FITNESS & HEALTH
Dua Perempuan Indonesia Raih Penghargaan Inovasi Permasalahan Pandemi
Kumara Anggita
Kamis 26 November 2020 / 17:04
Jakarta: Di tengah pandemi yang berat ini, ada kabar baik yang masih bisa kita syukuri. Dua ilmuwan perempuan muda Indonesia baru saja raih penghargaan L’Oréal-UNESCO for Women in Science 2020 kembangkan inovasi hadapi permasalahan pandemi. Kedua ilmuwan tersebut adalah Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc dan Latifah Nurahmi, MSc, PhD.
Dunia sains merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan termasuk di masa pandemi ini. Dan, perempuan terus didorong untuk berkontribusi dalam pengembangannya.
“Dunia sains tidak pernah berhenti, bahkan di saat dunia dilanda pandemi sekalipun, sains justru dirasa semakin penting perannya dalam berinovasi, mencari solusi akan berbagai tantangan dunia baik masa sekarang maupun masa depan," jelas Melanie Masriel, Communications, Public Affairs and Sustainability Director, L’Oréal Indonesia.
"Demikian juga dengan L’Oréal yang tidak berhenti memberikan dukungan dan apresiasi tinggi kepada ilmuwan perempuan Indonesia melalui program sains kami yang sudah berjalan selama 17 tahun. Dengan landasan dunia butuh sains, dan sains membutuhkan perempuan program L’Oréal-UNESCO For Women in Science merupakan inti dari apa yang kami percayai sebagai perusahaan kecantikan berbasis sains,” sambungnya.
Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan bahwa dua ilmuwan telah memberikan banyak sumbangan mulai dari membantu permasalahan covid-19, hingga masalah medis lainnya.
“Dua ilmuwan yang tahun ini dianugerahkan fellowship L’Oréal-UNESCO FWIS, tidak hanya berfokus pada permasalahan yang sedang terjadi, namun juga memikirkan berbagai tantangan lain di dunia medis," ujar Prof Arief.
"Dari dampak lanjutan pada pasien covid-19, hingga pemanfaatan robotik dalam tindakan rehabilitasi dan operasi. Pada hari ini kita tidak hanya merayakan kontribusi dua ilmuwan hebat di dunia sains, namun juga kontribusi sains yang tidak pernah berhenti dalam menangani berbagai tantangan dunia, terutama di saat ini, dalam hal medis,” paparnya.
.jpg)
Pemenang L’Oréal-UNESCO for Women in Science 2020
Diketuai oleh Prof. Dr. Endang Sukara, Dewan Juri telah menetapkan dua pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020 yaitu:
Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc.
Dr. Anggia membawa nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan karyanya yang berjudul Deteksi Koinfeksi Bakteri pada Pasien COVID-19 melalui Metode Sekuensing dari Sampel Swab. Berdasarkan ceritanya, Dr. Anggia Prasetyoputri memiliki ketertarikan dalam dunia sains sejak dahulu, dilatar belakangi oleh sang ibunda yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan lingkungan.
Dr. Anggia menyadari bahwa ada kemungkinan pasien covid-19 terjangkit bakteri dan virus lain selain SARS-CoV-2. Adanya koinfeksi atau infeksi simultan oleh bakteri dapat terjadi karena bakteri memiliki sifat oportunis yang bisa masuk saat tubuh sedang lemah, dan diketahui dapat memperparah kondisi sebagian pasien covid-19.
Dengan metode pengurutan basa nukleotida atau sekuensing dari sampel swab, ia berharap dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi ada tidaknya bakteri patogen di dalam tubuh pasien covid-19 dalam waktu singkat, dan juga dapat membantu memberikan informasi kepada dokter untuk memberikan antibiotik yang tepat kepada pasien.
Latifah Nurahmi, MSc, PhD,
Lathifah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember juga memiliki penelitian menarik yang perlu kamu ketahui. Karyanya adalah Robot Operasi Reduksi Fraktur Sebagai Teknik Bedah Invasif Minimal.
Berdasarkan ceritanya, Latifah terinspirasi dari kedua orang tua yang berkarier di bidang akademis. Ia memilih karier sebagai peneliti dan pengajar.
Melalui pendidikan S3 nya di bidang Robotika, peneliti kelahiran Solo ini semakin menyadari betapa luasnya dunia sains, yang mendorongnya untuk semakin menekuni ilmu di bidang mesin.
Dalam pengembangannya, Latifah melihat potensi yang besar di bidang kedokteran. Di mana pemanfaatan robot dalam mengurangi risiko operasi masih belum cukup dimanfaatkan.
Pengembangan penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi dunia kedokteran Indonesia, terutama di situasi pandemi saat ini. Keterlibatan teknologi robotika di dunia medis berperan besar untuk mengurangi risiko kontak fisik antara pasien dan dokter.
Dilangsungkan sejak tahun 2004, L’Oréal-UNESCO For Women in Science mempunyai misi untuk mengakui, menyemangati, dan mendukung wanita di bidang sains. Sehingga semangat perempuan di bidang sains meningkat.
Program ini telah memberikan fellowship kepada 59 ilmuwan perempuan di Indonesia. Kedua pemenang masing-masing akan menerima pendanaan sebesar 100 juta rupiah dari L’Oréal Indonesia untuk mewujudkan penelitiannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dunia sains merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan termasuk di masa pandemi ini. Dan, perempuan terus didorong untuk berkontribusi dalam pengembangannya.
“Dunia sains tidak pernah berhenti, bahkan di saat dunia dilanda pandemi sekalipun, sains justru dirasa semakin penting perannya dalam berinovasi, mencari solusi akan berbagai tantangan dunia baik masa sekarang maupun masa depan," jelas Melanie Masriel, Communications, Public Affairs and Sustainability Director, L’Oréal Indonesia.
"Demikian juga dengan L’Oréal yang tidak berhenti memberikan dukungan dan apresiasi tinggi kepada ilmuwan perempuan Indonesia melalui program sains kami yang sudah berjalan selama 17 tahun. Dengan landasan dunia butuh sains, dan sains membutuhkan perempuan program L’Oréal-UNESCO For Women in Science merupakan inti dari apa yang kami percayai sebagai perusahaan kecantikan berbasis sains,” sambungnya.
Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan bahwa dua ilmuwan telah memberikan banyak sumbangan mulai dari membantu permasalahan covid-19, hingga masalah medis lainnya.
“Dua ilmuwan yang tahun ini dianugerahkan fellowship L’Oréal-UNESCO FWIS, tidak hanya berfokus pada permasalahan yang sedang terjadi, namun juga memikirkan berbagai tantangan lain di dunia medis," ujar Prof Arief.
"Dari dampak lanjutan pada pasien covid-19, hingga pemanfaatan robotik dalam tindakan rehabilitasi dan operasi. Pada hari ini kita tidak hanya merayakan kontribusi dua ilmuwan hebat di dunia sains, namun juga kontribusi sains yang tidak pernah berhenti dalam menangani berbagai tantangan dunia, terutama di saat ini, dalam hal medis,” paparnya.
.jpg)
Pemenang L’Oréal-UNESCO for Women in Science 2020
Diketuai oleh Prof. Dr. Endang Sukara, Dewan Juri telah menetapkan dua pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020 yaitu:
Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc.
Dr. Anggia membawa nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan karyanya yang berjudul Deteksi Koinfeksi Bakteri pada Pasien COVID-19 melalui Metode Sekuensing dari Sampel Swab. Berdasarkan ceritanya, Dr. Anggia Prasetyoputri memiliki ketertarikan dalam dunia sains sejak dahulu, dilatar belakangi oleh sang ibunda yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan lingkungan.
Dr. Anggia menyadari bahwa ada kemungkinan pasien covid-19 terjangkit bakteri dan virus lain selain SARS-CoV-2. Adanya koinfeksi atau infeksi simultan oleh bakteri dapat terjadi karena bakteri memiliki sifat oportunis yang bisa masuk saat tubuh sedang lemah, dan diketahui dapat memperparah kondisi sebagian pasien covid-19.
Dengan metode pengurutan basa nukleotida atau sekuensing dari sampel swab, ia berharap dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi ada tidaknya bakteri patogen di dalam tubuh pasien covid-19 dalam waktu singkat, dan juga dapat membantu memberikan informasi kepada dokter untuk memberikan antibiotik yang tepat kepada pasien.
Latifah Nurahmi, MSc, PhD,
Lathifah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember juga memiliki penelitian menarik yang perlu kamu ketahui. Karyanya adalah Robot Operasi Reduksi Fraktur Sebagai Teknik Bedah Invasif Minimal.
Berdasarkan ceritanya, Latifah terinspirasi dari kedua orang tua yang berkarier di bidang akademis. Ia memilih karier sebagai peneliti dan pengajar.
Melalui pendidikan S3 nya di bidang Robotika, peneliti kelahiran Solo ini semakin menyadari betapa luasnya dunia sains, yang mendorongnya untuk semakin menekuni ilmu di bidang mesin.
Dalam pengembangannya, Latifah melihat potensi yang besar di bidang kedokteran. Di mana pemanfaatan robot dalam mengurangi risiko operasi masih belum cukup dimanfaatkan.
Pengembangan penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi dunia kedokteran Indonesia, terutama di situasi pandemi saat ini. Keterlibatan teknologi robotika di dunia medis berperan besar untuk mengurangi risiko kontak fisik antara pasien dan dokter.
Dilangsungkan sejak tahun 2004, L’Oréal-UNESCO For Women in Science mempunyai misi untuk mengakui, menyemangati, dan mendukung wanita di bidang sains. Sehingga semangat perempuan di bidang sains meningkat.
Program ini telah memberikan fellowship kepada 59 ilmuwan perempuan di Indonesia. Kedua pemenang masing-masing akan menerima pendanaan sebesar 100 juta rupiah dari L’Oréal Indonesia untuk mewujudkan penelitiannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)