia selaku Head of Trauma Center sub Spesialis Divisi Plastik dan Rekonstruksi Mata JEC Eye Hospitals and Clinics, sekaligus staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM.
“Bila dilakukan dengan baik dan lebih awal tentu akan mengurangi angka kecacatan,” tambahnya.
Pengobatan Lepra
Pengobatan yang umum dipakai adalah gold weight implant. Gold weight implant telah dikenal sejak 1958 sebagai teknik dengan tingkat kesuksesan tinggi untuk penanganan lagoftalmus paralisis.
Teknik ini menjahitkan implan emas pada bagian kelopak mata atas, sehingga penderita Lepra dengan lagoftalmus paralisis bisa kembali menutupkan matanya secara pasif. Terbantu oleh beratnya implan emas dan gaya gravitasi.
Meski demikian, biaya tindakan metode ini cenderung mahal dan masih bisa berdampak komplikasi setelah pemasangan implan, seperti inflamasi, alergi, ekstrusi, migrasi, ptosis, dan astigmatisme. Pada sekelompok orang, penggunaan emas sebagai bahan implan juga terhalangi tradisi atau keyakinan.
Dalam penelitiannya, Dr. dr. Yunia Irawati, Sp.M(K) membandingkan metode gold weight implant dengan modifikasi tarsorafi yang menggabungkan teknik tarsorafi lateral permanen dan levator recess, serta teknik kantopeksi/lateral tarsal strip (LTS) dan kantoplasti. Penelitian berlangsung selama Oktober 2018-Mei 2020 dengan melibatkan 19 subjek yang terdiri dari 27 mata.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa modifikasi tarsorafi memberi tingkat efektivitas yang sama dengan teknik gold weight implant, sebagai tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis pada penderita Lepra.
Durasi atau lama waktu tindakan yang dibutuhkan metode modifikasi tarsorafi juga sama efisiennya dengan teknik gold weight implant. Namun, modifikasi tarsorafi lebih unggul dari segi efisiensi biaya dan risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
“Bagi penderita lepra yang sebagian besar berasal dari masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dan pekerjaan yang tidak tetap, tindakan penanganan melalui gold weight implant tentunya membutuhkan pendanaan yang memberatkan. Dengan pengembangan lebih lanjut, modifikasi tarsorafi dapat menjadi alternatif tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis untuk menjangkau penderita lepra dari kalangan yang lebih membutuhkan,” imbuh Dr. dr. Yunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)