FITNESS & HEALTH
5 Kebiasaan yang Bisa Menghambat Cara Berpikir
A. Firdaus
Selasa 13 Oktober 2026 / 13:26
- Kenali lima kebiasaan yang dapat menghambat cara berpikir, mulai dari sulit menerima kritik hingga malas memeriksa fakta.
- Intelligence quotient (IQ) merupakan ukuran kemampuan kognitif yang dinilai melalui tes psikologis terstandar.
- Ada sejumlah kebiasaan yang dapat menghambat proses berpikir kritis dan membuat seseorang lebih rentan mengambil keputusan yang kurang tepat.
Jakarta: Pernah bertemu seseorang yang selalu merasa paling benar, sulit menerima masukan, atau berulang kali melakukan kesalahan yang sama? Kebiasaan seperti ini mungkin membuat seseorang terlihat kurang bijak saat mengambil keputusan. Namun, apakah perilaku tersebut berarti orang itu memiliki IQ rendah?
Jawabannya, belum tentu. Intelligence quotient (IQ) merupakan ukuran kemampuan kognitif yang dinilai melalui tes psikologis terstandar. Menurut American Psychological Association (APA), kecerdasan mencakup kemampuan memahami informasi, belajar dari pengalaman, beradaptasi, serta menggunakan penalaran. Karena itu, IQ tidak bisa disimpulkan hanya dari kebiasaan sehari-hari.
Meski begitu, ada sejumlah kebiasaan yang dapat menghambat proses berpikir kritis dan membuat seseorang lebih rentan mengambil keputusan yang kurang tepat. Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bisa dievaluasi dan diperbaiki.
Berikut lima kebiasaan yang patut diwaspadai.
Salah satu kebiasaan yang bisa menghambat proses belajar adalah merasa pendapat sendiri selalu benar. Ketika mendapat kritik atau masukan, seseorang langsung bersikap defensif tanpa mempertimbangkan apakah ada hal yang bisa dipelajari.
Padahal, menerima informasi yang berbeda merupakan bagian penting dari proses berpikir kritis. Seseorang perlu bersedia mengevaluasi pendapatnya ketika menemukan bukti baru yang lebih kuat.
Kebiasaan ini juga berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki. Bias tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan fakta yang bertentangan dengan pendapatnya.
Untuk mengatasinya, cobalah mendengarkan kritik sampai selesai, memeriksa bukti yang disampaikan, dan tidak terburu-buru menganggap perbedaan pendapat sebagai serangan pribadi.
Keputusan yang dibuat secara terburu-buru terkadang terasa lebih mudah. Namun, tanpa mempertimbangkan informasi dan kemungkinan akibatnya, seseorang bisa melewatkan risiko penting.
Contohnya, membeli barang mahal karena sedang tren tanpa memikirkan kebutuhan dan kemampuan finansial. Contoh lain adalah menyebarkan informasi di media sosial hanya karena judulnya terlihat meyakinkan, tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu.
Dalam psikologi, proses pengambilan keputusan dapat dipengaruhi oleh berbagai bias kognitif. Bias tersebut bisa membuat seseorang terlalu mengandalkan informasi tertentu atau mengambil jalan pintas dalam menilai situasi.
Salah satu cara memperbaikinya adalah memberi jeda sebelum mengambil keputusan penting. Kumpulkan informasi yang relevan, bandingkan pilihan, dan pikirkan konsekuensi jangka pendek maupun panjang.
Setiap orang pernah membuat keputusan yang keliru. Namun, jika kesalahan yang sama terus berulang tanpa evaluasi, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki strategi dan cara berpikirnya.
Misalnya, terus menggunakan cara belajar yang tidak efektif meskipun hasilnya kurang memuaskan. Atau, berulang kali terlibat dalam konflik yang sama tanpa mencoba memahami penyebabnya.
Belajar dari pengalaman merupakan salah satu unsur penting dalam kemampuan berpikir dan beradaptasi. APA juga memasukkan kemampuan belajar dari pengalaman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sebagai bagian dari pengertian kecerdasan.
Untuk membangun kebiasaan yang lebih baik, cobalah mengevaluasi apa yang tidak berjalan sesuai rencana, faktor apa yang memengaruhinya, dan perubahan apa yang dapat dilakukan pada kesempatan berikutnya.
Informasi kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membuat seseorang perlu lebih cermat dalam membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum terbukti.
Kebiasaan langsung mempercayai informasi tanpa memeriksa sumbernya dapat memicu kesimpulan yang keliru. Apalagi jika informasi tersebut sesuai dengan keyakinan pribadi atau dibagikan oleh orang yang dipercaya.
Kemampuan berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat seseorang memahami informasi, tetapi juga bagaimana ia menilai kualitas bukti dan mempertimbangkan penjelasan alternatif.
Karena itu, biasakan memeriksa sumber asli, membandingkan informasi dari sumber tepercaya, serta membedakan klaim yang sudah terbukti dari dugaan. Jika bukti belum cukup, tidak ada salahnya menunda kesimpulan.
Merasa nyaman dengan rutinitas merupakan hal yang wajar. Namun, jika seseorang selalu menolak pengalaman baru dan tidak bersedia mempelajari keterampilan berbeda, kesempatan untuk memperluas pengetahuan bisa menjadi terbatas.
Belajar hal baru tidak harus selalu melalui pendidikan formal. Membaca buku, mempelajari keterampilan digital, mencoba menyelesaikan masalah dengan pendekatan berbeda, atau berdiskusi dengan orang yang memiliki sudut pandang lain dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Kemampuan beradaptasi dan menggunakan penalaran untuk menghadapi situasi merupakan bagian dari konsep kecerdasan menurut APA.
Mulailah dengan langkah sederhana, seperti membaca topik yang belum dikenal, mengajukan pertanyaan, atau mencoba metode baru ketika menghadapi masalah. Tujuannya bukan untuk membuktikan diri lebih pintar daripada orang lain, melainkan memperluas pemahaman dan meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan.
Lima kebiasaan di atas bukan tanda pasti seseorang memiliki IQ rendah. Perilaku manusia dipengaruhi banyak faktor, termasuk pengalaman, lingkungan, pengetahuan, emosi, dan situasi yang sedang dihadapi.
Seseorang yang terburu-buru mengambil keputusan, misalnya, belum tentu memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Ia mungkin sedang mengalami tekanan, kelelahan, atau kekurangan informasi.
Hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengevaluasi diri, menerima masukan, dan memperbaiki cara mengambil keputusan. Dengan begitu, seseorang dapat mengembangkan pola pikir yang lebih terbuka dan terarah tanpa harus memberi label kecerdasan kepada dirinya sendiri maupun orang lain.
(FIR)
Jawabannya, belum tentu. Intelligence quotient (IQ) merupakan ukuran kemampuan kognitif yang dinilai melalui tes psikologis terstandar. Menurut American Psychological Association (APA), kecerdasan mencakup kemampuan memahami informasi, belajar dari pengalaman, beradaptasi, serta menggunakan penalaran. Karena itu, IQ tidak bisa disimpulkan hanya dari kebiasaan sehari-hari.
Meski begitu, ada sejumlah kebiasaan yang dapat menghambat proses berpikir kritis dan membuat seseorang lebih rentan mengambil keputusan yang kurang tepat. Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bisa dievaluasi dan diperbaiki.
Berikut lima kebiasaan yang patut diwaspadai.
1. Merasa Selalu Benar dan Sulit Menerima Kritik
Salah satu kebiasaan yang bisa menghambat proses belajar adalah merasa pendapat sendiri selalu benar. Ketika mendapat kritik atau masukan, seseorang langsung bersikap defensif tanpa mempertimbangkan apakah ada hal yang bisa dipelajari.
Padahal, menerima informasi yang berbeda merupakan bagian penting dari proses berpikir kritis. Seseorang perlu bersedia mengevaluasi pendapatnya ketika menemukan bukti baru yang lebih kuat.
Kebiasaan ini juga berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki. Bias tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan fakta yang bertentangan dengan pendapatnya.
Untuk mengatasinya, cobalah mendengarkan kritik sampai selesai, memeriksa bukti yang disampaikan, dan tidak terburu-buru menganggap perbedaan pendapat sebagai serangan pribadi.
2. Mengambil Keputusan Tanpa Mempertimbangkan Konsekuensi
Keputusan yang dibuat secara terburu-buru terkadang terasa lebih mudah. Namun, tanpa mempertimbangkan informasi dan kemungkinan akibatnya, seseorang bisa melewatkan risiko penting.
Contohnya, membeli barang mahal karena sedang tren tanpa memikirkan kebutuhan dan kemampuan finansial. Contoh lain adalah menyebarkan informasi di media sosial hanya karena judulnya terlihat meyakinkan, tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu.
Dalam psikologi, proses pengambilan keputusan dapat dipengaruhi oleh berbagai bias kognitif. Bias tersebut bisa membuat seseorang terlalu mengandalkan informasi tertentu atau mengambil jalan pintas dalam menilai situasi.
Salah satu cara memperbaikinya adalah memberi jeda sebelum mengambil keputusan penting. Kumpulkan informasi yang relevan, bandingkan pilihan, dan pikirkan konsekuensi jangka pendek maupun panjang.
3. Tidak Mau Belajar dari Kesalahan
Setiap orang pernah membuat keputusan yang keliru. Namun, jika kesalahan yang sama terus berulang tanpa evaluasi, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki strategi dan cara berpikirnya.
Misalnya, terus menggunakan cara belajar yang tidak efektif meskipun hasilnya kurang memuaskan. Atau, berulang kali terlibat dalam konflik yang sama tanpa mencoba memahami penyebabnya.
Setiap orang pernah membuat kesalahan, tapi bukan berarti menyerah pada keadaan. Ilustrasi Magnific
Belajar dari pengalaman merupakan salah satu unsur penting dalam kemampuan berpikir dan beradaptasi. APA juga memasukkan kemampuan belajar dari pengalaman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sebagai bagian dari pengertian kecerdasan.
Untuk membangun kebiasaan yang lebih baik, cobalah mengevaluasi apa yang tidak berjalan sesuai rencana, faktor apa yang memengaruhinya, dan perubahan apa yang dapat dilakukan pada kesempatan berikutnya.
4. Malas Memeriksa Fakta dan Mudah Percaya Informasi
Informasi kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membuat seseorang perlu lebih cermat dalam membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum terbukti.
Kebiasaan langsung mempercayai informasi tanpa memeriksa sumbernya dapat memicu kesimpulan yang keliru. Apalagi jika informasi tersebut sesuai dengan keyakinan pribadi atau dibagikan oleh orang yang dipercaya.
Kemampuan berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat seseorang memahami informasi, tetapi juga bagaimana ia menilai kualitas bukti dan mempertimbangkan penjelasan alternatif.
Karena itu, biasakan memeriksa sumber asli, membandingkan informasi dari sumber tepercaya, serta membedakan klaim yang sudah terbukti dari dugaan. Jika bukti belum cukup, tidak ada salahnya menunda kesimpulan.
5. Menghindari Hal Baru dan Tidak Mau Mengembangkan Diri
Merasa nyaman dengan rutinitas merupakan hal yang wajar. Namun, jika seseorang selalu menolak pengalaman baru dan tidak bersedia mempelajari keterampilan berbeda, kesempatan untuk memperluas pengetahuan bisa menjadi terbatas.
Belajar hal baru tidak harus selalu melalui pendidikan formal. Membaca buku, mempelajari keterampilan digital, mencoba menyelesaikan masalah dengan pendekatan berbeda, atau berdiskusi dengan orang yang memiliki sudut pandang lain dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Kemampuan beradaptasi dan menggunakan penalaran untuk menghadapi situasi merupakan bagian dari konsep kecerdasan menurut APA.
Mulailah dengan langkah sederhana, seperti membaca topik yang belum dikenal, mengajukan pertanyaan, atau mencoba metode baru ketika menghadapi masalah. Tujuannya bukan untuk membuktikan diri lebih pintar daripada orang lain, melainkan memperluas pemahaman dan meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan.
Kebiasaan Bisa Berubah, IQ Tidak Bisa Dinilai dari Perilaku Saja
Lima kebiasaan di atas bukan tanda pasti seseorang memiliki IQ rendah. Perilaku manusia dipengaruhi banyak faktor, termasuk pengalaman, lingkungan, pengetahuan, emosi, dan situasi yang sedang dihadapi.
Seseorang yang terburu-buru mengambil keputusan, misalnya, belum tentu memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Ia mungkin sedang mengalami tekanan, kelelahan, atau kekurangan informasi.
Hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengevaluasi diri, menerima masukan, dan memperbaiki cara mengambil keputusan. Dengan begitu, seseorang dapat mengembangkan pola pikir yang lebih terbuka dan terarah tanpa harus memberi label kecerdasan kepada dirinya sendiri maupun orang lain.
(FIR)