FITNESS & HEALTH
Ansietas Jadi Keluhan Mental Paling Banyak
A. Firdaus
Jumat 09 Oktober 2026 / 10:11
- Laporan Halodoc 2026 mencatat konsultasi kesehatan mental meningkat. Anak muda menjadi kelompok dominan yang berani mencari bantuan profesional.
- 1 dari 15 konsultasi kesehatan di platform saat ini berkaitan dengan kesehatan mental, atau meningkat 8,1 persen dibandingkan 2022.
- Gangguan ansietas atau kecemasan menjadi diagnosis yang paling banyak ditemukan.
Jakarta: Kesehatan mental semakin menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Bukan hanya soal bagaimana seseorang menghadapi tekanan sehari-hari, tetapi juga keberanian untuk menyadari ketika kondisi mulai mengganggu kehidupan dan membutuhkan bantuan profesional.
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober menjadi salah satu pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa saja. Di tengah perhatian yang semakin besar tersebut, Halodoc merilis Indonesia Health Insights Report bertajuk “Navigating Indonesia's Mental Health Landscape 2026”, yang memotret pola masyarakat dalam mencari bantuan kesehatan mental melalui layanan kesehatan digital.
Laporan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan konsultasi kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir. Data internal Halodoc mencatat sekitar 1 dari 15 konsultasi kesehatan di platform saat ini berkaitan dengan kesehatan mental, atau meningkat 8,1 persen dibandingkan 2022.
Menariknya, hampir dua pertiga dari peningkatan tersebut berasal dari pengguna yang baru pertama kali mencoba konsultasi. Temuan ini mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang mulai berani mengambil langkah awal untuk mencari bantuan profesional.
Kelompok usia produktif menjadi pengguna yang paling banyak memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan mental di Halodoc. Sebanyak 90,7 persen konsultasi dilakukan pengguna berusia 18–34 tahun, sementara 83,3 persen di antaranya merupakan perempuan.
Waktu konsultasi juga menunjukkan pola tersendiri. Aktivitas konsultasi kesehatan mental tercatat memuncak pada malam hari, terutama setelah pukul 21.00 WIB.
Telekonsultasi menjadi salah satu pilihan karena memungkinkan masyarakat mengakses tenaga kesehatan tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. Bagi sebagian orang, kanal digital juga dapat menjadi langkah awal yang terasa lebih mudah ketika masih ragu atau belum nyaman mencari bantuan secara langsung.
“Memahami situasi hari ini, Halodoc turut menghadirkan perspektif dari sisi layanan kesehatan digital melalui perilisan Indonesia Health Insights Report untuk memberikan wawasan, edukasi, dan laporan berbasis data terpercaya (data-led) yang dapat dijadikan referensi bagi berbagai pihak,” kata Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria.
Menurut Fibriyani, laporan tersebut diharapkan dapat membantu memetakan pola akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mencari bantuan ketika dibutuhkan.
Dari berbagai kondisi yang dikonsultasikan, gangguan ansietas atau kecemasan menjadi diagnosis yang paling banyak ditemukan dalam konsultasi kesehatan mental di Halodoc sepanjang semester pertama 2026.
Porsinya mencapai 31,6 persen dari total konsultasi kesehatan mental, dengan pertumbuhan 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kecemasan tidak selalu muncul dalam bentuk dan latar belakang yang sama. Tantangan psikologis yang menyertai kondisi tersebut dapat berbeda berdasarkan kelompok usia.
Pada anak, misalnya, persoalan dapat berkaitan dengan tumbuh kembang. Remaja menghadapi tantangan seperti tekanan akademik dan keluarga. Sementara pada pria usia produktif, konsultasi dapat berkaitan dengan persoalan kesehatan seksual.
Pada perempuan usia produktif, kecemasan dapat muncul bersamaan dengan depresi maupun persoalan relasi. Sementara pada kelompok lanjut usia, perhatian dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif. Dalam kelompok ini, konsultasi juga tidak jarang dilakukan oleh keluarga atau caregiver yang mendampingi lansia.
Psikolog Mitra Halodoc, Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., mengatakan angka-angka tersebut pada dasarnya menggambarkan cerita masyarakat yang mulai lebih terbuka untuk mencari bantuan.
“Di balik setiap angka dalam laporan ini, ada cerita nyata dari masyarakat yang akhirnya berani mencari bantuan profesional, di mana mereka semakin terbuka di beberapa tahun terakhir untuk berkonsultasi,” ujar Miki.
Ia menegaskan bahwa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukan berarti seseorang gagal menghadapi persoalan hidup.
“Justru, semakin cepat konsultasi dengan tim profesional, semakin ringan proses penyembuhannya,” katanya.
Perhatian terhadap kesehatan mental juga mulai terlihat dalam manfaat kesehatan yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
Halodoc mencatat porsi polis employee benefit yang mencakup layanan kesehatan mental meningkat dari 2,3 persen pada 2022 menjadi 5,5 persen pada 2026.
Meski cakupannya meningkat, pemanfaatan layanan tersebut masih relatif rendah. Sepanjang semester pertama 2026, hanya sekitar 1 dari 400 karyawan yang tercatat memanfaatkan manfaat kesehatan mental tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan manfaat belum otomatis membuat karyawan menggunakannya. Edukasi dan komunikasi mengenai manfaat yang tersedia menjadi bagian penting agar karyawan mengetahui kapan dan bagaimana layanan tersebut dapat digunakan.
Di tingkat individu, Miki menyarankan masyarakat mulai mengenali perubahan yang terjadi pada diri sendiri sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengenali apa yang sedang dirasakan, menjaga kebutuhan dasar tubuh, tetap terhubung dengan orang lain, serta meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang bermakna meski sederhana.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda ketika kondisi mental mulai tidak sehat dan tidak menunda mencari bantuan profesional apabila membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Untuk memperluas akses, Halodoc menyatakan telah menyediakan sejumlah layanan yang dapat digunakan masyarakat untuk mencari bantuan terkait kesehatan mental.
Salah satunya adalah HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), asisten digital berbasis AI yang dapat membantu pengguna menavigasi kebutuhan awal terkait kesehatan mental secara gratis melalui aplikasi, situs web, maupun WhatsApp.
Namun, HILDA diposisikan sebagai pendamping awal dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga medis profesional.
Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur Chat dengan Dokter untuk berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater berlisensi selama 24 jam. Halodoc turut menghadirkan fitur “Dokter dan Psikolog Pilihan” untuk membantu pengguna memilih tenaga profesional sebelum memulai konsultasi.
Untuk kebutuhan kesehatan lainnya, ekosistem tersebut juga mencakup Toko Kesehatan, Klinik Digital HaloIntima untuk kebutuhan kesehatan seksual, serta Digital Cashless Outpatient (DCO) yang terhubung dengan asuransi maupun manfaat kesehatan karyawan.
Fibriyani mengatakan laporan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai gambaran mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat, tetapi juga mendorong lebih banyak orang untuk berani mengambil langkah ketika membutuhkan bantuan.
“Kami berharap ekosistem layanan kesehatan digital yang kami hadirkan bisa membantu lebih banyak masyarakat Indonesia dan membuat mereka merasa tidak sendirian saat menghadapi masa-masa berat,” tutupnya.
(FIR)
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober menjadi salah satu pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa saja. Di tengah perhatian yang semakin besar tersebut, Halodoc merilis Indonesia Health Insights Report bertajuk “Navigating Indonesia's Mental Health Landscape 2026”, yang memotret pola masyarakat dalam mencari bantuan kesehatan mental melalui layanan kesehatan digital.
Laporan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan konsultasi kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir. Data internal Halodoc mencatat sekitar 1 dari 15 konsultasi kesehatan di platform saat ini berkaitan dengan kesehatan mental, atau meningkat 8,1 persen dibandingkan 2022.
Menariknya, hampir dua pertiga dari peningkatan tersebut berasal dari pengguna yang baru pertama kali mencoba konsultasi. Temuan ini mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang mulai berani mengambil langkah awal untuk mencari bantuan profesional.
Anak Muda Mendominasi Konsultasi
Kelompok usia produktif menjadi pengguna yang paling banyak memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan mental di Halodoc. Sebanyak 90,7 persen konsultasi dilakukan pengguna berusia 18–34 tahun, sementara 83,3 persen di antaranya merupakan perempuan.
Waktu konsultasi juga menunjukkan pola tersendiri. Aktivitas konsultasi kesehatan mental tercatat memuncak pada malam hari, terutama setelah pukul 21.00 WIB.
Telekonsultasi menjadi salah satu pilihan karena memungkinkan masyarakat mengakses tenaga kesehatan tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. Bagi sebagian orang, kanal digital juga dapat menjadi langkah awal yang terasa lebih mudah ketika masih ragu atau belum nyaman mencari bantuan secara langsung.
“Memahami situasi hari ini, Halodoc turut menghadirkan perspektif dari sisi layanan kesehatan digital melalui perilisan Indonesia Health Insights Report untuk memberikan wawasan, edukasi, dan laporan berbasis data terpercaya (data-led) yang dapat dijadikan referensi bagi berbagai pihak,” kata Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria.
Menurut Fibriyani, laporan tersebut diharapkan dapat membantu memetakan pola akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mencari bantuan ketika dibutuhkan.
Ansietas Jadi Diagnosis Terbanyak
Dari berbagai kondisi yang dikonsultasikan, gangguan ansietas atau kecemasan menjadi diagnosis yang paling banyak ditemukan dalam konsultasi kesehatan mental di Halodoc sepanjang semester pertama 2026.
Porsinya mencapai 31,6 persen dari total konsultasi kesehatan mental, dengan pertumbuhan 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kecemasan tidak selalu muncul dalam bentuk dan latar belakang yang sama. Tantangan psikologis yang menyertai kondisi tersebut dapat berbeda berdasarkan kelompok usia.
Pada anak, misalnya, persoalan dapat berkaitan dengan tumbuh kembang. Remaja menghadapi tantangan seperti tekanan akademik dan keluarga. Sementara pada pria usia produktif, konsultasi dapat berkaitan dengan persoalan kesehatan seksual.
Pada perempuan usia produktif, kecemasan dapat muncul bersamaan dengan depresi maupun persoalan relasi. Sementara pada kelompok lanjut usia, perhatian dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif. Dalam kelompok ini, konsultasi juga tidak jarang dilakukan oleh keluarga atau caregiver yang mendampingi lansia.
[Ki-Ka] Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Mitra Psikolog Halodoc dan Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc dalam diskusi laporan kesehatan mental Indonesia.Dok. Ist
Psikolog Mitra Halodoc, Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., mengatakan angka-angka tersebut pada dasarnya menggambarkan cerita masyarakat yang mulai lebih terbuka untuk mencari bantuan.
“Di balik setiap angka dalam laporan ini, ada cerita nyata dari masyarakat yang akhirnya berani mencari bantuan profesional, di mana mereka semakin terbuka di beberapa tahun terakhir untuk berkonsultasi,” ujar Miki.
Ia menegaskan bahwa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukan berarti seseorang gagal menghadapi persoalan hidup.
“Justru, semakin cepat konsultasi dengan tim profesional, semakin ringan proses penyembuhannya,” katanya.
Manfaat Kesehatan Mental dari Perusahaan Belum Banyak Dimanfaatkan
Perhatian terhadap kesehatan mental juga mulai terlihat dalam manfaat kesehatan yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
Halodoc mencatat porsi polis employee benefit yang mencakup layanan kesehatan mental meningkat dari 2,3 persen pada 2022 menjadi 5,5 persen pada 2026.
Meski cakupannya meningkat, pemanfaatan layanan tersebut masih relatif rendah. Sepanjang semester pertama 2026, hanya sekitar 1 dari 400 karyawan yang tercatat memanfaatkan manfaat kesehatan mental tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan manfaat belum otomatis membuat karyawan menggunakannya. Edukasi dan komunikasi mengenai manfaat yang tersedia menjadi bagian penting agar karyawan mengetahui kapan dan bagaimana layanan tersebut dapat digunakan.
Di tingkat individu, Miki menyarankan masyarakat mulai mengenali perubahan yang terjadi pada diri sendiri sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengenali apa yang sedang dirasakan, menjaga kebutuhan dasar tubuh, tetap terhubung dengan orang lain, serta meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang bermakna meski sederhana.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda ketika kondisi mental mulai tidak sehat dan tidak menunda mencari bantuan profesional apabila membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Mencari Bantuan Tidak Harus Menunggu Krisis
Untuk memperluas akses, Halodoc menyatakan telah menyediakan sejumlah layanan yang dapat digunakan masyarakat untuk mencari bantuan terkait kesehatan mental.
Salah satunya adalah HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), asisten digital berbasis AI yang dapat membantu pengguna menavigasi kebutuhan awal terkait kesehatan mental secara gratis melalui aplikasi, situs web, maupun WhatsApp.
Namun, HILDA diposisikan sebagai pendamping awal dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga medis profesional.
Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur Chat dengan Dokter untuk berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater berlisensi selama 24 jam. Halodoc turut menghadirkan fitur “Dokter dan Psikolog Pilihan” untuk membantu pengguna memilih tenaga profesional sebelum memulai konsultasi.
Untuk kebutuhan kesehatan lainnya, ekosistem tersebut juga mencakup Toko Kesehatan, Klinik Digital HaloIntima untuk kebutuhan kesehatan seksual, serta Digital Cashless Outpatient (DCO) yang terhubung dengan asuransi maupun manfaat kesehatan karyawan.
Fibriyani mengatakan laporan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai gambaran mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat, tetapi juga mendorong lebih banyak orang untuk berani mengambil langkah ketika membutuhkan bantuan.
“Kami berharap ekosistem layanan kesehatan digital yang kami hadirkan bisa membantu lebih banyak masyarakat Indonesia dan membuat mereka merasa tidak sendirian saat menghadapi masa-masa berat,” tutupnya.
(FIR)