FITNESS & HEALTH

Pemahaman Plasma Masih Rendah, Kemenkes Dorong Kolaborasi

Aulia Putriningtias
Kamis 08 Oktober 2026 / 19:22
Ringkasnya gini..
  • Pemahaman donor plasma di Indonesia masih rendah.
  • Kemenkes mendorong kolaborasi untuk memperkuat ekosistem plasma dan ketersediaan produk obat derivat plasma.
  • akeda menjadikan pengalaman dan keahlian globalnya dalam pengumpulan dan pengolahan plasma untuk mendukung penguatan infrastruktur plasma di Indonesia.
Jakarta: Pemahaman donor plasma masih rendah dibandingkan donor darah. Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong terus kolaborasi antarsektor.

Plasma sendiri merupakan komponen penting dalam darah yang dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Hal ini untuk mendukung perawatan pasien dengan berbagai kondisi medis, salah satunya hemofilia. 

Namun, plasma berasal dari manusia sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada kontribusi donor plasma. Selain itu, juga dengan sistem pengambilan plasma yang aman dan andal. 
 

Oleh karena itu, keberlanjutan ketersediaan PODP membutuhkan ekosistem yang kuat dan terintegrasi. Tentunya ini perlu menghubungkan donor plasma, pengambilan plasma, pengolahan plasma, layanan kesehatan oleh tenaga medis, hingga pasien.

Untuk itu, Takeda dan Kemenkes menjalin kolaborasi melalui tema "Plasma Powers Possibility" lewat International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026. IPAW 2026 menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan mendorong dukungan secara penuh.

Terkait donor plasma, Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K) menilai kampanye donor plasma nasional perlu didorong. Hal ini untuk menjaga keberlanjutan suplai donor.

"Jangan lupakan tentang kampanyean donor plasma nasional. Artinya apa, bahwa kampanye donor plasma ini menjadi sangat penting, karena sebenarnya kita sekarang baru memulai untuk donor plasma," katanya dalam konferensi pers, Rabu, 7 Oktober 2026.

Menurut Teguh, meskipun terdapat syarat usia, tetapi donor plasma perlu diedukasi sejak dini. Hal yang perlu digaris bawahi adalah donor mencakup pengambilan plasma saja, kemudian darah kembali mengalir di tubuh pendonor.

Ia melanjutkan bahwa plasma tidak hanya dibutuhkan saat segar. Bisa juga melalui Plasma Beku Segar (Fresh Frozen Plasma atau FFP) dan Cryoprecipitate. Bagian ini juga dapat diolah albumin, imunoglobulin seperti IVIG dan SCIG, faktor koagulasi (FVIII,FIX,PCC), produk lain (AT, Fibrinogen, Protein C, dan lain-lain) kemudian menjadi PODP.

PODP sendiri salah satunya dapat membantu terapi dalam sejumlah penyakit. Mulai dari pemberian albumin melalui infus dapat menjadi salah satu pilihan terapi untuk meningkatkan kadar albumin pada pasien dengan hipoalbumin.
 

Donor plasma akan terus dibutuhkan


Sebelumnya, terdapat dua jenis plasma, pertama recovered plasma, yakni plasma yang dipisahkan dari darah lengkap (whole blood), yang terdiri atas sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan plasma. Ada juga source plasma, yaitu plasma yang diambil langsung dengan mesin khusus, dan komponen-komponen darah yang lainnya dikembalikan ke tubuh.

Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat, dr. Linda Lukitari Waseso mengatakan bahwa kedepannya donor plasma akan sangat dibutuhkan. Jenis recovered plasma sendiri menurut laporannya, banyak dibuang bagian plasmanya.
 
IPAW
Takeda dan Kemenkes menjalin kolaborasi melalui tema "Plasma Powers Possibility" lewat International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026. Dok. Aulia/Medcom


Ia menjelaskan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mewajibkan adanya pemeriksaan nucleic acid test (NAT) untuk pemeriksaan masa jendela dari virus apabila mau mengolah plasma menjadi PODP.

Dalam proses donasi atau donor, Plasma yang akan menjadi PODP sangat kecil, kurang lebih 200–300 mililiter. Hal ini sangat tergantung volume yang diambil.

"Rata-rata orang Indonesia itu 350. Nah itu biasanya kurang lebih bisa 150-180. Biasanya kalau di atas 450 mili dari whole bloodnya itu bisa di atas 200 atau 200 lebih, jadi sangat sedikit," jelas dr. Linda.

Kolaborasi antara layanan darah dan plasma dengan berbagai pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mendukung penanganan pasien yang membutuhkan PODP. Keberadaan donor plasma, praktik pengambilan yang aman, serta layanan darah dan plasma yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung ketersediaan plasma.
 

Takeda dukung penuh penguatan infrastruktur plasma


Sebagai bagian dari upaya tersebut, Takeda menjadikan pengalaman dan keahlian globalnya dalam pengumpulan dan pengolahan plasma untuk mendukung penguatan infrastruktur plasma di Indonesia. 

Melalui jaringan BioLife di berbagai negara, Takeda akan mendukung pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia. Hal ini dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences, menyampaikan bahwa PODP memiliki peran penting dalam mendukung pasien yang hidup dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa. 

Di Indonesia, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan mendukung pengembangan ekosistem plasma yang berkelanjutan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan. 

"Dengan pengalaman dan keberadaan Takeda di Indonesia, kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung prioritas kesehatan jangka panjang Indonesia," imbuh Andreas.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH