Gen Z Belum Siap Nikah, Apa Kata BKKBN?
- Kesiapan mental dan finansial menjadi pertimbangan anak muda sebelum menikah.
- BKKBN menghormati pilihan Gen Z, tetapi mengingatkan pentingnya kesehatan reproduksi.
- Kesiapan berkeluarga perlu dipertimbangkan, bukan sekadar memenuhi batas usia pernikahan.
Jakarta: Menikah nggak selalu jadi prioritas utama Gen Z. Sebagian anak muda memilih fokus membangun karier, menata keuangan, dan mempersiapkan mental sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Pertanyaannya, bagaimana pemerintah melihat fenomena ini?
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menanggapi isu tersebut saat berkunjung ke kantor Metro TV di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 27 Oktober 2026.
Menurutnya, pilihan untuk menunda pernikahan perlu dihormati. Namun, anak muda juga perlu memahami pentingnya kesehatan reproduksi ketika merencanakan kehidupan berkeluarga.
BKKBN hormati pilihan Gen Z
Keputusan untuk menikah atau menundanya merupakan hal yang perlu dipertimbangkan secara matang. Bagi anak muda yang merasa belum siap secara finansial maupun mental, pernikahan memang bisa menjadi keputusan besar yang membutuhkan banyak persiapan.
Wihaji menyampaikan bahwa pemerintah menghormati pilihan tersebut. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa ada aspek kesehatan reproduksi yang perlu diperhatikan ketika seseorang merencanakan pernikahan dan kehamilan.
"Kita sebagai Kementerian menghormati pilihan itu, tetapi kita mengingatkan bahwa ada usia-usia tertentu yang di situ ada batasannya tentang kesehatan reproduksi," jelas Wihaji.
Artinya, pembahasan mengenai pernikahan nggak hanya berkaitan dengan kesiapan finansial atau keinginan pribadi. Pemahaman tentang kesehatan reproduksi juga penting agar pasangan bisa merencanakan keluarga dengan lebih baik.
Berapa usia ideal untuk menikah?
Dalam anjuran BKKBN mengenai kesiapan berkeluarga, usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 menetapkan batas minimal usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun.
Namun, usia bukan satu-satunya indikator kesiapan menikah. Kondisi kesehatan, kematangan emosional, komunikasi dengan pasangan, serta kemampuan menghadapi tanggung jawab rumah tangga juga perlu dipertimbangkan.
Bagi Gen Z yang masih ragu untuk menikah, nggak perlu merasa harus mengikuti timeline orang lain. Yang penting, keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang dan pemahaman tentang tanggung jawab berkeluarga.
Wihaji juga menyampaikan pesan agar anak muda nggak terlalu khawatir menghadapi dinamika pernikahan.
"Percaya sama saya, bahwa semuanya kalau dikerjakan dengan niat baik yang namanya menikah dengan berbagai dinamikanya, bisa tanya kepada senior-senior, insyaallah akan baik-baik saja," pesannya.
Desi I.
(TIN)